Kabut putih dan
gemercik hujan merambat pelan diantara daun-daun, tarian rintik
hujan diatas aspal mulai berkurang. Langkahku tak sedikitpun terhenti, meskipun
harapan untuk menemukan kedamain dengan berjalan ditrotoar yang basah dan
bergenang adalah hal yang mungkin sia-sia. Tentu juga sangat berlebihan jika mencari
kedamain hanya dengan berjalan diatas trotoar, namun menikmati sore selepas hujan di
kota ini sungguh hal yang sangat menyenangkan, itu saja pikirku.
Deru-deru mesin,
percikan air dari roda-roda kendaraan, pekikan klakson yang tak pernah bisa
sopan. Beberapa pasang rusa sedang bercinta, rusa-rusa lain tak hentinya
melumat rumput basah, juga beberapa makhluk hidup lainya yang tak mau
memperlihatkan batang hidungnya. Hujan sore ini tak seperti biasanya, atau
barangkali aku yang lupa rasa, setelah sekian lama tak menikmati rintik hujan
kota ini.
Bocah lelaki berjalan
riang, ia memunguti beberapa titik air hujan, segera aku bertanya kepadanya, apa
yang kamu ambil itu ?, dengan riang ia menjawab, “sebuah pesan kak”.
Dahiku mengernyit, pesan
dari siapa?, tanyaku kembali, “dari
ayahku”, jawabnya. “Ayahku selalu
mengirim pesan lewat rintik hujan, kadang ayahku juga bernyanyi bersama rintik
hujan.” Akupun tertawa, kemudian bergumam, sejak kapan rintik hujan membawa
pesan. Bocah kecil menyahut, “kakak akan
segera tahu.”
Hujan sudah reda setengah
jam yang lalu, namun rintiknya belum juga pudar, ia terus berjatuhan, yang lain berganti embun. Segera kutinggalkan bocah kecil tadi, aku bergegas melewati trotoar hutan ditengah kota, cerita soal rintik hujan yang membawa pesan dari
langit sudah sering aku dengar di kota ini. Namun aku tak pernah sedikitpun
menggubrisnya, yaa..biasa saja, yang aku tahu kota ini punya magnet, kamu tak akan pernah bisa
benar-benar pergi dari kota ini, meskipun ragamu kelangit sekalipun, hatimu
akan tetap tinggal di kota ini.
Hari ini aku memakai
jaket tebal yang berbahan parasut, hujan di kota ini bisa turun kapan saja, selain
jaket berbahan parasut, setidaknya payung harus selalu kamu bawa. Dari kejauhan
seorang nenek tua dengan tubuh kuyup memunguti rintik hujan, sesekali ia berlari
ketengah jalanan beraspal. Nenek ini sudah gila rupanya, pikirku.
Hei nenek, apa yang
kamu lakukan disitu, janganlah kamu ditengah jalan, teriakku. Ia segera
menjawab, “aku memungut pesan dari
suamiku”. suami macam apa itu, mengrim pesan ditengah jalan raya, umpatku. Tak
lama kemudian, nenek tua tadi berjalan menuju tempatku berdiri, ia segera
menepuk pundakku, dengan nafas yang mulai jarang ia berkata, “aku tak boleh sekalipun melewatkan pesan
dari suamiku, sudah cukup lama ia tak mengirim pesan untukku. Sejak ia mati
hanya beberapa waktu ia mengirim pesan untukku, kali ini tak akan aku
sia-siakan.” Kalau boleh tahu, pesan apa yang nenek dapatkan? yang kulihat hanya
rintik hujan terpental diatas aspal, lalu nenek punguti, kemudian nenek
tersenyum melihat telapak tangan nenek sendiri. “Suamiku rindu denganku”, nenek tua itu menjawab.
Aku semakin tak
mengerti dengan hujan di kota ini, pikiranku mulai tidak karuan, segera aku
rogoh kantong celanaku, sebatang rokok mungkin bisa menenangkanku. Tidak semudah
itu rupanya, pikiranku terus meracau, dalam benakku apa yang terjadi kepada
bocah kecil dan nenek tua tadi, rupanya waktu tidak melulu bisa melupakan,
ketidakpedulian berperan besar dalam hal melupakan. Lalu sejak kapan rintik hujan
kota ini merdu, sejak kita berimajinasi bahwa rintik hujan adalah gelombang suara
yang bersenandung.
Belum juga rokok
dijariku habis kuhisap, mataku terus disajikan pemandangan yang sangat ganjil,
setiap orang yang aku jumpai selalu tersenyum dengan raut wajah penuh tangisan bahagia,
saat melihat telapak tangan mereka, rupanya hal yang sama, rintik hujan yang
berjatuhan dari langit membawa pesan untuk mereka.
……mungkinkah ia
mengirim pesan untukku, genap tiga tahun ia pergi.