Saturday, November 12, 2016

Kue Bacang


Nama saya Koh Ang, meskipun itu bukan nama lengkap saya, namun setiap orang kerap memanggil saya dengan nama itu.


Bacang…bacang…bacang.

Jika ada orang yang paling sering menyerukan kata itu, sayalah orangnya, mungkin lebih sering menyerukan kata bacang dibandingkan menyerukan kata tuhan. Saya menjajakan kue bacang di daerah padat penduduk di pusat kota, tidak ada alasan khusus memang, yang jelas kue bacang saya lebih laku di jual dipemukiman padat dibanding daerah perkantoran atau perumahan mewah.

Bacang saya cukup enak, bahkan pelanggan saya sering memuji dengan kalimat “kue bacang yang terenak di jagad raya ini”, saya hanya tersenyum dan megernyitkan dahi tentu mata sipit saya sedikit tertutup sehingga mata saya terlihat merem, sedikit berlebihan memang, tetapi itu cukup membuat saya senang.


Bacang…bacang…bacang.

Saya selalu menjaga kualitas kue bacang saya, tentu dengan bahan-bahan pilihan pula, ini menjadi masalah khusus bagi saya, karena bahan-bahan yang baik tentu harganya mahal. Beras ketan saya dapatkan langsung pada agen beras di pasar induk, daging juga saya membelinya dari langganan di pasar induk, yang tentu jelas terjamin kesegarannya. Akan tetapi yang semakin sulit adalah mencari daun bambu, saya suka kepayahan mencarinya, malahan saya sring tidak berjualan kue bacang, karena tidak ada pasokan daun bambu. Sebenarnya daun bambu bisa diganti dengan daun pisang atau daun talas, namun hal itu akan merubah citarasa, dan hal itu yang sangat saya benci. Dan bumbu-bumbu lainya yang saya pilih dengan hati-hati, tentu kesemua ini adalah ajaran turun-temurun dari leluhurku, pembuat kue bacang yang sangat terkenal di kota Jakarta.


Bacang…bacang…bacang.

Beras ketan harus di rendam semalaman, alasanya? Saya sendiri tidak tahu alasan persisnya, namun saya pernah mencoba merendam hanya beberapa jam saja, hasilnya? Kue bacang saya keras, citarasanya nyeleneh, akhirnya saya tidak berani mencoba hal-hal yang sudah diturunkan oleh leluhurku. Membuat kaldu juga tidak asal-asalan, ukuran api harus pas, tidak boleh dengan apai terlalu kecil apalagi api yang terlalu besar, rumit…sangat rumit membuat kue bacang ini.


 *******

**Manusia seperti apa penikmat kue bacang ini ?

***Ini pertanyaan sulit, saya kira semua orang akan menikmati kue bacang, akan tetapi saya tidak menyarankan pembeli yang tidak mau memakan daging, karena bacang saya berisikan daging. Tapi kalau masalah halal atau tidaknya, sebenarnya tidak perlu meminta izin MUI, karena kue bacang saya sudah pasti dan seratus persen halal.


**Dari kalangan mana saja kue penikmat kue bacang ini ?

***Waduh, sejatinya sulit sekali saya menjawabnya, sebenarnya dari kalangan mana saja bisa kok menikmati kue bacang ini, namun kue bacang ini saya jual di daerah padat penduduk, yang sudah tentu tingkat ekonominya kurang begitu bagus, dan kue bacang sudah identik dengan kue “kalangan bawah”, karena harganya juga sangat terjangkau bagi kalangan bawah. Namun banyak juga kok orang-orang dengan penghasilan menengah sering menikmati kue bacang buatan saya. Kue bacang tidak kenal struktur sosial kok…hehe.


**Kue bacang buatan kamu ini sudah lama keberadaanya, namun dari dulu hanya “segini-segini” saja usahamu.

***Hahaha…saya mengerti maksudmu. Agak naïf sih saya jawabnya, siapa sih yang tidak mau usahanya berkembang besar, namun saya ingat pesan leluhur saya, kue bacang ini tidak bisa saya produksi secara massal/besar. Pernah saya coba membuat kue bacang dengan jumlah yang besar, hasilnya? Saya kualahan menjualnya, malah tidak habis.


**Kenapa tidak mencari pegawai baru?

***Belum, belum ada rencana…saya sendiri masih sanggup kok.


**Sorry koh, saya harus masuk kerja, sampai ketemu lagi ya koh, terimakasih kue bacangnya.

***Okay bang, selamat bekerja bang.



******
Bacang…bacang…bacang.

Begitulah kiranya kehidupan pagi saya, tadi bertemu dengan pegawai kantoran, banyak cerita tentang kue bacang. Lain waktu saya ceritakan kue bacang yang bertemu dengan  anak sekolah, mahasiswa, guru, pemuka agama, pejabat dan lainya.