Saturday, January 31, 2015

Yang Memilih Sepi



Setidaknya kita terus berjalan, tidak perlu merangkak kikuk.

Aku kira kamu menuju setapak yaitu aku, 
Ternyata beberapa setapak dengan rerumputan, bangku taman dan rimbunan bunga-bunga sedang kau tapaki.


****

Aku selalu bersanding dengan sinar,
Aku selalu gelap, meskipun binar cahaya warna-warni menyinari.
Aku mampu berlari, aku juga berjalan pelan, terkadang aku hanya diam.

Aku lihai bersembunyi,
Aku kadang di atas aspal, trotoar, ataupun di tembok-tembok.
Aku yang terlupakan, selalu riang, namun bisa saja aku jatuh sedih sejadi-jadinya.


Siapapun aku…Aku takut dengan ruang gelap, 

Perkenalkan…namaku "bayangan-bayang".

Wednesday, January 28, 2015

Kepada Perempuan Pengecap Kopi


(Photo: DerekTvShow)



Harapan seperti mengecap kopi, nikmatnya sesa’at. Kita tidak perlu menjadi bara, untuk tahu asal mula abu, kita tidak perlu menjadi tebing curam untuk tahu jatuh itu menyakitkan.

Banyak hal yang terjadi khususnya setahun belakangan ini, ada hal-hal yang baru datang silih berganti, meskipun sebagian hal hanya itu-itu saja. Seperti sebuah adegan film, banyak plot twist yang membuat terkejut, beberapa kali aku iseng melakukan perjalanan tanpa tujuan jelas, menyusuri sisi lain kota Jakarta.

Aku terlalu sibuk dengan urusan-urusan “kemakmuran”, aku terlalu egois dengan menghabiskan waktu berkutat dengan meja korporat, yang nyatanya tak pernah membuatku makmur. Begitu banyak hal yang terlewat oleh mata kita, banyak orang yang kurang beruntung, mulai dari kesenjangan ekonomi, kesenjangan pengetahuan, kesenjangan keamanan dan masih banyak lagi.

Aku terlalu bingung dengan pertanyaan, apa yang seharusnya aku perbuat, apakah aku hanya menjadi penonton saja?. Aku sangat iri dengan orang-orang yang ringan tangan, untuk sekedar mengajar menggambar ataupun berdongeng kepada sesama, aku iri dengan waktu luang mereka.

Bahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada orang tua saja aku tak mampu, aku masih terlalu di buat rungsing dengan hiruk pikuk perkotaan, sedangkan orang tuaku semakin menua terpisah jarak denganku. Akhirnya aku hanya bisa mengutuki diri, sebuah empati tanpa aksi hanya gincu belaka.


***
Perjalananku tak habis di sana, tepatnya pertengahan tahun lalu aku memberanikan diri untuk mengambil beasiswa dari tempatku bekerja, tentu paling tidak setahun lebih setelah menyelesaikan pendidikan, aku tidak akan bisa seenak jidat untuk pergi meninggalkan korporat tempatku mencari uang. Sebuah keputusan besar bagiku, harus berdamai dengan keegoisan, dengan fakta kehidupan yang akan aku alami di masa yang akan datang, yaitu waktuku yang semakin habis dikebiri oleh pengharapan.

Babak baru perjalananku di mulai, bertemu dengan orang-orang baru, generasi-generasi baru, dengan pola pikir baru, bertemu dengan sudut pandang yang baru, bertemu dengan kelas-kelas sosial-ekonomi yang baru, dan tentu saja kesemua itu asing bagiku.

Dimanapun itu, perjalan selalu di warnai dengan tawa terbahak, terkadang terjerembab kesedihan, barang kali getir adalah sahabat lama yang akhirnya bertemu kembali, semua menjadi satu. Sudah barang tentu semua itu membuatku semakin bisa berdamai dengan apapun, namun tetap mawas diri untuk tidak terbawa arus, memilih tetap tenang dengan pemikiran yang aku anggap waras.

.....tiba saatnya bertemu dengan Perempuan Pengecap Kopi,

Beberapa minggu perjalanan hidup pada lingkungan yang baru….tidak ada hal yang menarik, terlihat biasa saja, ia seperti perempuan delusional lainya. Di suatu malam, kota Jakarta yang terlalu brengsek untuk di kutuki, dengan botol bir dan beberapa putung rokok, aku di hidangkan dengan “obrolan” yang membuat pola pikirku seperti terjungkir balik, untuk ukuran negeri yang sedikit ajaib ini, ia terlalu cepat lahir, seharusnya ia lahir beberapa dekade mendatang. Atau barangkali aku yang sedikit kurang piknik, baru bertemu dengan perempuan berpikiran waras, jelas perjalananku semakin memanjang.

Aku selalu antusias dengan obrolan ataupun dongen-dongeng yang datang bertubi-tubi dari mulut yang terkadang menenggak bir dingin atau sekedar mengecap kopi, obrolan yang cukup bernas, sebuah dongeng untuk tetap berpikir waras.  

Memang perjalanan tidak melulu soal jatuh hati, namun tidak untuk kali ini, aku terlalu bodoh jika tidak jatuh hati. Aku memang mengungkapkan perihal jatuh hati kepada Perempuan Pengecap Kopi, meskipun tidak akan mengubah keadaan apapun. 
Sebuah perjalan yang pernah ku lewati bukanlah sebuah labirin, sudah barang tentu banyak hal yang sudah terekam dan terpatri dalam-dalam, aku disadarkan dengan kenyataan bahwa sebuah prinsip seseorang tidak perlu di debat benar atau salah, kita cukup menghormati prinsip perjalanan hidup masing-masing, tidak perlu berjalan bersama untuk sebuah cerita.


...Kepada Perempuan Pengecap Kopi,

Sudah barang tentu kamu juga sedang dalam perjalanan, kamu juga sedang menimang makna perjalananmu sendiri. Dan semoga kamu bahagia dengan perjalananmu, atau paling tidak kamu menciptakan cerita baru dalam perjalananmu itu. Mungkin bagimu aku hanya setapak menuju jalan yang besar, atau barangkali hanya sebuah jalan berkerikil yang tidak seharusnya dilewati, entahlah….. kita sudah terlalu banyak berdongeng singkat tentang perjalanan ini.

Buatku, Kamu memang sebuah perjalanan, perjalanan dengan warna baru, perjalanan dengan irama yang menggebu tentunya. Aku memang jatuh hati dengan perjalanan ini, ya…perjalanan ini memang untukku saja, aku tidak berusaha atau berharap berjalan denganmu. Dan semoga semua ini tidaklah salah, namun jika jatuh hati dengan perjalan ini adalah sebuah kesalahan, mari kita mengecap kata-kata dari F. Scott Fitzgerald, seorang penyair dari Amerika :
“For what it’s worth: it’s never too late or, in my case, too early to be whoever you want to be. There’s no time limit, stop whenever you want. You can change or stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best or the worst of it. I hope you make the best of it. And I hope you see things that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people with a different point of view. I hope you live a life you’re proud of. If you find that you’re not, I hope you have the courage to start all over again.”


***

…..in the end, I don't know where I'm going, but I'm on my way.