Monday, December 21, 2015

Menunggu Van Gaal berteriak...Eureka!!

     Pernahkah melihat para filsuf bermain sepak bola?, permaianan sepak bola antara filsuf Jerman melawan filsuf Yunani. Pertandingan tersebut di pimpin oleh wasit asal Tiongkok, yaitu Confucius dengan menjinjing jam pasir, sedangkan Thomas Aquinas dan St. Augustine sebagai hakim garis. 

Tim Jerman : Gottfried Leibniz (Penjaga Gawang), Immanuel Kant, Georg "Nobby" Hegel (kapten), Arthur Schopenhauer, Friedrich Schelling, Franz Beckenbauer, Karl Jaspers, Karl Schlegel, Ludwig Wittgenstein, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger dan Karl Marx (pemain pengganti). 
Tim Yunani : Plato (Penjaga Gawang), Epictetus, Aristotle, Chopper Sophocles, Empedocles of Acragas, Plotinus, Epicurus, Heraklitus, Democritus, Socrates (Kapten) dan Archimedes.

Tentu saja kita tidak asing dengan susunan pemain diatas, pertandingan babak pertama diawali dengan tiupan pluit Confucius, sudah bisa kita prediksi pertandingan para filsuf ini sangat membosankan, mereka hanya berkutat dengan pemikiranya masing-masing. Bahkan seorang Beckenbauer pun tak bisa berbuat banyak…tapi tunggu, ada yang janggal disini, Beckenbauer kenapa masuk kedalam sekuat filsuf Jerman?. Dan sampai dengan turun minum sekor masih kosong-kosong.


Babak kedua dimulai, Friedrich Nietzsche terkena kartu kuning karena mengumpat wasit, "Confucius has no free will ujarnya, kemudian Confucius menjawab, "Name go in book". Dipinggir lapangan Marx tampak melakukan pemanasan dengan membawa buku Das Kapital bersampul merah, tidak lama kemudian Marx masuk kelapangan menggantikan Ludwig Wittgenstein. Pertandingan menyisakkan waktu kurang lebih satu menit, namun tiba-tiba Archimedes berteriak "Eureka!", dan tendangan pertama terhadap bola pun terjadi, ia mengumpan ke Socrates, kemudian dikembalikan umpan tersebut ke Archimedes, kemudian umpan terobosan kepada Heraklitus, sedikit umpan sentuhan dari Heraklitus kepada Archimedes, lalu didalam kotak pinalti Jerman, Archimedes mengumpan kepada Socrates, dengan sundulan Socrates menceploskan bola ke gawang Gottfried Leibniz….maka terjadilah gol.


Seketika Confucius yang memimpin jalannya pertandingan mendapatkan protes dari para pemain Jerman, 
Friedrich Hegel berdebat dan mengatakan bahwa, realitas hanyalah sebuah a priori yang bersifat tambahan pada etika non-naturalis. Immanuel Kant, melalui kewajiban moral yang tidak bersyarat (categorical imperative), menyatakan ontoligikal nyata hanya ada di dalam imajinasi, dan Marx mengklaim bahwa gol tersebut tidak sah, atau offside!!. Confucius tetap pada keputusannya, bahwa itu adalah sebuah gol yang sah, Karl Marx tampak marah dan membanting buku Das Kapitalnya. 

Begitulah kiranya jika para filsuf bermain sepak bola, mereka bersepekulasi dengan pikiran-pikirannya, dan serangkaian spekulasi berbuah pikiran yang bisa diandalkan, kemudian kesemua itu akan menjadi titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Pengetahuan sendiri dimulai dengan rasa ingin tahu, kemudian dari ragu-ragu munculah kepastian, dan filsafat dimulai dengan keduanya. Tentu saja itu adalah sebuah parodi, pertandingan yang dilakukan oleh para pelawak asal inggris yang tergabung dalam Monty Python, kita cukup terbahak saja melihatnya.



************


Lalu bagaimana dengan filosofi Van Gaal?, ada yang aneh dengan kedatangan menir dari negeri kincir angin ini, keanehan bagi publik Manchester dan khususnya bagi penggemar setan merah. Setelah pelatih tua Manchester United (Man United) pensiun dengan meninggalkan sederet prestasi, Sir Alex Ferguson digantikan pelatih yang juga berasal dari negri kelahirannya, David Moyes. Sejak saat itu Man United kehilangan tajinya, tim dengan pencapaian yang luar biasa serasa menjelma menjadi tim medioker, rekor demi rekor terpecahkan, tentu bukan rekor kemenangan. Belum genap satu musim Moyes lengser dari kursi kepelatihan Man United, Louis Van Gaal datang ke Old Trafford, harapan Man United dan penggemar sangat tinggi, dibarengi dengan belanja pemain yang sangat jorjoran.



(sumber gambar dari reuters)

Namun yang terjadi ialah Man United bermain tak sebagus yang diperkirakan, malah lebih buruk dari pencapaian Moyes. Boring-boring Man United…ucap seorang penggemar, baik melalui ucapan satir atau postingan di media sosial. Sepak bola modern adalah sepak bola instan, membangun tim dengan bergelimpang pemain bintang, tentu dengan suntikan dana dari para spekulan kaya, kemudian jadilah tim yang hebat, tidak perlu berfilsafat dalam sepak bola. Ah…mungkin ini sebuah tim parodi.


Statistik Man United (sumber dari Opta)
General
Defence
Distribution
Attack
Average Possession : 61%
Goals conceded : 37
Passing Accuracy : 85.1%
Total Shots (exc. blocked shots) : 368
Duels Won : 51.1%
Clean Sheets : 11
% of Passes Long : 13.9%
Shooting Accuracy (%) : 48.9%
Aerial duels won : 50.5%
Clearances : 1,118
Total Crosses : 727
Goals from Inside the Box : 55
Offsides :87
Tackles : 739
Successful crosses : 147
Goals from Outside the Box : 7

Blocks : 96

Goals from Direct Free Kicks : 2

Tackles Won : 74.15%



Ada tiga hal yang penting menurut saya, tentang filosofi Van Gaal :
Pertama, Van Gaal beraliran total football, dengan formasi 4-3-3 adalah pakemnya, yang juga menjadi dasar filosofi sepak bola ala Van Gaal. Namun yang terjadi malah Van Gaal sering kali bergonta-ganti formasi, ia seringkali bersepekulasi dengan pakemnya sendiri, dan diperparah dengan badai cidera para pemain Man united, beruntung Man United masih mempunyai penjaga gawang nomor wahid.

Kedua, Van Gaal paham betul dengan karakteristik para pemainnya, sejatinya ia suka dengan pemain yang multi fungsional. Ia tidak suka gaya permianan yang hanya menunggu bola kemudian mencetak gol, contohnya Javier Hernández, meskipun ia punya kemampuan penempatan diri yang sangat baik, Van Gaal tetap mendepaknya. Adnan Januzaj yang digadang-gadang menjadi pemain masadepan pun juga terbuang, Van Gaal tidak suka pemain egois. Sempat membuat panas para macunian, Danny Welbeck pun juga terdepak. Radamel Falcao, Di Maria, Robin van Persie juga ditendang.

Ketiga, sisi positifnya adalah beberapa pemain terpupuk karakternya, Chris Smalling bermain cukup gemilang, Marouane Fellaini, Ashley Young, dan Antonio Valencia bermain lebih cakap dari pada musim sebelum menir belanda ini melatih. Van Gaal juga seringkali menurunkan pemain muda Man United, Tyler Blackett dan Paddy McNair sering mendapat kesempatan bermain, tentu ini mempunyai nilai yang positif bagi regenerasi pemain muda Man United.

************

“I sometimes suspect myself of being more interested in playing the game, well... than in winning’ , dari pernyataan Van Gaal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Ia ingin menyajikan sepak bola sebagai hiburan yang enak ditonton. Sebuah permainan atraktif yang menghibur, dengan penguasaan bola melalui pemain tengah sebagai porosnya, yang bertugas mengalirkan bola ke setiap lini, dan setiap lini harus bisa berperan sebagaimana mestinya. Kemudian dengan penguasaan bola tersebut, barangkali mencari celah atau menunggu lawan untuk berbuat kesalahan, kemudian terjadilah sebuah gol. Dengan kata lain, Van Gaal mempunyai hutang moril kepada penonton jika permainan timnya tidak atau kurang menghibur . 

Lalu apa gunanya bermain bagus dan menghibur namun tidak menghasilkan gol?, malah menerima kekalahan?, Kedua kalimat ini seringkali muncul dari para penggemar Man United, filosofi Van Gaal dianggap Utopis.

filosofi/fi·lo·so·fi/ n filsafat (sumber http://kbbi.web.id)  

Banarkah Van Gaal berfilosofi? kita anggap itu adalah benar, bisa jadi ia seorang filsuf. Kita umpakan filsuf adalah seorang dirgen atau konduktor pada sebuah pertuntujukan konser musik orkestra, seorang konduktor yang mempunyai arasemen musik, ia merupakan pendengar yang sangat baik, ia juga seorang pemberi aba-aba melalui gerakan ekpresinya. Tugas utamanya adalah memastikan kapan harpa berbunyi, biola, selanjutnya disusul dengan suara cello yang merdu, kemudian masuknya suara simbal dan maracas, kemudian garpu tala, suara saxophone juga clarinet dan masih banyak lagi bunyi-bunyian harus digabungkan, sehingga tercipta sebuah harmoni, selaras dan nyaman untuk dinikmati.

Berfilsafat juga tentang rendah diri, tidak semua hal yang ada dalam semesta ini harus dimengerti. Ia juga berarti mengoreksi diri, tentang keberanian untuk berterus terang, seberapa banyak wawasan yang didapat. Berfilsafat adalah tentang tanggung jawab terhadap konsep atau sistem yang telah kita buat, jika tidak ia hanyalah keponggahan belaka.

"The most important thing is my philosophy and when you stick by your philosophy you can do that because every player has played in that philosophy" – Louis Van Gaal, setelah mengalahkan Liverpool.


Begitu kiranya filosofi sepak bola Van Gaal, tim yang telah menghabiskan kurang lebih 200 juta paun ini tak bisa berbuat banyak, badai cidera kemungkinan juga menjadi faktor penghalang dalam filosofinya. Jadi kapan Louis Van Gaal berteriak ""Eureka!!!!"