Kredit: ESO
Kunang-kunang, bisakah ayahku kembali berkelip?
Jangan pernah menangkap
kunang-kunang, ia berasal dari kuku orang mati. Sebuah mitos yang turun-temurun dari para leluhur desaku. Aku selalu penasaran dengan kerlip-kerlip
kunang-kunang, ia terbang diantara parit-parit sawah di desaku, ia adalah bunga
malam nan elok. Tentu aku hanya mengaguminya dari kejauhan, aku takut untuk
sekedar mendekati, apalagi menangkapnya.
****
Kamis lalu ia pulang,
si kunang-kunang lanang melihat ayahnya tergelatak tak berdaya dengan
beralaskan matras. Ayahnya bagai seonggok daging yang bernafas, dan kembali
seperti bayi yang hanya bisa merengek dan berbicara tak tentu arah. Begitulah
kiranya kunang-kunang yang termakan waktu, barangkali hidup kunang-kunang
bagaikan kutukan, entah seberapa pahitnya kutukan itu, nyatanya kehidupan
kunang-kunang terus berjalan, sampai waktu menghisap habis sari-sari kerlipnya.
Kelopak mata si kunang-kunang
sembab, entah berapa banyak air mata yang jatuh, tidak pernah persaannya sebegitu porak-poranda, barangkali ini adalah
puncak kesenduan yang tak terbendung, menangis sejadi-jadinya malam itu.
Kerlip cahaya ayahnya
mulai meredup, si kunang-kunang ketakutan bahwasanya ia tidak akan bisa lagi
bermain di parit-parit sawah dengan ayahnya, malam di desanya akan sunyi, tentu
saja gelap tidak akan pernah indah jika tak ada kunang-kunang. Bagaimana si
kunang-kunang menghadapi kepergian? Atau barangkali hidup kunang-kunang hanya
melawan rasa takut dan sudah barang tentu mengakrabi sunyinya malam? Entahlah.
Ahad siang si
kunang-kunang berangkat ke kota, dengan penuh harap ayahnya bisa di sembuhkan,
konon katanya manusia-manusia kota punya obat yang cukup mujarab.
Si
kunang-kunang : ayah lapar?
Ayah
si kunang-kunang : tidak, dimana sayapku? Kenapa kerlipku? Aku tidak bisa
melihatnya.
Si
kunang-kunang : sabar ayah, kita akan mencari obat ke kota, nanti ayah bisa
terbang dan kerlip ayah akan kembali terang.
Ayah
si kunang-kunang : kamu siapa?
Si
kunang-kunang : aku anakmu, dulu aku dan ayah suka menggoda anak manusia, kita
berkelip dan mereka tak berani mendekat, jika ada anak nakal yang mendekat,
kita meredup, lalu kita terbahak.
Ayah
si kunang-kunang : kamu siapa?
***
Percakapan seperti itu
berulang dalam perjalanan desa menuju kota, ayah kunang-kuang tak pernah
terpejam matanya, ia terus saja berbicara. Si kunang-kunang teringat bahwasanya
demensia adalah hal yang paling ia takutkan, lagi-lagi ia menangis.
Air selalu jernih di desaku
Ia mengalir damai, ada kupu-kupu ada
pula capung kecil yang menari
Sekawanan ikan kecil berlarian di
parit
Kerlip kunang-kunang akan terang
jika malam datang
Aku tak lagi berjumpa kemarin pulang
Mereka pergi….
Malam kesembilan, si
kunang-kunang dengan ketakutan, ayahnya tak kunjung berkelip… yah ini baru permulaan, gumamnya. Badannya
tak lagi lemas, ada sedikit tenaga dalam raga ayah si kunang-kunang, namun
cahaya tetap meredup. Beberapa harapan memang layak untuk di lupakan, namun
banyak harapan yang harus kau lawan. Jangan kau kelewat sedih, apalagi putus
asa, sesekali menangislah, meskipun tak menyelesaikan masalah, ia cukup mujarab
untuk meredakan luapan kesedihanmu.
***
Perlu kamu ketahui
wahai si kunang-kunang, ada beberapa hal di alam semesta ini yang seharusnya
rusak tanpa kita inginkan, ia akan rusak dengan sendirinya. Bintang-bintang di
luar angkasa juga akan meredup, ia pun mati, meledak hancur berkeping-keping. Namun
jangan berkecil hati, kumpulan debu dari bintang yang mati akan
berkumpul dalam segumpal awan gas dan materi kosmis lainya, mereka bertabrakan
dan membentuk objek-objek yang semakin lama semakin membesar, dan bintangpun
terlahir kembali, mereka berkelip lagi.
****
Bapak
Pucung dudu watu dudu gunung
Sangkane ing sebrang
'ngon-ingone sang Bupati
Bapak Pucung yen m'laku lembehan grana
Si kunang-kunang dan
ayah si kunang-kunang nembang(bernyanyi), lagu Bapak Pocung adalah lagu
kesukaan si kunang-kunang, ayah si kunang-kunang sering bernyanyi untuknya. Lagu
yang bercerita bahwasanya makhluk hidup haruslah berbuat baik dan bijaksana. Tak
pernah sedikitpun si kunang-kunang mendapat nasehat-nasehat yang menggurui, ayah si
kunang-kunang hanya menceritakan bait-bait tembang jawa serta penjabarannya,
nembang lan pitutur katanya.
Si kunang-kunang
berharap beribu bahkan berjuta-juta malam lagi ia akan terjaga, menunggu ayahnya kembali berkelip, cahayanya berbinar melukis malam. Meskipun
pada akhirnya, si kunang-kunang dan kesunyian adalah sahabat, suatu keniscayaan untuk memisahkan mereka.
***
Si
kunang-kunang : ayah, mari kita terbang di parit-parit sawah
Ayah
si kunang-kunang : kamu siapa?
[…..]
