Wednesday, May 12, 2010

Satu Jam di Penghujung Pagi


Thursday, December 10, 2009
Satu jam menjelang tengah hari. Aura rush – hours metropolis menyebar ke penjuru. Rutinitas berkejaran dengan matahari. Warnanya menembus salah satu gedung tertinggi di jantung kota Jakarta. Sinarnya menyusup lewat celah tirai jendela ke sebuah ruangan yang dibangun dengan biaya di atas 200 juta rupiah, termasuk perabot didalamnya. Modern dan minimalis, begitu istilah desainer ruangan ini menyebutkannya dulu.
Endita duduk dengan santai di kursi kerjanya. Memandang tiap sudut ruang yang sangat apik, yang ia tata bersama seorang pria yang dikenalnya pada masa akhir perkuliahannya beberapa tahun silam. Endita tersenyum simpul, mengingat pertemuannya dengan Raka, pria yang konon banyak digandrungi oleh wanita – wanita pada jamannya. Selain ganteng dan tubuh yang proporsional, Raka pun mempunyai kondisi financial yang sangat prima. Tapi bukan itu tujuan Endita, baginya Raka adalah sosok yang tepat untuk di built – in. Karena ia sadar betul sebetulnya Raka adalah seorang pria yang smart dan multi talent. Dan Raka – lah yang bisa membuat dirinya sesukses sekarang.
Tiba – tiba reminder – nya berbunyi. Endita segera ingat bahwa siang ini harus ia lewati dengan meeting dan dealing pembuatan profil dirinya serta launching karya tulis tunggalnya. Segera ia masukkan laptop ke dalam tasnya dan meraih kunci mobil di atas meja. Endita lebih suka menyetir sendiri. Lebih bebas dan leluasa. Lagipula menyetir membuatnya sedikit berolahraga meski hanya seputar otot jari tangan dan kaki. Jadwal aerobic dengan instruktur pribadinya belum seimbang dengan kebutuhan staminanya. Itu sebabnya menyetir mobil membuatnya bersemangat. Di dalam lift yang membawanya turun, Endita mengingat – ingat kapan terakhir kali ia memakai jasa supir pribadi. Kalau tidak salah enam bulan yang lalu. Pak Mien namanya. Lelaki tua yang baik dan sopan. Namun itulah yang membuat Endita merasa tidak nyaman. Bahkan ketika Endita ingin merokok, dengan segan ia meminta ijin Pak Mien lebih dulu untuk membuka kaca jendelanya. Terlalu banyak basa basi. Akhirnya Endita memutuskan untuk melepaskan Pak Mien. Lalu Nur, istri Pak Mien ia minta bantu untuk membuka usaha jahitan di rumah mereka. Sampai akhirnya ia memberi modal Pak Mien untuk membuka bengkel sendiri. Setelah keluarga Pak Mien cukup mapan serta sibuk dengan aktifitas primer yang mulai banyak menyita waktu mereka, Endita pun mulai memberhentikan Pak Mien.
Dan sekarang, sampailah Endita di pelataran parkir, tepat di samping Jaguar hitam yang harus ia kemudikan sendiri.
Cuaca di luar panas sekali. Ironis sebenarnya dengan suasana di dalam mobil. Lantunan One More Time dari Lionel Richie serta kaleng coffee cream dingin membuatnya rileks. Di sisi jalan, ia melihat seorang gadis yang wajahnya merah terbakar sinar matahari. Gadis itu mendekap diktat kuliah sambil sesekali menyeka keringatnya. Endita seolah melihat dirinya beberapa tahun silam. Berpanas – panas di pinggir jalan untuk menunggu kendaraan umum yang akan mengantarnya ke kampus. Dunia individualitas yang pertama kali ia kenal. Di sana semua orang berlomba – lomba meraih Indeks Prestasi tertinggi dan mengerjakan tugas sendiri, dan itu dilakukannya secara continue sampai ia meraih gelar Magister – nya. Satu – satunya moment social yang ia dapatkan adalah ketika Endita dan teman – temannya melewati malam bersama – sama di sebuah kafe atau nite club sambil mendengarkan live music ataupun DJ. Sesekali menolong teman yang mabuk berat untuk pulang ke rumahnya, tapi sesekali juga Endita pulang ke kost – kostan nya dalam keadaan mabuk. Itulah satu – satunya sisi humanis yang Endita dapatkan. Endita pun jenuh. Akhirnya ia mengurang frekuensi hang – out bersama mereka. Endita sadar, rutinitasnya tidak sehat. Endita pun terbiasa mengalihkan keinginannya untuk ngafe or something’ dengan pergi ke tempat ngopi yang lebih cozzy hanya untuk sekedar menikmati secangkir machiatto sambil membicarakan segala hal dengan komunitasnya yang baru, komunitas yang lebih sehat tentunya.
Waktu pun berjalan. Endita Winata, gadis mapan berusia 28 tahun, sudah mencapai segala hal yang diharapkan oleh banyak orang. Studi S-3 nya pun sudah memasuki tahap finishing. Kariernya melesat. Meski ia adalah putri bungsu di keluarganya, Endita sudah terbiasa untuk merencanakan, melakukan serta membuat kesimpulan – kesimpulan hidupnya sendiri. Segala yang terjadi atas hidupnya adalah mutlak hasil karya dan tanggungjawabnya. Ia mewujudkan segala keberhasilan dalam hidupnya, semata – mata ingin membuktikan kepada mereka semua bahwa ia mampu. Semua yang ada di dekatnya haruslah menjadi yang paling sempurna. Meskipun Endita pernah tenggelam dalam kegagalan, tapi ia berkonsekuensi tinggi memegang janjinya untuk sukses dalam menata kehidupan selanjutnya.
Endita memarkir mobilnya di pelataran VIP. Dengan tergesa ia melangkah mantap memasuki lobby utama hotel bintang lima tersebut. Lima belas menit lagi ia akan behadapan dengan tiga orang klien asing yang membutuhkannya. Masing – masing dari mereka mewakili Jepang, Korea dan Amerika. Diskusi pun berlangsung singkat, Endita yakin, preposition yang ia berikan sudah lebih dari cukup, selain itu, para klien – nya sangatlah efisien terhadap waktu.
Semua berjalan seperti yang ia duga, kecuali satu hal, Mr. Andrew, kliennya dari Amerika. Beliau sempat menyodorkan sebuah memo pada saat lunch break yang berisi tawaran dinner di salah satu kafe bernuansa klasik di kawasan Thamrin. Saat itu Endita hanya tersenyum tanpa menjawab apapun. Tentunya Endita telah memiliki tambatan hati yang sudah ia lewati selama kurang lebih enam tahun bersama Raka. Setelah berbasa – basi, Endita memberikan jawabannya pada saat closing meeting. Ia berkata, “Malam ini saya akan mengadakan Sosialisasi Rancangan Undang – undang mengenai Kesetaraan Gender Dalam Perdagangan Bisnis Internasional. Undangan akan saya kirim lewat fax setelah ini. Saya harap anda semua dapat hadir di sana. Meeting saya akhiri. Selamat siang.” Setelah itu mereka semua bersalaman, termasuk Mr. Andrew yang lantas menganggukkan kepala tanda hormat kepadanya.
Endita meluncurkan mobilnya menuju kantor advertising di Selatan Jakarta. Ia harus menandatangani kontrak pembuatan profile dirinya dalam format CD interactive, sehingga ketika ia harus menemui klien baru yang lebih dari satu orang pada saat yang sama, maka yang tidak bisa ia temui harus berbesar hati untuk melihat profil CD – nya saja. Simple dan efisien.
Kesepakatan pun berlangsung cepat. Salon dan spa sudah menanti untuk special treatment yang telah ia booking sejak tiga hari yang lalu. Tiga jam di salon serasa seabad bagi wanita yang high dinamyc seperti dirinya. Namun untuk hasil yang maksimal, rasanya tak apa.
Alunan musik komposisi etnik jazz yang dimainkan oleh grup musik Tepellere, mengalun lembut mengiring santap malam para tamu undangan di Anantas café & gallery.
Satu jam yang lalu, Endita Winata, wanita karier yang sukses sebagai Konsultan Hukum Bisnis International, baru saja memberikan pidato sambutan kepada seluruh tamu yang hadir pada acara sosialisasi produk hukum yang bisa dikatakan sangat inovatif itu. Sekarang, dengan anggun dan percaya diri. Endita Winata berdiri di antara para wartawan yang haus berita. Dengan teknik seperti biasa menghadapi para kliennya, setiap pertanyaan ia jawab dengan sorot mata yang tajam dan cerdas. Ada suspense yang terpancar kuat dari sosoknya. Sempurna.
Tak terasa malam mulai turun menggayut bumi. Bintang – bintang bersinar seolah berebut mencari makna mengisi kekosongan semesta. Sekarang pukul satu dini hari. Sang bintang yang sesungguhnya sudah tiba di apartemennya. Sekilas lantunan etnik jazz dan blitz kamera masih terlintas di benaknya. Kasurnya tertata rapi, empuk dan hangat. Endita Winata menoleh ke samping tempat tidur, ia memandangi gambar diri sang arjuna yang sudah hampir empat bulan menyelesaikan proyek keluarganya di Melbourne. Tatapan Endita dipenuhi rasa rindu dan galau. Tatapannya seolah ingin mengatakan sesuatu. Di sebelah foto Raka tersimpan kalender meja dan sebuah pena. Endita meraih kelender dan pena tersebut, lalu membuat tanda silang tepat pada tanggal dan hari itu. Terdapat kurang lebih seratus delapan belas tanda silang yang serupa dengan sebelumnya. Sudah hampir lima bulan, sebulan setelah kepergian Raka ke Melbourne. Endita melakukan general check up pada salah satu rumah sakit swasta terkemuka di bilangan Bintaro. Endita Winata meraih laptop nya lantas membuka salah satu folder pribadinya. Lalu ia mulai menulis :
Malam ini, satu hari terlewati sudah. Kanker ganas itu belum membunuhku. Bagaimana aku mengatakan ini semua kepada Raka nanti ? Aku belum ingin kalah, Tuhan. Setidaknya, belum untuk saat ini. Endita Winata menarik nafas panjang. Jemari mungilnya bergetar. Matanya terpejam. Pipinya basah.

-W.P-