Friday, October 31, 2014

Dalam Kurva Pembelajaran, Aku coca-cola dan Kamu Pepsi.



Serenada itu adalah “kita”, tetapi kamu memilih sebuah elegi, tentu saja tidak akan seirama.
Dan ternyata sulit bagimu untuk menjadi “kita”, kamu memilih untuk tetap menjadi Aku dan Kamu.

Aku adalah coca-cola dan kamu memilih pepsi. Adakalanya saya ingat dongeng Bapak tua, Ia dan belahan hatinya lebih suka duduk di restoran siap saji. mereka tidak pernah menikmati secangkir kopi dengan alunan musik yang berirama sayu-sayu, musik yang seharusnya cocok untuk gendang telinga yang sudah menua.

Saya tidak pernah tahu ini fenomena apa, saat sepasang manula duduk berdua, menikmati es krim, 2 ayam paha atas, 2 nasi putih, mugkin dengan kentang goreng di tambah telur orak-arik, mereka menemukan kebahagiaan saat semua makanan berjejal dalam mulut dengan hiasan gigi yang mulai ompong, lalu mereka dimanja alunan musik Agnes Monica yang sekarang sudah Go International, sebuah genre musik berkelas wahid.

Pepsi adalah kunci, kamu akan diusir dari restoran siap saji asal Amerika, jika ada coca-cola diatas meja, kamu tidak akan bisa bertahan dalam situasi coca-cola, yaitu situasi yang tidak diinginkan untuk bersanding dengan pepsi. Maka satu-satunya jalan adalah pelan-pelan pergi, tentu semua akan kembali seperti sedia kala, tanpa perasaan kaku, hanya cukup berpura-pura dungu.


Si bapak tua mulai berdongeng tentang peradaban Bikini Bottom, sebuah peradaban absurd. Dimana sebuah busa cuci piring bernyawa, seekor kepiting yang culas, si plangton yang iri, tentang tupai yang jago karate, ubur-ubur seperti sutet, kucing peliharaan berbentuk siput, seekor tentakel yang lihai bermain Clarinet dan bintang laut yang dikutuk dungu.

Dongeng si bapak tua dimulai pada episode “I'm with Stupid” , saat bintang laut yang dungu bisa berfikir cerdas. Si dungu bersandiwara menjadi cerdas, sedangkan si busa cuci piring harus terlihat bodoh. Tetapi yang namanya kepura-puraan, baunya tetap tercium, meski si dungu tidak punya lubang hidung.

Dongengpun berlanjut.....
Ketentraman peradaban Bikini Bottom sempat dibuat onar oleh kedatangan empat buah kapal selam dari PT. Dumai, kapal-kapal tersebut mengangkut beribu-ribu botol coca-cola. Beruntung si tupai datang dari rumah pohonnya, ia kaget melihat peradaban bikini bottom porak poranda. Tetapi dengan sedikit penjelasan dari busa pencuci piring, maka si tupai berhasil mengeluarkan jurus karatenya yang disebut “learning curve”, yaitu sebuah jurus berbentuk kurva garis, yang menunjukkan hubungan antara waktu yang diperlukan untuk produksi dan jumlah komulatif unit yang diproduksi. Maka dengan jurus tersebut total biaya yang digunakan kapal-kapal dari PT. Dumai sudah bisa diketahui dengan tepat.
*saya tidak akan menjelaskan pemecahan masalah dengan learning curve, saat UTS kemarin saya mendapat nilai jelek. HIH


Sebenarnya warna dan rasa kita sama, tetapi harapan kita yang berbeda, kamu dengan ayam paha atas, aku dengan kacang atom. Kamu dimeja restoran siap saji, aku di trotoar Banjir Kanal Timur. Lebih parah lagi, aku di campur dengan intisari, minuman para alay yang di marjinalkan kalangan hipster Bekasi.


***
Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, perang batin yang tak kunjung padam, akhirnya dengan bantuan teman, saya memberanikan diri untuk ikut retreat di sebuah Vihara di Kota Hujan. Sebuah metode belajar untuk menuntun manusia mencapai pembebasan, lepas dari eksistensi yang berulang-ulang (samsara) atau pencerahan sempurna demi kepentingan semua makhluk.

*karena saya bukan Banthe, maka penjelasan cukup segitu saja, jika masih penasaran coba di googling. (keyword : Lamrim)

“bahwasanya menanam pohon memerlukan proses, kewajiban kita adalah menjaganya, memupuk, menyirami dan memeliharanya dengan baik. Pohon tersebut dapat tumbuh atau tidak, semua tergantung pohon itu sendiri. Yang penting kita sudah merawat sebaik-baiknya dengan penuh upaya dan tenaga, tentu dengan bersungguh-sungguh. Jika kita memaksa pohon tersebut tetap tumbuh, maka ia akan mati.”

Saya berharap si coca-cola menjadi penanam pohon, dan si pepsi menjadi pohonnya. Dalam ajaran Buddha, sang Buddha memberi kebebasan penuh kepada pengikutnya, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ajaran Buddha adalah ajaran bertahap. Jika kita hanya bisa menerima sedikit, maka terimalah sedikit, begitupun sebaliknya. Tidak perlu memaksa dalam berkehendak.

Saat kehilangan arah, jadikanlah dirimu sebagai sahabat yang paling baik bagi dirimu sendiri.



*dalam versi saya, cerita di atas benar adanya, tentang si Tama sebagai coca-cola dan si Ita sebagai pepsi. Ahihihihi
*gambar nyomot dari google.

Thursday, October 30, 2014

Ritus Sepak Bola tidak butuh Moralitas Palsu.

(gambar di ambil dari sini)

Dalam beberapa hari terakhir, mata saya akrab sekali dengan pemberitaan sepak bola gajah. Mulut saya terbuka lebar saat menonton video berdurasi 12 menit di situs youtube, pikiran saya terus melayang dan dalam hati tak henti-hentinya berujar, “ini sepak bola apa??”.

Seorang pemain depan lawan menghalau tendangan pemain belakang yang dengan sengaja, dengan akal dan fikiran waras melakukan gol bunuh diri. Sangat memalukan laga yang terjadi antara PSS Sleman yang bertemu dengan PSIS Semarang dalam delapan besar Divisi Utama, di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, Pada hari Minggu 26 Oktober 2014. Seharusnya ini bukan di sebut laga sebak bola, entah persamaan apa yang tepat untuk pertandingan yang berakhir dengan sekor 3-2 yang di menangkan oleh PSS Sleman. Lima gol yang tercipta dalam pertandingan ini di cetak dengan cara bunuh diri, 2 gol tercipta oleh pemain PSIS Semarang ke gawang mereka sendiri, dan PSS Sleman 3 gol, juga ke gawang mereka sendiri.

Lima belas tahun yang lalu PSIS Semarang Juara Liga Indonesia V, seorang pemain Laskar Mahena Jenar dengan habitus gempal, pendek, kekar namun mempunyai pergerakan cepat dan lincah, membuat stadion Klabat di Kota Manado bergemuruh, pada menit 89 membuat Hendro Kartiko tertunduk lesu. Pada 13 April 1999 Persebaya gagal memboyong piala Liga Indonesia. Dan saya pun tidak bisa membayangkan jika Diego Tugiyo atau Maradona Purwodadi ini melihat pertandingan Minggu lalu, mungkin dia akan berlari ke tengah lapangan, merebut bola, lalu membakar bola tersebut, barangkali merobek-robek jala gawang, atau dengan tubuh mungilnya Tugiyo mengajak duel satu persatu semua pemain yang ada di lapangan sore itu. Sudah barang tentu Tugiyo juga akan merampas peluit pengadil lapangan, dia dengan gagah akan meniup peluit tersebut ke kuping wasit, pelatih dan seluruh official yang terlibat dalam laga tersebut. Atau Tugiyo malah tertawa terpingkal-pingkal melihat dagelan bersandiwara, para aktor lapangan yang sangat lihai memerankan sepak bola gajah. Mati sudah nasib sepak bola negeri ini, dari hulu sampai hilir sama bobroknya, luka busuk yang seharusnya di amputasi, jasad yang seharusnya di cabut nyawanya secara paksa.

***

Albert Einstein berucap “jika orang bersikap baik/berbuat baik hanya karena mereka takut akan hukuman dan berharap akan pahala, maka itu akan sangat menyedihkan. Sebagai orang cerdas nan waras kita semua pasti setuju bahwasanya moralitas tanpa adanya pengawasan dari “sang pengawas” merupakan moralitas sejati, bukan moralitas palsu yang lenyap saat polisi keluar dari pos penjagaannya, atau kamera imajiner yang berada di surga. Alangkah tidak adil bahwa penafsiran kita “jika tidak ada Tuhan dalam sepak bola, maka kenapa repot-repot berbuat baik/bermain fair play?”. Sekalipun benar bermoral dalam sepak bola harus memerlukan Tuhan, hal itu tidak serta merta membenarkan akan eksistensi Tuhan dalam sepak bola, karena dalam sepak bola yang kita butuhkan adalah bola, tanpa bola permainan tidak akan pernah ada.

Bermoral dalam sepak bola tidak memerlukan Tuhan, dalam sepak bola terdapat kesepakatan bersama, kesepakatan yang sesungguhnya dengan sadar dan waras mengenai benar dan salah (fair play), sebuah konsensus yang berlaku secara luas. Mungkin sebagian besar dari kita setuju secara lisan dengan konsensus liberal yang sama menyangkut prinsip-prinsip etis. Kita tidak akan berbuat jahat pada orang lain, kita tidak curang, kita tidak membunuh, tidak melakukan inces, tidak akan melakukan sesuatu kepada orang lain yang kita tidak berharap itu di lakukan kepada kita.
:
  1. Jangan melakukan pada orang lain apa yang mungkin kamu tidak inginkan mereka melakukannya kepadamu.
  2. Dalam semua hal, berusahalah dengan segala kewarasan untuk tidak merugikan.
  3. Perlakukan sesama manusia, sesama mahkluk hidup dan dunia pada umumnya dengan cinta, kejujuran, keyakinan dan penghargaan.
  4. Jangan mengabaikan kejahatan atau enggan menegakkan keadilan, tetapi bersedialah selalu memaafkan kesalahan yang diakui secara sukarela dan disesali dengan jujur.
  5. Jalani hidupmu dengan keceriaan dan kekaguman.
  6. Berusahalah senantiasa mempelajari hal yang baru.
  7. Cobalah suatu hal, ujilah selalu gagasan-gagasanmu berdasarkan fakta-fakta, dan bersiaplah untuk menolak bahkan untuk sebuah keyakinan yang berharga sekalipun jika tidak sesuai dengan fakta-fakta itu.
  8. Janganlah menyensor atau berhenti dari perdebatan, hargailah selalu hak orang lain untuk tidak setuju denganmu.
  9. Bangunlah opini-opini yang mandiri berdasarkan penalaran dan pengalamanmu, jangan biarkan dirimu diarahkan buta oleh orang lain.
  10. Pertanyakan segala sesuatu.
Diatas adalah prinsip-prinsip disebuah logger web, yang tertulis dalam buku The God Delusion, karangan Richard Dawkins. Jika dalam sepak bola kesepuluh prinsip itu dilakukan, niscaya keindahan sepak bola akan kita nikmati. Dengan secangkir kopi, atau pun beberapa kaleng minuman dingin, kita dengan senang hati menonton sebuah hiburan yang memuliakan kejujuran.

***

Dalam mitologi bangsa Aztec, saat para arkeolog menggali kota-kota kuno Mesoamerika, mereka menemukan sebuah bola kaki yang terbuat dari batu. Sebuah permainan yang di lakukan dua buah grup, masing-masing grup harus memasukan bola batu tersebut ke dalam ring. Bola batu tersebut tidak boleh jatuh ke tanah, para pemain juga tidak boleh menggunakan kaki ataupun tangan untuk memainkannnya, mereka harus memukul dengan punggung, dengan pinggang, dengan bahu ataupun kepala, sebuah ritus yang berat, bagian dari peradaban pada waktu itu.

Sudah barang tentu sepak bola memang permainan olah tubuh yang berat, apalagi pesepak bola professional harus mempunyai disiplin tinggi dalam menjaga kebugaran tubuhnya, mereka tidak boleh berbohong pada diri mereka sendiri, bahwasanya saya latihan mengelilingi lapangan bola sebanyak sepuluh kali, tetapi karena pelatih kebugaran sedang tidak melihat maka cukup lima kali saja, tentu pemain bola tersebut rugi, seharusnya daya tahan dalam bermain bola bisa mencapai 90 menit, maka karena saat latihan saja dia tidak jujur, di menit 40 dia sudah kehabisan tenaga. Sudah barang tentu klub rugi, penonton juga merugi, seharusnya menyaksikan pertandingan dengan penuh kecepatan, ini hanya menyaksikan siput-siput pemalas berlari.

Jika pergerakan bola kearah depan, sebagai pemain satu tim sudah menjadi kewajiban kita harus bergerak kedepan, agar dukungan terhadap kawan yang membawa bola lebih maksimal dengan demikian kita akan sangat mudah memenangkan daerah lawan. Itu tadi salah satu prinsip dalam sepak bola saat menyerang, jika saat bertahan, para pemain harus padat, jarak antar lini harus dekat, untuk itu para pemain harus kompak, jika ada salah satu saja pemain tidak bisa kompak, maka hancurlah sebuah tim tersebut.

Namun bagaimana jika sebuah tim bermain kompak untuk menghacurkan timnya sendiri? Atau malah dua tim yang saling kompak untuk sama-sama kalah dengan cara yang tidak semestinya? Ini benar-benar diluar nalar manusia, penghianatan dalam bermoral sepak bola, entah ampunan seperti apa yang harus diberikan. Bahkan mafia-mafia Calciopoli atau sejenisnya akan berlutut menyembah kepada laga kemarin minggu. Sudah barang tentu mereka-mereka yang terlibat dalam sepak bola gajah tidak akan di perbolehkan lagi mengikuti ritus suci ini, sebuah ritus menyuguhkan olah taktik, olah data statistik, permainan strategi yg penuh imajinasi. Sebuah ritus yang meniadakan Tuhan, ritus sepak bola.



Sunday, October 26, 2014

Kerinduan di lihat dari segi pasar Monopoli dan Oligopoli.

*** 
Ya..memang semester satu telah usai, tetapi masih ada beberapa semester kedepan yang harus di selesaikan.  Ada baiknya kita fokus ke semester-semester berikutnya, jangan lagi ada slogan “posisi menetukan prestasi” itu membuat otak kita kerdil. Duh...mendengar orasi seperti itu, seketika penumpang kapal nelayan yang di sulap jadi kapal rekreasi mengeluarkan seluruh isi perutnya, sarapan tadi subuh jadi sia-sia.

Obrolan para mahasiswa kelas karyawan yang bercita-cita lulus dengan predikat cum laude, mereka dan tentu saja ratusan orang yang ada di dalam kapal gladak punya tujuan satu, yaitu melepas kegelisahan isi otak karena peradaban kota Jakarta, kota brengsek yang mengebiri harapan. Saya tidak akan ceritakan bagaimana proses dari pelabuhan Muara Angke menuju pualau Harapan, dan jangan bilang kalau bahagia itu sederhana, bahagia itu butuh proses rumit. HIH

Para calon cum laude itu sudah tiba di Pulau Harapan dengan selamat, tanpa ada luka sedikitpun… hanya isi perut yang tertinggal di plastik hitam,  di dalam tempat sampah. Niatnya kepingin banget piknik keluar Jakarta, eh ternyata Pulau harapan masih berada di wilayah Jakarta, Ya sudahlah… Nasi sudah menjadi ikan bakar dan cabai kecap, kalau keinginan yang muluk-muluk tetapi tidak selalu singkron dengan isi dompet ya gak bakal piknik.

Senang? Sudah barang tentu senang, wong mereka jarang melihat laut, melihat ikan warna-warni berenang di antara batu karang. Coba tanya kepada penduduk lokal pulau Harapan, apakah mereka gak bosan melihat pemandangan laut setiap membuka mata?, barangkali mereka lebih suka melihat keadaan kota Jakarta, melihat gedung-gedung pencakar langit,melihat perumahan kumuh dan padat manusia, melihat kelas-kelas sosial yang saling menjagal, melihat makhluk-makhluk urban yang lucu-lucu dengan penghidupannya, melihat kendaraan berderet parkir rapi di setiap ruas jalanan Ibu Kota, baik pagi hari maupun malam hari, melihat motor sering jalan kaki di trotoar, melihat manusia-manusia tolol yang pemarah. Sudah barang tentu mereka tertawa seraya berkata, kalian itu manusia apa koloni nying-nying (tikus)?

***

Wah tukang siomay tuh…teriak juara kelas, penjual siomay ini kalau menurut dosen Ekonomi Mikro termasuk Pasar Monopoli, karena ia tidak ada saingan. Memang benar, kalau juara kelas omongannya selalu berbobot, tukang siomay saja bisa langsung nyangkut ke pelajaran.

Tapi soal kerinduan, juara kelas tidak serta merta menyenangkan, nasib kadang begitu keji mempertemukan kerinduan dalam pasar monopoli, sebut saja sang juara kelas ini namanya supri, Ia mendambakan teman sekelasnya bernama evi. Dan sekali lagi, kenyataan tak henti-hentinya menertawakan kehidupan ini, kenyataan menurut pasar monopoli ini sangat merugikan supri. Bagaimana tidak merugi, supri hanya bisa menunggu, tidak ada pilihan lain…ia menunggu evi putus dengan pacarnya. HIH. Nasib supri juga di ekploitasi oleh kenyataan, nasib supri tak kalah suramnya dengan teluk Jakarta yang kian hari kian keruh.

Kerinduan tak kalah laknatnya, saat saya ingat dosen mengajarkan pengertian pasar Oligopoli, dimana pasar hanya terdapat beberapa penjual yang saling bersaing dengan jumlah pembeli yang banyak. Maka contoh nyatapun terjadi, Tama nama teman saya. Ia tak kalah suramnya, jika supri dan evi terjebak dalam pasar monopoli, yang mana nasib supri di tentukan oleh evi. Si Tama lain…, nasib dia dalam pasar Oligopoli sangat rumit, di mana ia menunggu jawaban dari Ita, perempuan berhidung pinokio berdarah jawa tapi tak pandai bahasa jawa. Selain jawaban tak kunjung tiba, Tama harus bertarung melawan tokoh-tokoh imajiner Ita di luaran sana, kenapa Ita tak kunjung menjawab kerinduanya, apakah sudah ada lelaki lain di hatinya, terus berkecamuk dalam otak Tama.

Banyak cerita terjadi di pulau Harapan, meskipun harapan supri dan tama sangat melangit tetap saja kenyataan yang menjadi dalangnya. Kerinduan selalu membuat akal sehat seperti tak berarti apa-apa, tetapi kerinduan membuat bunyi-bunyi tersendiri, meskipun tidak beraturan tapi masih bisa di nikmati, mungkin sebagai pelipur sunyi.

Saya tahu pasti apa yang ada di dalam otak supri dan tama, saat bagian otak bernama Amygdala merespon kemarahan, kegelisahaan dan perasaan takut bercampur aduk perasaan terancam. Saat itu pula darah langsung mengalir begitu deras menuju frontal cortex, sejak saat itu kemampuan berpikir secara rasional akan menurun drastis. Jelas efeknya akan berak-berak, bahasa umumnya mencret.

***
Sebentar bung, tulisanmu kok gak nyambung, Dari pasar kok ke mencret mencret?

Hlah terserah saya, wong saya yang bercerita, kok situ sewot…situ ef pe ih ?

               Terus kalau kerinduanmu ibarat pasar apa? Pasar obat terlarang ya? Nanti kamu di tembak mafia lho…lalu mati.

Lambemu…!!


Monday, October 13, 2014

Jomblo adalah Ancaman Bagi Keharmonisan Sebuah Hubungan




Kemampuan tweet/path-mu kok cuma sebatas "menyudutkan" kaum jomblo, seolah-olah mereka itu aib. kamu pernah denger istilah "Pacar Rahasia" ?

Ini bukan soal saya sinis soal “bully-an” kaum-kaum yang berpasangan, bukan sama sekali…tolong jangan berprasangka buruk kepada saya. Ini hanya bentuk kekepedulian saya terhadap kaum-kaum pembully jomblo. Seharusnya kalian itu punya kemampuan kreativitas yang lebih dari sekedar membuat meme lucu-lucuan atau kata-kata mengejek, memang sekali dua kali terlihat lucu, tetapi jika di ulang-ulang akan terlihat kebodohannya. kreativitas kalian terpendam dan binasa karena setiap malam minggu hanya sibuk ngurusin para jomblo.

Apa mungkin pacaran kalian itu hanya sebatas, ketemu, duduk di warung kopi, pesan makanan dan minuman, terus mantengin HP, dan lalu ngebully para Jomblo?. Jika itu yang terjadi, "yangyangan(pacaran)" kalian jauh dari kata romatis, tidak kreatif. Mosok tidak pake’ belai-belai rambut gitu? atau sekedar piknik gelar tikar di bawah pohon jambu mede.

Jadi pacaran kalian tidak pernah mandi bareng? Aaahhh cupu...cupuuuuuu!! Kata temen saya, kalau pacaran ya harus harus mandi bareng. *eits...punya isi kepala jangan dibiasakan ngeres...!! 
Mandi bareng yang saya maksud adalah mandi air hujan, alias hujan-hujanan diatas Vespa, boncengan berdua, atau jika sedang malas basah-basahan, temen saya mampir ke warung kopi, atau malah menikmati beberapa kaleng beer, ngobrol nol kali nol yang membuat mereka semakin dekat dan erat, saling memahami satu sama lain, begitulah seharusnya hubungan yang sehat. Kelewat romantis bukan? tidak...itu biasa saja, hanya hubungan kalian saja yang monoton...Ngesakne.

Atau barangkali pacar kalian lagi jalan bareng sama Pacar Rahasianya? Hloh bisa jadi lho, seharusnya kalian berfikir sampai kesitu…kaum Jomblo itu ancaman nyata, siap menikung kapan saja. Jelas, kaum Jomblo adalah Ancaman Bagi Keharmonisan Sebuah Hubungan.

Kalian tahu, kejahatan paling keji di ranah hubungan antar manusia adalah stereotype. Tanpa kita sadari alam bawah sadar kita secara perlahan-lahan telah membangun stereotype, bahwasanya menjadi jomblo itu menyedihkan, akan tetapi seperti biasa kejahatan pikiran kita itu terbukti salah, contohnya kisah teman saya :

Sebut saja si ANU dia kelihatan jomblo sejak dari pikiran...atau mungkin sejak jaman fir’aun. Tapi sebenarnya dia tidak sendirian, memang ada kalanya kalau malam minggu dia habiskan ngumpul sama teman-temannya, atau nonton bola, mungkin malah ngendon di kamar sekedar baca-baca, atau malah kadang si ANU ini ngopi sendirian di warung kopi mbah Rejo. Tetapi sebenarnya dia adalah seorang Pacar Rahasia!!!

Cerita lengkapnya bisa di lihat DISINI

(sudah dibaca? Bisa lanjut? …Okay)

Tidak usah menghakimi kisah si ANU, kalian sudah pada gede, tak perlu juga menilai kehidupan si ANU, kalian bukan dewan juri ajang pencarian bakat. Lalu…apakah si ANU masih menjadi Pacar Rahasia sampai sekarang? Saya ndak tahu, dia lagi sibuk sama perkuliahan, katanya.

******************************

Jomblo adalah kesunyian masing-masing (pelintiran bait puisi Chairil Anwar), sama halnya Jean Paul Sartre saat menukangi tim sepak bola Perancis “Stade de Germain”, menurut filsuf yang juga pelopor taktik sepak bola “false 9” :
Anybody can be alone in a meaningless universe,  but it takes real skill to be alone in a crowded penalty area.
Ibarat dalam sepak bola, para jomblo ini adalah striker haus gol, yang punya gerakan tanpa bola yang sangat mumpuni, ia merupakan busur panah yang melesat diantara barikade pasukan kavaleri lawan, dan siap-siap mengobrak-abrik jantung pertahan lawan, menari-nari lincah bak Garrincha, mengelabui dan menikung didalam kotak pinalti...lalu gol, namun barangkali ia hanya sebagai pemain cadangan, yaah bisa kita katakan "super sub".

Akan tetapi, biar bagaimanapun seorang jomblo tetaplah kesendirian, meskipun semua orang  bisa saja mendapati kesunyian di semesta ini. Maka dari itu, jadilah jomblo yang berwibawa, jadilah bayang-bayang, yang siap sewaktu-waktu membayangi hubungan sepasang kekasih manusia, membuat babak cerita baru bagi mereka. *nyengir*

Bahwasanya “kejombloan adalah kebahagian dalam bentuk lain”, karena sudah barang tentu kebahagian bukan serta merta milik mereka yang berpasangan, dan bukan berarti pula kebahagian mutlak milikmu wahai kaum jomblo…. Bukan itu. Anton Chekov, seorang penulis cerpen asal Rusia, mengatakan :
“If you are afraid of loneliness, Jangan PACARAN.” (quote ini juga saya pelintir)  
Bukan berarti saya menilai setiap hubungan itu adalah kesepian/kesunyian, tidak…siapa saya berhak menilai hidup kalian, tafsiran kebahagiaan ada di diri kalian sendiri bukan?

Karena hampir semua aspek kehidup ini dikonstruksikan secara sosial, maka carilah makna hubungan antar manusia lain…carilah arti kehidupan kalian sendiri. Menurut Berger dan Luckmann sang ahli sosiologi, Hubungan antara manusia sebagai produsen dan dunia sosial sebagai produknya, yaitu penyesuaian dengan dunia sosiokultural produk manusia, interaksi sosial dalam intersubjektif yang dilembagakan, juga individu yang mengidentifikasi diri ditengah lembaga sosial dimana ia merupakan anggotanya. Jika kalian sudah bisa melihat konstruksi sosial dengan jernih, maka kita dengan lihai menikmati hidup di tengah hingar bingar konsensus bersama, indah rasanya menertawakan kehidupan ini.

Hloh..hloh.. kok ini malah jadi serius… udahlah. 
Buat para Jomblo, ingat… kalian itu ancaman, jika ada yang membully tanpa ampun…..maka dekati pacarnya, sepikin dan hancurkan..!!! eh maksudnya perindah hubungan mereka, buat cerita-cerita baru. *ngikik*

Saturday, October 11, 2014

Romantisme Kerinduan


Rindu tak akan pernah abadi, seperti gincu di bibir yang sedang menikmati kopi, sebagian pudar, sebagian lagi meninggalkan belangnya di cangkir kopi.

Rindu salah satu slogan dari Romantisme, tentang perasaan, tentang pengalaman, tentang imajinasi… tapi bukan berarti aku akan mengagung-agungkan ego kerinduan yang tak terkendali. Bukan, aku tetap akan merindu dengan menciptakan realita-realitaku sendiri. Aku akan menciptakan alam rayaku sendiri, akan ku buat bait-bait impian dan kenyataanku sendiri.

Romantisme tidak melulu memuja kerinduan akan cinta, meskipun di akhir abad 17 lewat buku yang berjudul The Sorrow of Young Werther, drama yang diakhiri penembakan kepalanya sendiri. Menjadi romantis terkadang berbahaya, bagi segelintir orang yang kurang baca. Terdengar lucu memang, sampai-sampai buku tersebut dilarang beredar di Denmark dan Norwegia. Romantisme adalah kerinduan akan alam dan misteri, mungkin kamu memang misteri tetapi aku adalah ruh dari misteri itu.

Bagaimana cara menikmati kerinduan, mungkin dengan secangkir kopi? Atau dengan beberapa kaleng beer? Tentu ditemani cahaya senja yang kian lama kian menghilang? Barangkali kerinduan perihal kehilangan? entahlah.

Kerinduan menghapus keramaian-keramain sekitarmu, masih ingatkah saat kamu berada di tengah hiruk pikuk warung kopi? Kamu menunggu kerinduanmu, maka kamu tidak pedulikan orang-orang di sekitarmu, bahkan cangkir kopi yang seharusnya menjadi teman terbaikmu, teman nyatamu, kamu anggap ia sebagai penghalang, hal yang tidak penting, kamu dan kerinduanmulah yang benar-benar nyata.

Kerinduan yang baik adalah kerinduan yang terbalas, apa pentingnya duduk di dalam satu warung dengan dua cangkir kopi, putung-putung rokok menghiasi asbak, bibir-bibir yang sering menari tetapi pandangan mata kosong? Maka disinilah realitamu, barangkali kamu akan mengumpat keras dengan kerinduanmu itu, atau barangkali kamu akan merengek-rengek belas kasihan? Tidak…jangan pernah lakukan itu…perihal perjuangan, mendengakan kepala adalah perjuangan terakhir, gugur dengan terhormat.

Kerinduan memang terkadang brengsek, ia laksana punguk yang menunggu fajar…lalu padam.