Monday, November 24, 2014

Sebelas Lagu Di Kala Hujan


Adalah sebuah fenomena atmosferik bernama hujan, sebuah siklus yang berulang. Siapa yang tidak suka melihat rintik hujan meronta-ronta jatuh di atas aspal, hujan yang menghempas debu trotoar, hujan yang bernyanyi di atas dedauanan, hujan yang menari di atas loteng, hujan yang memanggilmu dari luar jendela kaca. Hujan selalu di indentikan dengan melankolia, barangkali memang benar adanya, kamu mungkin akan menertawakanku, atau menyebutku sebagai manusia melankolis masokis, terserah. 
Namun adakah di benakmu bahwa lagu-lagu yang sering kamu dengar tercipta di saat-saat penulisnya sedang ber-melankolis ria?, melankolia tak melulu soal keburukan, kamu hanya sekedar gengsi saja untuk mengakuinya.

Beberapa tahun terakhir aku hidup di Kota Hujan, kota yang tak pernah bisa berkompromi dengan musim kemarau, selalu ada hari di musim kemarau di mana langit menghempaskan seluruh isi kelembabbannya, yang berwujud air hujan. Aku suka mendengarkan beberapa lagu di kala hujan, lagu yang kunikmati saat mengecap kopi sambil membaca buku, berikut sebelas lagu di kala hujan versiku :

1. Sigur Rós - Samskeyti ( Untitled #3)

Siapa yang tidak tahu band asal Islandia ini, saat mereka tampil di Jakarta aku merinding sejadi-jadinya. Band ini di dapuk bergenre post-rock, meskipun banyak orang beranggapan band ini bergenre campuran antara post-rock, ambient dan dream pop, entahlah mau genrenya apa, yang terpenting aku suka lagu-lagunya.  Sebetulnya sangat sulit memilih lagu-lagu dari Sigur Rós, lagu yang asik untuk dinikmati di kala hujan maupun beranjak tidur.

Namun aku jatuh hati dan memasukan lagu Samskeyti ini dalam playlistku, memang di lagu ini tidak ada suara Jónsi yang melengking-lengking seiring gesekan busur biola pada gitar listriknya, di dalam lagu ini ia bermain gitar bass akustik, Kjarri memainkan keyboard, Orri pada Organ, Goggi memainkan alat musik seperti gambang dalam gamelan Jawa, dan di bantu gesekan violin oleh additional player. Satu kata untuk lagu ini…”Magis”.

2. The Beatles – Rain

Meskipun hujan selalu di pasangkan dengan perasaan melankolis, namun tidak pada lagu ini. Lagu yang di tulis oleh Lennon pada tahun 1966, meskipun Paul mengklaim ikut andil di lagu ini. Ringo Starr juga senang dengan ketukan drum pada lagu ini, walaupun tidak ada gitar yang rumit dari George Horrison, namun lagu ini mepunyai keunikan tersendiri yaitu pada bait terakhir, Lennon membalik lirik lagu tersebut pada saat rekaman lagu ini.

sdaeh rieht edih dna nur yeht semoc niar eht fI

3. Radiohead – 4 Minutes Warning

“This is your warning
Four minute warning”

Thom Yorke adalah seorang pencerah, maka janganlah memposisikan dirimu sebagai judas, itu hanyalah kesia-siaan. Ia adalah tuan bagi labirin kegelapan yang pekat, lentera berada pada imajinarinya, Ia punya kemampuan yang absolute untuk menyalakan maupun mematikan dengan seketika. Entah mengapa aku suka sekali dengan lagu ini, band ini juga sangat di nanti oleh penggemarnya di negeri ini, semoga Radiohead berkenan mampir dengan segera.

Mungkin aku akan mengajakmu saat menontonnya, dan barangkali kita akan bernyanyi bersama.

4. The Stone Roses - Ten Storey Love Song
“It takes time for people to fall in love with you....but it’s inevitable – Ian Brown”
Kata John Squire : "What's about? Love and Death... War and Peace... Morecambe and Wise..." (Elephant Stone) or "It's like scoring the winning goal in the cup final, on a Harley electroglide, dressed like Spiderman" (Made of Stone).

Selain Sigur Rós dan beberapa band luar negeri, aku juga menonton konsernya The Stone Roses di Jakarta tahun lalu, dengan slogan “anak Britpop naik haji”, pecinta band dari Manchester ini berduyun-duyun menuju lapangan D Senayan. Meskipun sempat di guyur hujan, namun konser tetap berjalan. Supaya hajiku mabrur, aku tidak akan Riya dengan bercerita bagaimana konser band tersebut, yang pasti aku sah menjadi Haji Britpop. :D


When your heart is black and broken
And you need a helping hand
When you're so much in love
You don't know just how much you can stand

When your questions go unanswered
And the silence is killing you
Take my hand baby I'm your man
I got love maybe enough for two..

Bolehkah aku menyeduh kopi lagi?, cangkirku tinggal jelaga kopi.

5. The Smiths - Please Please Please Let Me Get What I Want.

Jonny Marr tidak pernah yakin apakah ini lagu cinta atau semacamnya, dan Morrissey terkenal dengan lirik yang puitis, pahit, melankolis, depresi, dan yang pasti ajaib. :D

“"For once in my life, let me get what I want. Lord knows, it would be the first time.”

Penggalan liriknya, terkadang sejenak aku berhenti saat menyanyikan lagu ini, "kapan aku terakhir kali berdoa seraya memohon?”

Nah lagu ini semakin di gandrungi anak-anak muda di era sekarang, siapa lagi kalau bukan gara-gara film yang sedikit “kampret” 500 Days Of Sumer(th 2012), saat Tom Hansen benar-benar jatuh hati dengan Summer Finn, dengan sadar diri Summer tertiba menghilang dari kehidupan Tom. Kopi sachet selalu meninggalkan bunggkusnya. Hih

6. Homogenic –  Destiny

“Destiny, here I am
Giving all my day, I never felt so in love before
forever is not enough
Nothing can tear us apart”

Aku takut di cap tidak nasionalis jika tak memasukan lagu asal negeri sendiri, hehehe. Band dari Bandung ini dapat tempat di playlistku, terutama lagu ini. Lagu destiny juga menjadi soundtrack salah satu film yang harus dan wajib di tonton, apalagi buat pasangan kekasih yang berbeda keyakinan(agama). Cin[t]a, film yang bercerita tentang lelaki Kristen keturunan Tiong Hoa dan perempuan Jawa yang beragama Islam, mereka terjebak dalam kisah cinta yang penuh konflik. Belum pernah nonton? Piknik sana!!!

7. Embrace -  Gravity

Ya.. Coldplay memang jagonya soal lagu menye-menye. Lagu ini di tulis oleh Chris Martin, diberikan kepada sang vokalis Danny McNamara, mereka memang sahabat kental. Chris Martin juga menyanykikan lagu ini, versinya tak kalah menye-menye, dengan suara khas dan permainan pianonya, namun aku lebih memilih versi Embrace.

8. Match Box20 - If You're Gone

Hih..lagi-lagi lagu sendu, tentu saja…perihal lagu semua tentang selera, sama halnya aku tidak bisa mendengarkan lagu-lagu yang di gawangi seorang DJ. Pernah beberapa kali ikut kawan, mendatangi klub dengan lagu berdentum keras dan seorang DJ dengan alat musik elektroniknya, “Lo bakal bisa nikmatin lagu ini tapi harus dalam keadaan setengah sadar”, teriak seorang kawan. Tentu aku hanya menganggukan kepala tanda setuju dengan hal itu. 
Namun aku langsung tersadar, jika nanti semua setengah sadar dan mendekati tidak sadar, bagaimana kita pulang?

Rob Thomas menulis lagu ini pada saat hendak melamar istrinya, karena istrinya tidak pernah benar-benar yakin dengan menikahi seorang musisi.

"If you're gone - baby you need to come home
Cuz there's a little bit of something me
In everything in you"

Masihkah ragu dengan manusi-manusia melankolis? :p

9. Alanis Morissette - King of Pain


I have stood here before inside the pouring rain 
With the world turning circles running 'round my brain 
I guess I always thought that you could end this reign 
But it's my destiny to be the king of pain.

Alanis Morissette piawai membawa lagu dari Sting ini, lirik lagu ini sangat kaya imajinasi. Seperti kita, (atau jika mungkin kamu tidak, ya berarti seperti aku), yang mencoba terbang meski terikat.

10. Jamie Cullum - High and Dry

Jamie Cullum adalas seorang pendosa, ia akan di kutuk dan di biarkan lelah dalam labirin kegelapan, Tuan Yorke yang murka, ...ampunilah Jamie. Cover lagu ini begitu cerdas, seolah-olah semua kesakralan lagu ini musnah. Lagu ini begitu mudah untuk di dengar, yaa apasih yang tidak bisa di lakukan musisi jazz, lagu apapun juga akan terdengar ringan.

11. John Mayer - Perfectly Lonely

Nothing to do, Nowhere to be
A simple little a kind of free
Nothing to do, No one but me
And that's all I need

I'm perfectly lonely, I'm perfectly lonely 
Yeah, Cause I don't belong to anyone 
And nobody belongs to me.

Tertawalah, nyinyirlah… it’s okay, memang begitu adanya. Dalam wawancara dengan John Mayer soal lagu ini,
“is a song about that moment…where the reason with yourself and rationalize with yourself..that you don’t even need anybody else” 
“maybe the idea who loving someone else isn’t even good idea”
Namun beberapa detik kemudian ia bilang... tapi itu sebuah ke bohongan. :p


****************

Untuk saat ini, itulah sebelas lagu yang sering kudengarkan di kala hujan, semua lagu melankolis, menye-menye, depresi, menyedihkan. Kalau itu yang ada di benakmu, mungkin kamu butuh piknik, bukan sekedar piknik yang butuh biaya mahal…bukan itu, piknik sebagai frasa lebih dari itu.

Bukankah kita lebih suka suasana sendu namun jujur dari pada hinggar-bingar pesta yang dusta?. Dan beginilah caraku untuk menikmati hujan, sebagaimana aku menikmatimu. Aku memang jatuh hati dan begitulah adanya…tidak berharap apapun, hanya jatuh hati.

Bagi sebagian orang ini cara yang salah, sebuah platonis. Dan jika perihal jatuh hati adalah sebuah kesalahan, maka marilah menikmati rintik hujan yang jatuh dari langit yang kemudian menghilang di telan bumi... dan semua akan segera berlalu, salam hujan untukmu.



Thursday, November 20, 2014

Warung Kopi Pinggir Trotoar #2

Bagian Kedua.





Adakalanya orang datang dengan beriba cerita tentang kemalangan dirinya, dalam hati akupun berujar “oh kawan, kemalanganmu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kehidupanku, ayolah nikmati saja” . Manusia akan sangat mudah mengejar pencapain mimpi-mimpinya, namun manusia tidak akan pernah puas dengan hal itu, dan ternyata ada satu mimpi yang sangat mahal harganya, yaitu menjadi sederhana dan kemudian bahagia.


Sore ini seperti biasa, seduhan kopi hitam sachet di tambah susu kental manis, namun karena isi perut dalam keadaan nanggung, maka endomeih goreng yang di banjurin kecap manis(mi rebus sih sebenernya, cuma tidak pakai kuah) dan air mineral dalam kemasan gelas yang sedikit membedakan dari sore kemarin.

Matahari sudah menjingga, jalanan dan trotoar sudah dirudapaksa oleh kendaraan bermesin. Aku cukup bosan dengan mimpi-mimpi orang yang berlalu-lalang, semua hanya sebatas mencari kepuasan dengan materi, meskipun materi sudah di dapat, mereka pasti kepingin lebih, lebih dan lebih dari yang mereka punya.  Manusia adalah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi, namun sifatnya rakus dan serakah sejak awal penciptaanya.

Bukan…. aku tidak sedang menyamakan manusia dengan monyet, hanya orang-orang yang tidak punya kemauan membaca yang mengartikan manusia itu sama atau berasal dari monyet, Darwin pun tidak pernah berkata seperti itu. Meskipun  terkadang manusia-manusia mirip sekali kelakuannya dengan monyet…ahihihihi.


Oh ya pernahkah kalian menonton Cosmos: A Spacetime Odyssey acara seri televisi dokumenter tentang sains? Jika iya maka kamu akan setuju, bahwasanya manusia bukan berasal dari monyet(lebih mirip kera sih sebenarnya..hihihihi), apalagi dari tanah liat, manusia mempunyai nenek moyang yang sama dengan monyet ataupun kera.

Di film dokumenter tersebut di ceritakan bahwa Bumi terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu, pada saat itu bumi sangat panas karena reaksi kimia, butuh waktu yang sangat lama sehingga rekasi kimia tersebut menghasilkan zat-zat seperti sekarang ini, yaitu air, udara dan lain sebagainya. Dari reaksi kimia diatas yang tentu membutuhkan waktu yang sangat lama pula, terbentuklah makhluk organik hidup bersel satu. Makhluk bersel satu ini sangat unik, ia dipenuhi dengan unsur kimiawi yang mendukung ia membelah diri, dan memperbanyak diri.


Hehe… aku kali ini memasuki mimpi bocah kecil yang sedang berada di sebuah bajaj berbahan bakar gas, ia sedang bermimpi menjadi ilmuwan, dengan polosnya ia bertanya “apakah benar manusia berevolusi dari kera?”. Anak kecil selalu polos akal pikirannya, manusia dewasa yang meracuni akal dan pikirannya dengan hal-hal yang gaib.


Lalu berjuta-juta makhluk tadi, ada diantaranya yang berbeda, mereka bermutasi. Sebenarnya teori evolusi terdiri dari dua hal, yaitu Mutasi dan Seleksi alam, namun entah mengapa kita sendiri yang terkadang memperumitnya, ya mungkin karena di campur adukan dengan hal yang gaib, yang sebenarnya itu hanya ketidakmampuan kita untuk menjawab divertasi yang ada.

Nah…dari jutaan mutasi yang terjadi secara acak dan menghasilkan berbagai variasi-variasi, sampai akhirnya lautan di penuhi dengan berbagai jenis makhluk yang membelah diri tersebut, terjadi kompetisi dan mereka beradaptasi, dengan cara saling makan satu dengan yang lain(jadi dari asal muasalnya saja manusia sudah saling memakan…HIH)supaya bisa bertahan hidup.

Karena kondisi laut semakin komplek persaingannya, makanan semakin menipis, kompetisi yang sangat kejam membuat organisme-organisme ini membentuk fitur tubuhnya mereka (tentu membutuhkan waktu yang sangat lama), muncullah sirip dan kaki, yang bentuknya seperti ikan, mahkluk tersebut berubah bentuk menjadi mahkluk reptil, dan dari reptil menjadi mahkluk mamalia(tentu dengan waktu yang sangat lama), dan akhirnya menjadilah manusia seperti kita sekarang(tentu dengan waktu yang sangat lama), rakus, selfish dan saling memakan adalah bukti nyata…Buahahaha.


Aku tidak menuntut kalian percaya ceritaku, akupun hanya membaca di sini -> http://t.co/bWGmGCay (All Modern Life on Earth Derived from Common Ancestor) :p

Ya memang, semua mamalia memiliki karakteristik yang sama, karena nenek moyangnya sama, dan semua mahkluk hidup mempunyai kode DNA yang sama. Dan “key stone” yang menjadi dasar teori evolusi adalah Meskipun penampakan luar sama, bukan berarti mereka satu kerabat dan sebaliknya, dua mahkluk dengan berbeda bentuk, bisa jadi mereka adalah satu kerabat. Maka dari itu teori evolusi itu tidak pernah menyatakan manusia itu berasal dari monyet ataupun kera, hanya saja nenek moyangnya sama…ahihihihi.


Mekanismenya gini, Ikan paus dan Beruang, mereka jelas berbeda bentuk dan berbeda alam, namun jika kita lihat secara detil, mereka ternyata satu kerabat. Ikan paus dan beruang, keduanya punya paru-paru, ikan paus tidak selamanya di dalam laut, adakalanya ia harus ke permukaan untuk menghirup oksigen, keduanya hewan vivipar yaitu hewan yang melahirkan anaknya, mana ada ikan paus bertelur, lalu paus dan beruang punya rambut, namun rambut paus sudah mengalami penyusutan.

Contoh lagi, yaitu Burung Elang dan Kelelawar, mereka tampak mirip, bisa terbang dan habitatnya lebih banyak di udara. Akan tetapi jika dilihat lebih detil, ternyata mereka tidak satu kerabat. Kelelawar punya paru-paru seperti hewan mamalia lainya, akan tetapi di dalam paru-paru elang terdapat pundi-pundi udara, yang bertugas menampung udara saat ia terbang. Lalu, kelelawar mempunyai rambut sedangkan elang mempunyai bulu(bisakan membedakan rambut pada kelelawar dan bulu pada elang?), dalam mulut kelelawar ada gigi bahkan ada taringnya yang mirip vampire di film-film horror..hihihi, sedangkan elang mempunyai paruh, kelelawar adalah hewan vivipar yaitu bereproduksi dengan melahirkan, sedangkan elang dengan bertelur atau ovipar.


Dengan adanya bukti genetika yang sangat akurat seperti itu, maka dalam mimpi bocah kecil itu, akupun tidak berani berbohong, bahwasanya manusia di ciptakan dari tanah liat, ataupun ada yang nyiptain. Misalkan ada yang menciptakanpun, mungkin ia hanya menciptakan satu bakteri kecil. :p



Lamunanku sore ini terganggu dengan suara orang “Bang minta rokok, bang minta rokok”, aku terkaget.. sialan orang gila rupanya, akupun penasaran…apakah orang gila ini punya mimpi? bagaimanakah bentuk mimpinya? 


*ini seharusnya saya ngerjain tugas, kenapa malah cerita beginian…syuuraaamm. :(


"gambar diambil dari mbah google"

Sunday, November 16, 2014

Warung Kopi Pinggir Trotoar #1

Bagian Satu.


Apa yang kamu hendak pesan ketika berada di warung kopi? Kopi hitam mungkin? Atau dengan campuran seperti Cappuccino, Latte atau Moka? Sudah barang tentu itu kesemua hanya perihal selera. Tinggal pilih merk kopi yang ada di rendengan layaknya jemuran pakaian dalam. 
Tunggu jangan salah sangka, ini warung kopi pinggir jalan, bukan kafe yang lengkap dengan barista dan mesin peracik kopi, yang belakangan ini menjadi tempat favorit berkumpulnya masyarakat khususnya kawula muda di kota-kota besar negeri ini.

Sudah semestinya semua hal akan di bicarakan di warung kopi. Barangkali tentang pekerjaan, tentang perjalanan, tentang kesukaran, tentang sepak bola, tetang buku-buku, tentang trend hidup yang sedang ramai dan semua tetang keinginan-keinginan yang absurd.

Mang, kopina’ hiji… kopi nu biasa nya’.

Warung kopi pinggir trotoar menyajikan kopi susu, kopi hitam sachet di campur dengan susu kental manis. Aku selalu menambahkan sedikit gula pasir, karena aku sungguh paham tentang persaan gula, ia akan cemburu jika ia tidak di ikut sertakan dalam racikan cangkir kopiku.

Setelah memesan, aku menyeret bangku plastik, sedikit bergeser dari trotoar. Karena sore hari, selain matahari yang mulai berpulang, pengendara motor Ibu Kota ini juga ikut berhamburan pulang. Jam lima lebih dua puluh lima menit, jam yang pas untuk menyaksikan fenomena mobil yang bergerak malas di jalan, dan pemotor yang keranjingan di trotoar.

Aku punya kebiasaan aneh, jika sudah duduk di bangku plastik dan menikmati kopi. Mungkin jika aku hidup di jaman nabi, barangkali aku di anggkat jadi salah satu nabi atau paling tidak manusia sucilah dan selalu di eluh-eluhkan. Kebiasaanku membayangkan mimpi orang-orang yang lalu-lalang ini, aku punya kemampuan untuk merangsak masuk ke alam mimpi mereka, yaa benar... masuk ke alam mimpi manusia lain, tidak percaya..? ya silahkan saja.

Sore itu di mulai dengan, mimpi seorang wanita paruh baya membuatku tersenyum geli. Ia bermimpi menjadi tuan putri, lengkap dengan istana indahnya, tentu dengan dayang-dayang, juga kereta kuda dan sang pangeran yang gagah perkasa, yang ternyata bukanlah suaminya sekarang, mungkin pria idamannya sewaktu remaja dulu. hih...mimpi yang aneh.

Adalagi perempuan muda dan tukang ojek dengan jaket kucelnya, mereka terlihat akrab di atas sepeda motor. Mereka lewat tepat di hadapanku, aku membayangkan mimpi dari kedua orang ini sekaligus. 
Sang perempuan bermimpi tetang kredit mobil dari kantornya, supaya tidak usah repot-repot naik ojek lagi, syukur-syukur segera naik gaji supaya bisa membayar supir, juga ia bermimpi segera menemukan jodoh pria mapan. Seorang pria dengan pekerjaan yang sudah setle, punya rumah di pinggiran Ibu Kota dan juga mempunyai sebuah apartemen yang mungil dan lucu di tengah kota, yaah pokoknya impian setiap masyarakat urbanlah. 
Sedangkan tukang ojek bermimpi…”kapan punya istri secantik ini, si eneng dirumah udah tidak bisa merawat diri, kan kalau punya dua istri enak. Istriku satu bekerja, satu lagi mengurus rumah dan anak-anak, jadi kalau saya ngojek tak perlu lama-lama, kan salah satu istri punya penghasilan sendiri."  Hahahaha mimpimu jek ojek.

Kebanyakan mimpi-mimpi mereka cuma sebatas, ingin bergelimang harta, berkuasa, ingin ini ingin itu, mimpi yang sebatas kompetisi kelas sosial, mimpi-mimpi yang tak akan habis sampai mati.

Namun ada kalanya aku kesulitan dalam merangsak masuk ke mimpi orang-orang yang sudah manula, entah kenapa sulit sekali menemukan mimpi-mimpi mereka. Dan sampai sekarang aku belum menemukan jawaban pasti, hanya menerka-nerka, barangkali sudah bosan dengan pengharapannya.


*nyeruput kopi





Saturday, November 15, 2014

Semangkok Mi Instan


The greatest tragedy in mankind’s entire history may be the hijacking morality by religion.  ~ Arthur C. Clrake.

Dalam benak saya, siang itu seharusnya saya belajar ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Seharusnya belajar mengenai hubungan manusia dengan manusia dan pelbagai permasalahannya. Nyatanya tidak seperti itu, saya di hadapkan dengan sebuah “orasi”, yang mana hal tersebut membawa kembali ingatan saya pada jaman di mana saya gemar sekali beradu argumen tentang Transenden dan Imanen.  Meskipun mengganggu telingga saya, namun akan lebih bijak buat saya sendiri untuk diam dan mendengarkan saja.

Kata (Dia yang namanya tak boleh disebut disini), “gw orangnya oportunis kan ya…jadi...”. okay, cukup segitu saja kata yang diambil. Ya memang ada benarnya, saya harus pandai meletakkan posisi saya sebagai apa dan siapa. Dalam hal di atas, saya menjadi kerbau saja, iya dan manggut-manggut, dari pada nilai saya jelek atau malah tiduk lulus...HIH. Meskipun seharusnya tidak ada apapun atau siapapun di dunia ini kebal kritik…tapi sudahlah, kali ini saya setuju dengan Dia yang namanya tak boleh disebut disini.


Saya pernah membaca sebuah artikel di the citizen daily, di tuliskan bahwa moralitas manusia tidak hanya sebatas karena takut akan hukuman setelah mati atau seberapa banyak berkah yang akan diterima setelah mati. Dalam otak manusia terdapat Sirkuit altruisme dan neuron cermin, yang mana membantu manusia untuk mempunyai moralitas. Manusia berbuat baik bahkan rela mengorbankan dirinya untuk membantu orang di sebabkan oleh Sirkuit altruism dan manusia mampu merasakan kesedihan yang di derita orang lain sehingga munculah rasa empati yang di timbulkan oleh Neuron cermin.

Jadi moralitas tidak ada sangkut pautnya dengan sosok yang sangat di sakralkan, jika untuk berbuat baik masih butuh sosok tersebut, ya silahkan…, Namun alangkah baiknya untuk tidak "semena-mena" dalam menilai moralitas seseorang, yang memang orang tersebut tidak percaya pada sosok yang di sakralkan.
Bukankah berbuat baik tanpa embel-embel pamrih kehidupan setelah mati itu lebih baik? atau jika tidak ingin di perlakukan tidak baik maka janganlah menjahati orang lain, begitu sederhana bukan.
Semacam anekdot menggelitik jika membicarakan moralitas, sebaiknya di telusuri dahulu sejarah moralitas dari jaman purba sampai dengan jaman yang gila ini. Moralitas terus berkembang dan bisa jadi berbeda-beda di suatu wilayah dengan wilayah lainya.

Lots of things happen after you die, They just don’t involve you. ~ Louis C.K.


***********

Akhir-akhir ini budaya pop menghasilkan kata-kata bijak, dengan mengibaratkan hidup ini dengan apapun, “hidup ini bagaikan bla…bla…bla”,
ada juga yang bilang, “hidup ini seperti bla…bla..bla”,
lalu ada yang berkata, “hidup ini seperti bla…bla..bla” dan lain sebagainya.

 Versi saya yaa…hidup itu seperti kicauan burung perkutut “pLer ketekuk…p’Leeer ketekuk kuk”.

Dan sebenarnya saya di minta untuk melanjutkan cerita-ceritaan, kisah asmara melankoli masokis antara supri dan evi (catatan: melankoli masokis buat supri).
Namun saya tidak melihat perkembangan kisah mereka, malah kisah mereka makin menghilang dan kalah pamor dengan kisah kebahagian Tama dengan si hidung pinokio. Hih

Saya di sarankan juga untuk melanjutkan dengan kisah fiksi, namun saya masih harus memikir-mikir hal itu, apakah harus seperti film Interstellar yang mendadak menjadi buah bibir itu? Film yang bias antara Sains atau Pseudosains. Setelah menonton film yang di sutradarai oleh Christopher Nolan, banyak yang komentar , “Kok lubang cacing bisa gitu? Terus kok lubang hitam seperti itu dan lain sebagainya”

Atau malah bikin cerita seperti mini seri di sebuah iklan aplikasi chating, sang sutradara platonic yang melupakan Mamet. Saat Cinta mengejar Rangga di bandara menggunakan mobil Mamet.
Boleh jadi Mamet seperti cabai dalam mie instant, setelah mie, telor dan daun sawi habis di halap, cabai di lupakan dan kemudian di tinggalkan di pinggir mangkok dan tersisih.
Apakah kisah supri akan di biarkan seperti ini, istilah kerennya tidak bisa move on.
Namun tidak bisa move on juga tak buruk-buruk amat, tidak ada bedanya dengan kita…. Bangun pagi buta seperti zombie, bekerja di depan monitor delapan jam/malah lebih, 5 hari dalam satu minggu, demi upah yang akan habis dengan segera, lalu mengulang-ulang sampai tua renta…..OH DEAR!!!

Ah biarkan…kita lihat saja nanti.



*Bung, kisahmu dengan %$%^@#& *bekep lambene*

*Tolong, jangan sebut namanya disini. Sekali kamu sebut, maka dunia kegelapan akan menyeret jiwamu dan melahapmu seperti black hole dengan kekuatan gravitasi mahadahsyat yang tak terhingga...tanpa ampun.

*Hlah memangnya dia itu Voldemort atau sejenis apa?

*Bukan sih…ah entahlah…

*Ingat Bung, jangankan cuma dunia kegelapan, tembok dengan cat putih dan mahal sekalipun, punya bayangan yang paling gelap.

*Coba matiin lampunya, pasti semua gelap.

*Masih ada lentera bung….

*dialog imajiner* :p

Tuesday, November 4, 2014

Cerita yang tak pernah ada


You’re too good for me,  you’re too good to anyone.

Kalimat klise untuk sebuah perpisahan.

Saya kira jawaban itu yang akan di terima Tama, tetapi kenyataan berpihak lain, untuk kali ini kenyataan mulai berkompromi dengan pikiran-pikiran yang rumit. Kenyataan juga bisa berdamai dengan hormon dopamine Tama yang sejak 3 bulan yang lalu acak-acakan secara impulsif.

Saya sendiri sebenarnya enggan melanjutkan cerita-ceritaan ini, saya tidak suka happy ending, namun hutang moral yang harus saya bayar di cerita Tama dan Ita, sesungguhnya bahagia memang perlu pengorbanan, juga kenyataan yang tidak melulu getir, ada residu-residu kebahagiaan disana.

Dan adakalanya kita harus berkompromi dengan ego masing-masing. Saat saya ingin bercerita tentang si Tama yang patah hati karena penolakan, juga segala sesuatunya sudah siap untuk di unggah dan di baca khalayak umum, namun kesemua itu saya urungkan. Meskipun saya sudah menyiapkan playlist lagu buat patah hati, tentu lagu-lagu buat kalangan hipster, tentang beberapa film yang siap menguras air mata Tama karena keterasingan dan juga beberapa bait puisi dari Sapardi jelas tentang getir.

Lalu beberapa kantong kresek kuaci juga sudah tersedia, saat patah hati selain endomieh, kuaci juga bisa di jadikan sahabat karib. Kuaci rela di gigit dari samping kiri, samping kanan, depan belakang, atas maupun bawah tanpa mengeluh kesakitan. Tentu makan kuaci mempunyai filosofi hidup yang teramat tinggi, yaitu apapun di dalam hidup ini, kesemuanya membutuhkan proses. Karena makan kuaci tidak bisa instan, belum ada ilmuwan yang bisa menemukan cara makan kuaci tanpa menggigit kulitnya.


***

Di suatu sore, *ini cerita serius, tolong di baca dengan seksama*

Saat senja mulai mengingsut pergi, senja yang muram, senja dirundung awan kesedihan. Ternyata suasana senja sore itu berbanding lurus dengan isi di grup whatsapp hp saya :

WA dari Tama : “mblo, suram mblo” kemudian di susul dengan “screnshoot gambar” sebuah pesan original dari Ita, di dalam gambar tersebut tertulis secara terperinci, jelas si Tama di tolak dengan mentah-mentah, setelah di gantung selama dua minggu, lalu di lepas ke dalam jurang gelap gulita.

WA Supri : Wah…serius Tam?

WA Saya : Duh Gusti…!! *biar terkesan sangat religius.

Argghhh sebagai teman yang baik, saya langsung googling, kira-kira kalimat apa yang tepat buat menghibur si Tama, tapi tidak juga ketemu kalimat yang bagus, semua sudah di kuasai Mario Teguh…HIH. 
Akhirnya hanya kalimat basi dan jauh dari kesan hipster ini yang tertulis “tidak ada perjuangan yang sia-sia”. Alangkah sedihnya negeri ini, motivator bergincu semakin laris.

Sebetulnya kalimat yang saya hendak kirim adalah kalimat Nyai Ontosoroh kepada Minke, cerita Tetralogi Pulau Buru. Minke sedang mengalami kesedihan yang luar biasa, saat sang kekasih bernama Arnnelies di rebut paksa pengadilan negeri Belanda, pada akhirnya kekasih Minke itupun mati di negeri Ratu Wilhelmina, digrogoti penyakit karena di rundung kesedihan. Nyai Ontosoroh ibu Arnnelies pun berujar “kita Sudah Melawan, Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. “  
Saya jatuh hati pada buku-buku Pramoedya Ananta Toer, andaikan ada perempuan yang menghadiahi buku Pram, pasti langsung saya lamar detik itu juga. Eh.

Waktu bergulir cepat, entah perjuangan apa yang telah Tama lakukan, barangkali ia telah makan kuaci, yang jelas beberapa hari berselang, dengan kepongahnnya si Tama memamerkan kemesraan, di dalam grup WA dengan nama grup “Fokus Pada Cum Laude” :

WA dari Tama : *sebuah screenshoot teronggok kalimat mesra dengan caption “pagi-pagi dapet whatsapp beginian tuh rasanya”.

WA Supri : rasanya pengen gw gampar lo Tam.

WA Saya : “RIYA!!!”.

Lalu kita semua berkelakar tawa….karena bercandaan yang tak mungkin dibeberkan di sini. Kebahagian terkadang absurd, ada sisi gelap yang tak tampak, hati supri. Juga luka-luka yang menganga lainya, pemuja Ita nun jauh diluaran sana, tokoh imajiner Ita yang siap menghantui eksistensi Tama.

Biar bagaimanapun Cerita Tama dan Ita berakhir dengan bahagia, alangkah baiknya saya berucap Selamat, sekedar gincu namun dari lubuk hati yang memang tak dalam.


*ahihihihihi