(Photo: DerekTvShow)
Harapan seperti
mengecap kopi, nikmatnya sesa’at. Kita tidak perlu menjadi bara, untuk
tahu asal mula abu, kita tidak perlu menjadi tebing curam untuk tahu jatuh itu
menyakitkan.
Banyak hal
yang terjadi khususnya setahun belakangan ini, ada hal-hal yang baru datang
silih berganti, meskipun sebagian hal hanya itu-itu saja. Seperti
sebuah adegan film, banyak plot twist yang membuat terkejut, beberapa kali aku iseng
melakukan perjalanan tanpa tujuan jelas, menyusuri sisi lain kota Jakarta.
Aku terlalu sibuk dengan urusan-urusan “kemakmuran”, aku terlalu egois dengan
menghabiskan waktu berkutat dengan meja korporat, yang nyatanya tak pernah
membuatku makmur. Begitu banyak hal yang terlewat oleh mata kita, banyak orang yang kurang beruntung, mulai dari kesenjangan
ekonomi, kesenjangan pengetahuan, kesenjangan keamanan dan masih banyak lagi.
Aku terlalu
bingung dengan pertanyaan, apa yang seharusnya aku perbuat, apakah aku hanya
menjadi penonton saja?. Aku sangat iri dengan orang-orang yang ringan tangan,
untuk sekedar mengajar menggambar ataupun berdongeng kepada sesama,
aku iri dengan waktu luang mereka.
Bahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada orang tua saja aku tak mampu, aku masih terlalu di buat
rungsing dengan hiruk pikuk perkotaan, sedangkan orang tuaku semakin menua
terpisah jarak denganku. Akhirnya aku hanya bisa mengutuki diri, sebuah empati
tanpa aksi hanya gincu belaka.
***
Perjalananku
tak habis di sana, tepatnya pertengahan tahun lalu aku memberanikan diri untuk
mengambil beasiswa dari tempatku bekerja, tentu paling tidak setahun lebih setelah
menyelesaikan pendidikan, aku tidak akan bisa seenak jidat untuk pergi
meninggalkan korporat tempatku mencari uang. Sebuah keputusan besar bagiku, harus
berdamai dengan keegoisan, dengan fakta kehidupan yang akan aku alami di masa
yang akan datang, yaitu waktuku yang semakin habis dikebiri oleh pengharapan.
Babak baru
perjalananku di mulai, bertemu dengan orang-orang baru, generasi-generasi baru, dengan pola pikir baru, bertemu dengan
sudut pandang yang baru, bertemu dengan kelas-kelas sosial-ekonomi yang baru,
dan tentu saja kesemua itu asing bagiku.
Dimanapun itu,
perjalan selalu di warnai dengan tawa terbahak, terkadang terjerembab kesedihan,
barang kali getir adalah sahabat lama yang akhirnya bertemu kembali, semua
menjadi satu. Sudah barang tentu semua itu membuatku semakin bisa berdamai
dengan apapun, namun tetap mawas diri untuk tidak terbawa arus, memilih
tetap tenang dengan pemikiran yang aku anggap waras.
.....tiba saatnya bertemu dengan Perempuan Pengecap Kopi,
Beberapa
minggu perjalanan hidup pada lingkungan yang baru….tidak ada hal yang
menarik, terlihat biasa saja, ia seperti perempuan delusional lainya. Di suatu
malam, kota Jakarta yang terlalu brengsek untuk di kutuki, dengan botol
bir dan beberapa putung rokok, aku di hidangkan dengan “obrolan” yang membuat pola
pikirku seperti terjungkir balik, untuk ukuran negeri yang sedikit ajaib ini,
ia terlalu cepat lahir, seharusnya ia lahir beberapa dekade mendatang. Atau barangkali
aku yang sedikit kurang piknik, baru bertemu dengan perempuan berpikiran waras,
jelas perjalananku semakin memanjang.
Aku selalu
antusias dengan obrolan ataupun dongen-dongeng yang datang bertubi-tubi dari
mulut yang terkadang menenggak bir dingin atau sekedar mengecap kopi, obrolan
yang cukup bernas, sebuah dongeng untuk tetap berpikir waras.
Memang perjalanan tidak melulu soal jatuh hati, namun tidak untuk kali ini, aku terlalu bodoh
jika tidak jatuh hati. Aku memang mengungkapkan perihal jatuh hati kepada Perempuan
Pengecap Kopi, meskipun tidak akan mengubah keadaan apapun.
Sebuah perjalan
yang pernah ku lewati bukanlah sebuah labirin, sudah barang tentu
banyak hal yang sudah terekam dan terpatri dalam-dalam, aku disadarkan dengan
kenyataan bahwa sebuah prinsip seseorang tidak perlu di debat benar atau salah,
kita cukup menghormati prinsip perjalanan hidup masing-masing, tidak perlu
berjalan bersama untuk sebuah cerita.
...Kepada
Perempuan Pengecap Kopi,
Sudah barang
tentu kamu juga sedang dalam perjalanan, kamu juga sedang menimang makna
perjalananmu sendiri. Dan semoga kamu bahagia dengan perjalananmu, atau paling tidak kamu menciptakan cerita baru dalam perjalananmu itu. Mungkin
bagimu aku hanya setapak menuju jalan yang besar, atau barangkali hanya sebuah jalan
berkerikil yang tidak seharusnya dilewati, entahlah….. kita sudah terlalu banyak
berdongeng singkat tentang perjalanan ini.
Buatku, Kamu memang
sebuah perjalanan, perjalanan dengan warna baru, perjalanan dengan irama
yang menggebu tentunya. Aku memang jatuh hati dengan perjalanan ini, ya…perjalanan
ini memang untukku saja, aku tidak berusaha atau berharap berjalan
denganmu. Dan semoga semua ini tidaklah salah, namun jika jatuh hati dengan
perjalan ini adalah sebuah kesalahan, mari kita mengecap kata-kata dari F.
Scott Fitzgerald, seorang penyair dari Amerika :
“For what
it’s worth: it’s never too late or, in my case, too early to be whoever you
want to be. There’s no time limit, stop whenever you want. You can change or
stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best or the
worst of it. I hope you make the best of it. And I hope you see things that
startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet
people with a different point of view. I hope you live a life you’re proud of.
If you find that you’re not, I hope you have the courage to start all over
again.”
***
…..in the end,
I don't know where I'm going, but I'm on my way.