Serenada itu adalah “kita”, tetapi kamu memilih sebuah elegi, tentu saja tidak akan seirama.
Dan ternyata sulit bagimu untuk menjadi “kita”, kamu memilih untuk tetap menjadi Aku dan Kamu.
Aku adalah coca-cola dan kamu memilih pepsi. Adakalanya saya ingat dongeng Bapak tua, Ia dan belahan hatinya lebih suka duduk di restoran siap saji. mereka tidak
pernah menikmati secangkir kopi dengan alunan musik yang berirama sayu-sayu, musik
yang seharusnya cocok untuk gendang telinga yang sudah menua.
Saya tidak pernah tahu ini fenomena apa, saat sepasang
manula duduk berdua, menikmati es krim, 2 ayam paha atas, 2 nasi putih, mugkin
dengan kentang goreng di tambah telur orak-arik, mereka menemukan kebahagiaan
saat semua makanan berjejal dalam mulut dengan hiasan gigi yang mulai ompong, lalu mereka dimanja alunan musik Agnes Monica
yang sekarang sudah Go International, sebuah genre musik berkelas wahid.
Pepsi adalah kunci, kamu akan diusir dari restoran siap saji asal Amerika, jika ada coca-cola
diatas meja, kamu tidak akan bisa bertahan dalam situasi coca-cola, yaitu
situasi yang tidak diinginkan untuk bersanding dengan pepsi. Maka satu-satunya
jalan adalah pelan-pelan pergi, tentu semua akan kembali seperti sedia kala,
tanpa perasaan kaku, hanya cukup berpura-pura dungu.
Si bapak tua mulai berdongeng tentang peradaban Bikini Bottom,
sebuah peradaban absurd. Dimana sebuah busa cuci piring bernyawa, seekor
kepiting yang culas, si plangton yang iri, tentang tupai yang jago
karate, ubur-ubur seperti sutet, kucing peliharaan berbentuk siput, seekor
tentakel yang lihai bermain Clarinet dan bintang laut yang dikutuk dungu.
Dongeng si bapak tua dimulai pada episode “I'm with Stupid” , saat bintang laut
yang dungu bisa berfikir cerdas. Si dungu bersandiwara menjadi cerdas,
sedangkan si busa cuci piring harus terlihat bodoh. Tetapi yang namanya
kepura-puraan, baunya tetap tercium, meski si dungu tidak punya lubang hidung.
Dongengpun berlanjut.....
Ketentraman peradaban Bikini Bottom sempat dibuat onar oleh
kedatangan empat buah kapal selam dari PT. Dumai, kapal-kapal tersebut
mengangkut beribu-ribu botol coca-cola. Beruntung si tupai datang dari rumah pohonnya, ia kaget melihat peradaban bikini bottom porak poranda. Tetapi
dengan sedikit penjelasan dari busa pencuci piring, maka si tupai berhasil mengeluarkan jurus karatenya yang disebut “learning curve”, yaitu
sebuah jurus berbentuk kurva garis, yang menunjukkan hubungan antara waktu yang
diperlukan untuk produksi dan jumlah komulatif unit yang diproduksi. Maka dengan
jurus tersebut total biaya yang digunakan kapal-kapal dari PT. Dumai sudah bisa
diketahui dengan tepat.
*saya tidak akan menjelaskan pemecahan masalah dengan
learning curve, saat UTS kemarin saya mendapat nilai jelek. HIH
Sebenarnya warna dan rasa kita sama, tetapi harapan kita
yang berbeda, kamu dengan ayam paha atas, aku dengan kacang atom. Kamu dimeja
restoran siap saji, aku di trotoar Banjir Kanal Timur. Lebih parah lagi,
aku di campur dengan intisari, minuman para alay yang di marjinalkan kalangan
hipster Bekasi.
***
Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, perang batin yang
tak kunjung padam, akhirnya dengan bantuan teman, saya memberanikan diri untuk ikut retreat di sebuah Vihara di Kota Hujan.
Sebuah metode belajar untuk menuntun manusia mencapai pembebasan, lepas dari
eksistensi yang berulang-ulang (samsara) atau pencerahan sempurna demi
kepentingan semua makhluk.
*karena saya bukan Banthe, maka penjelasan cukup segitu saja, jika masih penasaran coba di googling. (keyword : Lamrim)
“bahwasanya menanam pohon memerlukan proses, kewajiban kita
adalah menjaganya, memupuk, menyirami dan memeliharanya dengan baik. Pohon tersebut
dapat tumbuh atau tidak, semua tergantung pohon itu sendiri. Yang penting kita
sudah merawat sebaik-baiknya dengan penuh upaya dan tenaga, tentu dengan
bersungguh-sungguh. Jika kita memaksa pohon tersebut tetap tumbuh, maka ia akan
mati.”
Saya berharap si coca-cola menjadi penanam pohon, dan si
pepsi menjadi pohonnya. Dalam ajaran Buddha, sang Buddha memberi
kebebasan penuh kepada pengikutnya, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ajaran
Buddha adalah ajaran bertahap. Jika kita hanya bisa menerima sedikit, maka
terimalah sedikit, begitupun sebaliknya. Tidak perlu memaksa dalam
berkehendak.
Saat kehilangan arah, jadikanlah dirimu sebagai
sahabat yang paling baik bagi dirimu sendiri.
*dalam versi saya, cerita di atas benar adanya, tentang si Tama sebagai coca-cola dan si Ita sebagai pepsi. Ahihihihi
*gambar nyomot dari google.
*gambar nyomot dari google.


