Monday, November 9, 2015

Rintik Hujan #1


     Kabut putih dan gemercik hujan merambat pelan diantara daun-daun, tarian rintik hujan diatas aspal mulai berkurang. Langkahku tak sedikitpun terhenti, meskipun harapan untuk menemukan kedamain dengan berjalan ditrotoar yang basah dan bergenang adalah hal yang mungkin sia-sia. Tentu juga sangat berlebihan jika mencari kedamain hanya dengan berjalan diatas trotoar, namun menikmati sore selepas hujan di kota ini sungguh hal yang sangat menyenangkan, itu saja pikirku.

     Deru-deru mesin, percikan air dari roda-roda kendaraan, pekikan klakson yang tak pernah bisa sopan. Beberapa pasang rusa sedang bercinta, rusa-rusa lain tak hentinya melumat rumput basah, juga beberapa makhluk hidup lainya yang tak mau memperlihatkan batang hidungnya. Hujan sore ini tak seperti biasanya, atau barangkali aku yang lupa rasa, setelah sekian lama tak menikmati rintik hujan kota ini.

     Bocah lelaki berjalan riang, ia memunguti beberapa titik air hujan, segera aku bertanya kepadanya, apa yang kamu ambil itu ?, dengan riang ia menjawab, “sebuah pesan kak”.
Dahiku mengernyit, pesan dari siapa?, tanyaku kembali, “dari ayahku”, jawabnya. “Ayahku selalu mengirim pesan lewat rintik hujan, kadang ayahku juga bernyanyi bersama rintik hujan.” Akupun tertawa, kemudian bergumam, sejak kapan rintik hujan membawa pesan. Bocah kecil menyahut, “kakak akan segera tahu.”

     Hujan sudah reda setengah jam yang lalu, namun rintiknya belum juga pudar, ia terus berjatuhan, yang lain berganti embun. Segera kutinggalkan bocah kecil tadi, aku bergegas melewati trotoar hutan ditengah kota, cerita  soal rintik hujan yang membawa pesan dari langit sudah sering aku dengar di kota ini. Namun aku tak pernah sedikitpun menggubrisnya, yaa..biasa saja, yang aku tahu kota ini punya magnet, kamu tak akan pernah bisa benar-benar pergi dari kota ini, meskipun ragamu kelangit sekalipun, hatimu akan tetap tinggal di kota ini.

     Hari ini aku memakai jaket tebal yang berbahan parasut, hujan di kota ini bisa turun kapan saja, selain jaket berbahan parasut, setidaknya payung harus selalu kamu bawa. Dari kejauhan seorang nenek tua dengan tubuh kuyup memunguti rintik hujan, sesekali ia berlari ketengah jalanan beraspal. Nenek ini sudah gila rupanya, pikirku.

     Hei nenek, apa yang kamu lakukan disitu, janganlah kamu ditengah jalan, teriakku. Ia segera menjawab, “aku memungut pesan dari suamiku”. suami macam apa itu, mengrim pesan ditengah jalan raya, umpatku. Tak lama kemudian, nenek tua tadi berjalan menuju tempatku berdiri, ia segera menepuk pundakku, dengan nafas yang mulai jarang ia berkata, “aku tak boleh sekalipun melewatkan pesan dari suamiku, sudah cukup lama ia tak mengirim pesan untukku. Sejak ia mati hanya beberapa waktu ia mengirim pesan untukku, kali ini tak akan aku sia-siakan.” Kalau boleh tahu, pesan apa yang nenek dapatkan? yang kulihat hanya rintik hujan terpental diatas aspal, lalu nenek punguti, kemudian nenek tersenyum melihat telapak tangan nenek sendiri. “Suamiku rindu denganku”, nenek tua itu menjawab.

     Aku semakin tak mengerti dengan hujan di kota ini, pikiranku mulai tidak karuan, segera aku rogoh kantong celanaku, sebatang rokok mungkin bisa menenangkanku. Tidak semudah itu rupanya, pikiranku terus meracau, dalam benakku apa yang terjadi kepada bocah kecil dan nenek tua tadi, rupanya waktu tidak melulu bisa melupakan, ketidakpedulian berperan besar dalam hal melupakan. Lalu sejak kapan rintik hujan kota ini merdu, sejak kita berimajinasi bahwa rintik hujan adalah gelombang suara yang bersenandung.

    Belum juga rokok dijariku habis kuhisap, mataku terus disajikan pemandangan yang sangat ganjil, setiap orang yang aku jumpai selalu tersenyum dengan raut wajah penuh tangisan bahagia, saat melihat telapak tangan mereka, rupanya hal yang sama, rintik hujan yang berjatuhan dari langit membawa pesan untuk mereka.

……mungkinkah ia mengirim pesan untukku, genap tiga tahun ia pergi.