Thursday, February 19, 2015

asa

Barangkali rintik hujan semakin deras di luar jendela, kita tak pernah tahu rupa-rupa rintik hujan, kita terlalu sibuk dengan kubik-kubik meja kerja, atau barangkali memang sudah nasib kita untuk mengakrabi sunyi.


Yang sebenarnya adalah kita tak pernah benar-benar kehilangan asa, padahal asa sendiri tidak pernah datang. Atau barangkali asa sungguh datang, namun kita tak pernah mau tahu dan kita tak sudi menangkapnya.

****
Tahukah kita bahwa trotoar dan aspal sore ini basah, tidak pernah kita mengejar rupa-rupa rintik hujan, namun mengapa kita merasa kehilangan.

Malam hanya berputar, siang pun melakukan hal yang serupa, dalam sumbu, dalam ruang dan dalam lingkaran yang sama, kita menyepakati sebagai mimpi.


Oh sudah barang tentu kita tak akan pernah bisa mematahkan hati yang sudah berkeping, bukan berarti ia sudah rusak termakan waktu, bukan juga kepingan yang tak bisa bersatu, bukan itu semua, barang kali selama ini yang ia kenal hanyalah sepi.



*wahai rintik hujan, bolehkan aku menikahi isi kepalamu?