Monday, March 14, 2011

Semi dan Romansa




Tiba saatnya desa Semi bertaburan sinar merah jambu, senja kaki gunung Lawu berselimut sendu, Semi kamu kok belum pulang tho, udah surub lhoo… tegur Ndoro. Kontan wajah Semi berbinar, sinar merah jambu menambah keAyuan anak Admodjo ini. Iya ndoro…saya sudah mau pulang, sebenarnya tanggung tinggal satu petak lagi. Kok kamu menyiangi sawah sendiri, memangnya saudara kamu tidak membantu… saya anak tunggal ndoro, saudara ayah dan ibu saya tinggal beberapa perempuan saja, dan mereka seperti saya, sibuk dengan sawahnya masing-masing. Saya ikut prihatin dengan apa yang menimpa keluarga besar kamu, dengan penuh welas kasih ndoro memegang pundak Semi, terima kasih ndoro, jawab lirih semi. 
Ndoro mendengar dari lurah, hati-hati ndoro lurah itu penjilat, ndoro pun membalas dengan senyuman kecil. Bolehkah saya mengantar Semi pulang, jangan-jangan ndoro…waduh nanti kalau penduduk desa ini melihat pasti urusannya jadi panjang, jadi kembang lambe(bahan gunjingan), masa seorang priyayi jalan berdampingan dengan anak desa melarat, anaknya PKI malah, tak henti-hentinya mulut Semi nyrocos….. ssssst seketika diam, biarkan saja mereka berbicara apapun yang mereka suka, toh terkadang apa yang kita lihat belum tentu seperti apa yang kita lihat, kok saya malah bingung ndoro, sudahlah tiba waktunya kamu akan tahu.

Kamu tahu Semi….apa ndoro, dengan suara lembut Semi menjawab, yang terjadi di desa ini juga terjadi di mana-mana, Nusantara ini sedang kacau….Semi mengangguk, entah apakah Semi tahu apa yang dimaksud ndoro. Ndoro pun bercerita tentang apa itu PKI, kenapa dan mengapa dengan PKI. 

Sinar lampu bersumbu menyerap minyak tanah, mata indah Semi tak berkedip memandangnya, raut wajah yang ayu bersinar kuning bias sinar lampu teplok. Siapa itu Stalin dan siapa pula DN Aidit, apa yang membuat mereka terkenal. Tentu saja perempuan seperti Semi kebingungan dengan cerita Ndoro, mengenyam pendidikan pun belum pernah. Kulonuwun…. Lamunan Semi pecah dengan suara tamu berkunjung rumahnya, siapa itu…dalam hati Semi bertanya, semenjak peristiwa pencokokan Admodjo nyaris tidak ada yang pernah berkunjung ke rumah Semi. Monggo… jawab Semi dengan suara keras, dibetulkannya kemben dan gelungan rambut Semi. Hloooh Ndoro…. Semi terkaget dan si mbok Semi terlihat menggigil ketakutan melihat ndoro, enten nopo ndoro… dengan gagap si mbok Semi bertanya, mboten enten nopo-nopo mbok, kulo teng mriki mampir, wau sangking griyonipun pak lurah(tidak ada apa-apa mbok, saya Cuma mampir tadi habis dari rumah pak lurah), betapa kagetnya si mbok mendengar nama lurah itu, ingatan si mbok langsung menuju pada malam penckokan suaminya. 

Malam itu tentara bersenjata lengkap dibantu dengan tokoh agama setempat mendatangi rumah mbok Semi, dengan petunjuk pak lurah mereka menyebut nama Atmodjo, tanpa sempat melakukan pembelaan Atmodjo langsung dibawa ke truk tentara, terlihat beberapa orang yang Semi kenal juga berada dalam truk itu, entah apa yang akan terjadi dengan mereka, Tentara-tentara itu hanya berkata “Kamu PKI, ikut kami sekarang”.

Tenang mbok… saya kesini hanya ingin menepati janji saya kepada Semi…. Si mbok tertegun wajahnya menatap Semi yang dari tadi cengengengsan tak henti-henti, janji nopo tho ndoro, tadi saya pulang bareng Semi, terus saya janji akan mengajarkan Semi membaca dan menghitung. Betapa nelangsangnya hati seorang si mbok Semi, tidak bias memberikan pendidikan kepada anaknya….. ndoro niki mboten guyon tho(ndoro, tidak bercanda kan), hlooh..saestu mbok. Oaaalaaah matur suwun sanget ndoro. 
Tak lama kemudian keluarlah si mbok Semi dari dapur, membawakan secangkir kopi dan beberapa helai pisang rebus. Ndoro… adanya Cuma ini, maklum semenjak bapaknya Semi tidak ada kami serba kekurangan, mbok matur suwun sanget, amponsah repot repot, hlah niki malah kulo betoke gulo lan rencange. Walah ndoro, matur suwun nggeh… tak lam percakapan si mbok dan ndoro berakhir, tinggalah perempuan ayu Semi dan ndoro, ditema secangkir kopi dan pisang rebus. Entah mimpi apa Semi semalam, pangeran pujaannya telah datang.

Benar kata Semi, kedatangan dan kebersamaan Semi dengan ndoro menjadi bahan gunjingan maysarakat sekitar, tentunya kabar ini sudah sampai ke telinga Lurah.  Ndoro sepertinya tidak mempedulikan bisikan tetangga Semi, sudah lebih tiga bulan Semi belajar membaca dan menghitung, begitu sabar ndoro memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada Semi. Kehidupan Semi pun berubah, layaknya seorang priyayi keraton Semi mulai membaca Koran berbahasa melayu pemberian ndoro. Wah nduk…. Kamu kok wis koyo wong bener wae, bendino moco koran, Semi hanya tertawa kecil. 

Banyak hal yang berkecamuk di benak Semi, Koran-koran pemberian ndoro memberedel semua ketidaktahuan Semi. Mulai dari stalin, menurut cerita ndoro,  Joseph Stalin orang eropa yang mempunyai peranan penting dalam penyebarluasan Komunisme ke seluruh dunia. DN Aidit, menurut cerita ndoro DN Aidit adalah seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional. Semi perempuan cerdas, mulutnya mulai nyerocos memberondong pertanyaan dan ndoro pun seraya tak kuasa memjawab pertanyaan Semi. 
 
Baiklah Semi, sudah saatnya aku akan jelaskan apa itu Komunisme sesusai dengan pengetahuanku, tentunya setelah lebih dari tiga bulan ini kita belajar dan kamu perempuan cerdas, sangat cerdas, kamu sanagat cepat menangkap. Komunisme adalah sebuah ideologi. Pencetusnya adalah Karl Marx dan Friedrich Engels, tentunya mereka berasal dari eropa, Semi tersenyum kagum… tunggu dulu kamu Semi, jangan dulu kamu mendewakan orang eropa, mereka juga tak lebih biadabnya dengan dewa-dewa kematian, berapa abad Negara kita di tindas, mereka seperti lintah…menghisap dan membunuh perlahan, Semi mengernyit. 

Ajaran Karl Marx terus berkembang atau dikembangkan salah satunya Joseph Stalin… dari eropa…Tanya Semi, benar tepatnya Uni Soviet, whoooo… jadi kebanyakan dari eropa. Namun ada juga dari timur yaitu China, Mao Zedong dengan yang terkenal dengan Revolusi Xinhai, mampu meruntuhkan Kekaisaran Cina yaitu pada masa Dinasti Qing yang sudah berkuasa lebih 2000 tahun lamanya. Semi semakin penasaran dengan cerita-cerita ndoro… trus siapa itu DN Aidit, saya mendengar cerita, ia mati dan ada juga yang bilang ia berhasil kabur. Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit, berasal dari Belitung… dimana itu…? Tanya Semi… ndoro hanya menghela nafas, nampaknya saya harus memberikan pelajaran yang lebih luas kepada kamu… Semi hanya tertawa kecil. Belitung itu adanya di luar pulau jawa, pulau yang kita injak ini, tepatnya di kepaulaun Belitung. Ooh begitu… sahut Semi dengan senyum nakal. Ndoro begitu senang melihat wajah ayu Semi, jadi apa yang diperbuat oleh Aidit, sehingga dia dimusuhi pemerintah ini…tanya Semi. 
Tunggu dulu, jangan langsung kesitu…senyum Semi mendengar pernyataan ndoro. Aidit sejak muda sudah dikenal dengan kepemimpinannya, ia ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, ia juga menjadi anggota DPR setelah Indonesia Merdeka, Aidit memeproleh teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda, yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia. 
Aidit sangat pro dan dekat dengan Presiden Soekarno, maka setelah Soekarno lengser, Aidit pun ikut menjadi kambing hitam atas konflik yang beberapa waktu lalu terjadi di Jakarta dan beberapa wilayah nusantara lainya. Jadi kejadian-kejadian yang menggemparkan beberapa waktu lalu diprakarsai oleh adit dan mungkin teman-temannya…Tanya Semi dengan antusias, ndoro menggeleng…tidak tahu, bias jadi iya, atau mungkin malah tidak. Semi politik itu sangat tidak manusiawi, membingungkan, karena nafsu manusia yang sudah kesetanan. Dan belum lama ini, Aidit tertangkap di Jogjakarta dan di tembak mati disana. 
Sebenarnya faham marxisme ataupun leninnisme semua berkaitan dengan system ekonomi, sistem social dan sistem politik.  Dari situlah muncul paham komunisme, yang mana sangat menentang para kaum atas yang rela mengorbankan kaum kecil untuk kekayaannya mereka(kaum atas), yang kita sebut dengan kaum kapitalis. 

Sedikit membingungkan memang…tapi aku sangat senang belajar seperti ini…dengan suara yang sudah lelah dan mengantuk Semi memandangi pangerannya, ndoropun dengan senyum riang memandangi keAyuan Semi, sudahlah kamu tidur sana, aku pulang dulu, sepertinya kusirku sudah habis darahnya dihisapin nyamuk, sampai besok pagi Semi. Nggeh ndoro, terimakasih ndoro… dengan senyum senang ndoro menghilang dari hadapan Semi. 

Tidakkah kamu bahagia Semi, pangeran pujaanmu datang dengan membawa pertolongan, bukankah bumimu semakin indah, tidahkah malammu semakin terang, tentu jangan senang dulu Semi, nelajarlah dari ndoro, entah dia pangeran seperti apa, asal usulnya pun aku belum tahu…

Sunday, March 13, 2011

Semi dan Romansa

Tanah untuk Kaum Tani”  
 


Pergolakan politik dimasa Soekarno terasa menyengsarakan penduduk sebuah desa di Madiun, mereka tercatat dalam sebuah data dikelurahan. Admodjo, ayah Semi yang kiranya petani dengan sebidang tanah, mana tahu ia tentang politik, untuk membacapun ia tidak bisa. Admodjo dan beberapa laki-laki di cokok oleh pejabat desa. 

Ayahmu seorang PKI, raut muka semi membisu dan hanya mendengung bising, pikirannya melayang entah kemana. PKI apa itu…? Pemberontak, tidak percaya Tuhan, Semipun semakin bingung.
Beberapa tahun silam, beberapa tokoh di Madiun di culik dan dibunuh karena mereka menentang dan memprotes  aksi - aksi golongan “Kiri”. RM Ario Soerjo, Gubernur  Jawa Timur pada waktu itu menjadi korban pembunuhan, dr. Moewardi  dan beberapa tokoh lainya. Sejak saat itu Madiun merupakan daerah menakutkan.

Apakah Semi tahu tentang  apa yang terjadi, tahukah Semi tentang Barisan Tani Indonesia, pergerakan wanita (Gerwani) atau bahkan Stalin. Tentu saja Semi tidak tahu, yang ia tahu hanya bangun pagi-pagi buta, membantu ibunya didapur dan beberapa kegiatan rumah tangga lainya. Sekolah, terlalu mahal untuk ukuran keluarga Admodjo, bisa makan saja sudah lebih dari cukup.

Sejak Merdeka sampai sekarang Semi belum merasakan apa itu Kemerdekaan, apakah Kemerdekaan itu seperti nasi tiwul(nasi dari tepung singkong), apakah nasi jagung, apakah nasi dari padi. Lupakan kemerdekaan semu itu Semi. Lambat laun kehidupan semi mulai berjalan, kejadian demi kejadian mulai terlupakan, penduduk desa yang mayoritas di cap sebagai Komunis tersebut mulai berangsur pulih meskipun jumlah lelaki didesa tersebut berkurang drastis, hampir separuh laki-laki didesa tersebut dicokok dan tak pernah kembali. Konon mereka dikubur di pinggiran hutan desa setempat. Sekarang  tinggalah Semi dan Ibunya mengurus sebidang  tanah yang dibeli atau bahkan dihibahkan dari seorang  tokoh bangsa  yaitu DR.Rajiman Wedyodiningrat. 

DR.Rajiman Wedyodiningrat datang ke desa Semi  sekitar 1935, beliau datang dengan misi memberantas penyakit pes yang  waktu itu mewabah di desa Semi dan daerah lainya. Semi perempuan gigih, pekerjaan yang seharusnya dilakukan lelaki ia kerjakan tanpa kenal lelah. Suatu senja semi pulang dari sawah terlihat lelaki besar, berkulit sawo matang dan bersih, tentunya lelaki tersebut bukanlah penduduk sekitar, lelaki tersebut adalah seorang priyayi, anak seorang demang mungkin atau kerabat keraton, ah untuk apa aku pedulikan belum tentu ia peduli, Semi berbisik dalam hati. Dengan menunduk luwes semi pun menyapa, sugeng sonten ndoro(selamat sore tuan). Semi belum berani mendengakkan mukanya, dia tahu betul harus bersikap seperti apa kepada saudara, mungkin kerabat dekat dari DR.Rajiman Wedyodiningrat.
Sejak saat itu hati semi tak karuan rasanya, entah apa yang dia risaukan, setiap hari melamun dan melamun. Kamu kenapa tho nduk, tanya ibunya, mboten nopo-nopo mbok, (kamu ini kenapa, gak kenapa-napa ibu) hlah yo ora mungkin ora ono opo-opo, wong saben ndino kowe kuwi koyo di sambet demit, meneng terus…mikirke sopo? Ndak apa apa kok mbok, aku Cuma inget bapak, ooh ngono tho, yasudahlah bapakmu sudah bahagia, manggon tentrem lan ayem karo Gusti Allah, kata-kata ibu membuat  semi tenang meskipun ibu tahu semi sedang berbohong, melamun karena kasmaran.
Ah kok aku malah mikirin ndoro itu, kok aku gak ngaca siapa aku ini, penduduk jelata dan tak pantas memikirkannya. Fajar menyelimuti desa semi, mentari seakan malas untuk bertatap muka denganku, tapi entah kenapa aku lebih semangat untuk berangkat lebih cepat kesawah. Aku tahu….ndoro itukan, semoga aku bertemu lagi dengan ndoro itu, duh Gusti  jauhkanlah pikiran tentang ndoro itu.

Dari kejauhan terdengar obrolan beberapa lelaki, ooh itu gubuk pak lurah, sawah semi bersebelahan dengan sawah pak lurah. Mendengar cerita-cerita yang terlontar dari mulut lelaki-lelaki tersebut sontan membuat semi merinding, kata Atmodjo membuat semi sontak berdiri dan berlari mendekati gubuk dan lelaki-lelaki tersebut.  Semi lhaa kowe kok ora sopan dadi wong wadon, iki ki ono ndoro kok malah kowe nguping…hloh kok malah nangis, raut muka semi menanar menahan amarah, sudahlah pak lurah biarkan saja, kata-kata yang keluar dari priyayi tersebut membuat semi lega. Apa yang membuat kamu begitu marah terhadap kami, kami tidak pernah membicarakan kamu, tentu saja marah ndoro wong Admodjo niku bapaknya semi. Kontan semi berang, dibukanya caping(topi besar terbuat dari bambu) terburai rambut panjangnya, paras perempuan ayu jawa terlihat di wajah semi, ndoro kaget dengan kecantikan perempuan desa ini. Pak lurah, sampeyan kalo ngomong hati-hati, bapakku bukan PKI….hlah emang bapakmu pernah sholat, ngaji trus nang mesjid, sahut lurah dengan lantang, apakah tidak sholat tidak ngaji tidak ke masjid lantas di cap PKI, tahu apa kamu mi tentang PKI, moco wae or jegos(membaca aja tidak bisa) goblokmu kuwi lhoo. Ndoro menikmati wajah semi yang murka, termenung seakan tidak mempedulikan cek-cok mulut antara semi dan lurah. Benar aku iki ora iso moco, tapi aku ora golblok…semi membela diri, hlah..hla..kok lucu kowe kuwi nduk-nduk, pokoknya bapakku bukan PKI… semipun lari dilemparnya caping tersebut ketanah dan pergi meninggalkan gerombolan lelaki yang dari tadi tak henti-hentinya membicarakan Atmodjo.
Ayahku bukan PKI, aku bukan anak PKI…. Kata-kata itu berkecamuk di otak semi, duh Gusti paringono sabar. Dari kejauhan Ndoro menikmati siluet Semi yang semakin lama semakin menjauh dan hilang diantara pohon jalanan, woo… dadi kuwi anake Admodjo ya pak lurah…tanya ndoro tanpa menatap wajah pak lurah, wah ndoro ndak mungkin tho seneng sama Semi, wong Semi iku orang miskin, rakyat jelata, bapaknya PKI malah, ooh ndak pak lurah, bukan itu maksud saya…jawab ndoro, meskipun dalam hati ndoro tetap mengagumi kecantikan dan keAyuan perempuan desa itu.
Jadi gimana Pak lurah, kenapa penduduk desa sini banyak yang PKI atau dikira PKI lebih tepatnya..tanya ndoro. Jadi gini ndoro, beberapa tahun silam banyak orang-orang dari kota Madiun masuk kedesa-desa, salah satunya desa kami, apa yang mereka lakukan pak lurah…ndoro menyela, meraka diajak rerembukan..jawab pak lurah. Rerembukan seperti apa…tanya ndoro, ya rerembukan…. Pak lurah pun kebingungan dengan apa yang telah ia kataka.

Semi sangat membenci lurah tersebut, manusia laknat, manusia berhati iblis, lurah tersebut yang mengumpulkan penduduk desanya untuk mengikuti perkumpulan “Tanah untuk Kaum Tani” yang diadakan oleh pendatang dari kota Madiun yang mereka sebut PKI. Lurah juga yang mendata mereka yang pernah ikut perkumpulan tersebut untuk di eksekusi, karena mereka disebut anjing-anjing PKI. Dengan kejadian di gubug pak lurah tadi kehidupan Semi berubah, Semi yang tadinya perempuan desa yang lugu berubah drastis, seakan Lurah dan manusia seperti lurah adalah setan yang rela mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri.
Entah dosa apa yang akan kamu terima... duh lurah….