Friday, December 7, 2012
Hallo.... Apa kabar sepak bola Indonesia..?
Ironis…. Konflik organisasi sepak bola Indonesia tak kunjung padam, dampak semakin panjang, solusi sekedar wacana, dari PSSI era Nurdin Halid sampai dengan sekarang PSSI vs KPSI, ereksi tak kunjung klimaks!!!
Saya tidak akan lupa sampai kapanpun, kekalahan 10 - 0 atas Bahrain, itu hasil kisruh organisasi sepak bola Indonesiakan? Saya sudah berhenti mencaci maki kepengurusan sepak bola Indonesia...capek!!:mewek, sekarang saya turunkan lagi ke level prihatin atas sepak bola Indonesia. Karena saya yakin masih banyak orang seperti saya yang cinta dengan Timnas Garuda, apapun hasilnya pasti kita dukung, meskipun banyak mengecewakan.
Saya pernah membaca artikel(sumbernya lupa), Firman Utina: Hanya gempa dan sepak bola yang dapat menyatukan rakyat Indonesia. Jelas saya setuju!!! Tapi jangan gempa juga ya, itu tragedy….!!! Sepak bola, benar sepak bola, yang bisa menyatukan kita Rakyat Indonesia.
Contoh, perhelatan AFF kemaren yg lagi, kita kalah dengan Malaysia… saat Indonesia lawan Singapore, pertandingan di sore hari, teman saya sampai membawa tv portable ke kantor, kita semua nonton…. Bahkan pegawai di departemen lain ikut noton di ruang kerja saya!! Well, kita tinggalkan pekerjaan kita, demi menonton sepak bola, menonton Timnas, apakah itu cinta? Siapapun pemainnya kita tetap dukung!!!
Namun kisruh organisasi tidak hanya di PSSI, namun sudah menjalar ke manajemen klub. Masih jelas diingatan kita, soal kematian Diego Mendieta… termiskinkan karena gaji tak kunjung datang, jangankan untuk pulang ke Negara asalnya, untuk biaya rumah sakit saja gaji tak kunjung cair… tragis!!!
Persisi Solo, mereka sudah kehabisan dana saat pertengahan kompetisi berlangsung, yang ternyata satu menajemen sebuah klub dengan budget satu klub, di buat untuk berkompetisi dua klub, liga professional IPL dan ISL…… Membingungkan…. Dan ajaib tentunya.
Dualisme Persis Solo??
Banyak klub di Indonesia yang memiliki pemain mahal, yang sebenarnya klub tak benar-benar mampu membayar gaji mereka, selain Persis Solo kita lihat Bontang FC, di beberapa media kemaren, memberitakan tentang pemain Bontang FC makan nasi bungkus karena gaji belum terbayarkan. Bukannya ini urusan organisasi sepak bola kita, jika sebuah klub yang kekurangan dana tapi mereka memaksakan untuk ikut berkompetisi?
Saya agak sedikit kaget, dengan meninggalnya Diego Mendieta, apakah para pemain professional kita tidak ada asuransi kesehatan? Dan seharusnya pihak klub memberikan jaminan kesehatan ke pada pemainnya bukan?
Namun bagaimana mau ngatur, wong aturan dari iduk organisasi saja terkesan tidak jelas, lalu bagaimana mau mengatur wong induk organisasinya saja tidak jelas, yang mana yang resmi, keduanya saling ngeklaim.
Masyarakat boleh benci PSSI atau KPSI, tapi masyarakat jangan membenci timnas. Kami berharap masyarakat mendukung dan memberi doa untuk kami. – Andik Vermansyah.
No… Andik, kami tidak membenci Timnas, siapapun pemainnya…. Kami akan mendukung Timnas, sampai kapanpun… tapi tolong, beri kami hiburan!!! :ups
Subscribe to:
Comments (Atom)