Tuesday, December 30, 2014

Manusia Ratusan Tahun



Di sebuah bangku taman kota, tidak ada yang janggal sore itu, semua berjalan seperti adanya, sebuah roda waktu yang berjalan maju dan tidak pernah bisa mundur kebelakang. Beberapa muda-mudi yang sedang mereguk cinta, burung-burung gereja yang menari pada ranting kering. Terlihat dari dalam pagar taman, mobil-mobil mewah melintas tenang, pemotor yang saling berkejaran, bus-bus yang sempoyongan, tukang kopi sepeda keliling menjajakan kopi sachetnya dan “seseorang” duduk termangu, memegang gelas plastik berisi kopi hangat.

Namun angin seperti berhenti berhembus, burung-burung gereja menghilang secara gaib, semesta mematung dan “seseorang” terkelu, saat seorang pria membawa tas kresek berwarna hitam datang menyapanya, bolehkah saya duduk di sampingmu nak?. “seseorang” sedikit kesal dengan teguran “nak”, dalam hati ia berkata “sepertinya kita seumuran, kenapa memanggil saya nak, manusia aneh”.

Dengan sedikit gagap “seseorang” segera menjawab, “silahkan pak”, pria tadi duduk dengan memeluk sebuah tas kresek berwarna hitam. Untuk membunuh sepi, mulut “Seseorang” yang biasanya diam, sekarang berani dan lancang bertanya, maaf pak, kalau boleh tahu namanya siapa? dan dari mana pak?, dengan lugas pria tersebut menjawab, “saya sendiri tidak pernah tahu namaku siapa, saya juga bingung saya berasal dari mana.  “seseorang” terkekeh, ah bapak ini bercanda, lalu pria tersebut tersenyum dan menjawab, “namun jika nama sangatlah penting buatmu, panggil saja saya Manusia Ratusan Tahun, dan saya berasal dari negeri ujung waktu”.

“seseorang” : *lanjut terkekeh*, bagaimana jika reinkarnasi itu ada, dan ternyata bapak lebih muda dariku? tanya “seseorang”.

Manusia Ratusan Tahun : Entahlah, saya belum pernah merasakan mati.

“seseorang” : Maaf Pak, bapak umur berapa? Sepertinya kita seumuran… hehe

Manusia Ratusan Tahun : Saya tidak ingat apapun, yang saya ingat saat teman hidupku pergi meninggalkanku dan sampai sekarang belum juga pulang, kala itu belum ada mesin-mesin yang berderu seperti sekarang, hanya hutan belantara yang lebat.

“seseorang” : *dalam hati* wah pak, jika mau gila jangan mengajak saya, ingat pak…manusia yang ujub akan terkena kenistaan paling durjana, terbongkar semua kebohongannya dan tertimpa malu dengan dirinya sendiri. HIH. *oh iya pak, apa yang bapak peluk itu? Ujar “seseorang”.

Manusia Ratusan Tahun : sebuah koleksi.

“seseorang” : ooh…ternyata manusia dari hutan belantara mempunyai koleksi juga? Hehehe, koleksi apakah itu bapak? *”seseorang” dengan nada jengkel*

Manusia Ratusan Tahun : Pertanyaan.

“seseorang” : Pertanyaan? Apakah bapak juga mengoleksi jawabannya?

Manusia Ratusan Tahun : Tentu, meskipun jawabannya belum tentu benar, namun jawaban sangat penting untuk membuat keputusan, keputusan untuk beraksi atau malah sekedar diam.

“seseorang” : hmmm aneh…bapak ini aneh, bapak menjawab pertanyaan dan jawaban tersebut menimbulkan pertanyaan yang baru.

Manusia Ratusan Tahun : tidak ada yang aneh dari hal itu nak, semua pertanyaan pasti akan menimbulkan pertanyaan lagi, dan selalu bertingkat, cobalah menjawab pertanyaan dari berbagai sudut pandang, dari sudut beberapa orang misalkan.

“seseorang” : Saya semakin tidak mengerti, kita hidup di dunia nyata… benar-benar nyata.

Manusia Ratusan Tahun : benar…dan kita tak perlu meratapi kenyataan, ia terlalu brengsek untuk diratapi.

“seseorang” : jadi apakah makna hidup yang kau bilang brengsek ini?

Manusia Ratusan Tahun : *menggelegar tawa* Hahaha pertanyaanmu klise nak, nanti kamu akan bertanya “bahagia itu apa”, “kenapa ada duka lara jika perihal suka cita menyenangkan”, ”kenapa ada kelaparan jika ternyata nasi padang itu enak”, “kenapa ada peperangan jika duduk bersama dan menikmati kopi itu mengasikan” dan sejenisnya. hahaha makna hidup….kamu masih muda nak, cobalah berfikir yang lebih dari kemampuanmu.

“seseorang” : Bapak ini sedikit pongah, dengan tas kresek hitam itu, serasa bapak ini mengetahui segalanya.

Manusia Ratusan Tahun : tidak nak, bukan begitu maksudku, jika pertanyaanmu “makna hidup itu apa?”, kamu sedang mengasumsikan bahwa eksistensi hidup mempunyai sebuah tujuan akhir dan kamu seolah-olah telah tahu jawaban dari tujuan itu, padahal kamu tidak tahu. Seolah-olah kamu bisa membentuk asumsi sedemikian rupa akan tujuan hidupmu, namun ingat nak…semua itu bisa jadi gagal, entah ditengah perjalanan atau hasil akhir yang tidak sesuai dengan tujuanmu..begitu kira-kira logisnya. Dan jika hal tersebut terjadi, maka seluruh hidupmu di semesta ini hanya diukur dari “tujuan”, misalkan bertujuan ke surga, tak apa..asalkan itu membuat kamu hidup…dan tidak mengganggu manusia lain.

Namun setiap orang mempunya preferensi berbeda-beda dalam memaknai hidup, temukan makna hidupmu sendiri nak.

“seseorang” : jadi apa makna hidupmu?

Manusia Ratusan Tahun : Jujur, saya sendiri tidak benar-benar mengerti, maka… saya mengoleksi pertanyaan dalam tas kresek hitam ini, barangkali makna hidup adalah hidup itu sendiri…entahlah.

Kamu akan berserah diri pada sesuatu yang kamu puja dan agung-agungkan itu, mungkin itu bisa jadi jawaban untukmu, tapi tidak untuk saya, menyerah pasrah pada hal-hal “yang belum tentu ada” bukanlah jalan keluar nak.
Saya hanya menikmati perjalanan hidup ini, menikmati tawa, menikmati duka, menikmati kedatangan, menikmati kepergian, menikmati semua rasa, menikmati hampa, dan semua hal yang saya lalui. Jangan kamu berhenti pada nihilisme, tempatkan makna hidupmu dan esensi hidupmu sendiri, walaupun semu…tapi itu bisa menemanimu sampai akhir nanti.

“seseorang” : Bapak begitu lama hidup, tidakkah ingin mati?

Manusia Ratusan Tahun : mati juga bagian kehidupan, tapi saya tidak ingin mati sebelum teman hidupku pulang.



Friday, December 19, 2014

Sebuah Prosa untuk Anakku, Kelak.

Nak, kejujuran memang membuat manusia jadi jengah.

Wahai anakku, kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan kita hadapi di waktu mendatang, sebuah perjalan hidup yang sebetulnya sederhana namun rumit. Setiap manusia memang mempunyai kemampuan untuk bisa, atau paling tidak sedikit menerka perjalanannya sendiri. Meskipun bisa saja terkaan itu salah kaprah, akan tetapi sudah barang tentu kita bisa mempersiapkan kemungkinan yang akan terjadi.

Anakku, ayah menyebut perjalan hidup dengan sebuah frase, yaitu “piknik”, bukan frase yang sebenarnya, frase yang sedikit sulit untuk di artikan namun gampang sekali jika di praktikan, misalkan…kita selalu di hadapi dengan pelbagai persoalan tentang hidup, kita terlalu sibuk meributkan tetek bengek urusan orang lain, namun jarang sekali berkaca pada diri sendiri, ayah menyebut orang tersebut “kurang piknik”, dan masih banyak lagi contohnya..kelak kamu akan mengerti.

Piknik juga sebuah usaha untuk mengenal diri sendiri, mengenal orang sekitar kita, orang-orang yang datang dan pergi secara tiba-tiba, yang membawa tawa ataupun getir, juga kejujuran ataupun kepalsuan. Barangkali piknik membuat kita terbahak, meringis tangis dan terdiam bisu. Kamu tahu anakku, filsuf seperti Sartre pun bergelinjang hatinya saat perempuan muda asal Kuba bertanya : Tuan Sartre, apa pendapatmu tentang dirimu sendiri ?, Sartre hanya bisa menjawab, “Aku tidak tahu, Aku belum pernah bertemu dengan diriku sendiri”, mungkin Sartre sedikit kurang piknik kala itu.

Anakku yang terlahir dari rahim seorang perempuan istimewa, perempuan yang membelenggu hormon vasopressin ayah. Anakku sayang, jika nanti orang berbicara tentang jatuh cinta itu soal "hati", jatuh cinta itu adalah perasaan yang nihil untuk di jabarkan, jangan pernah kamu percaya hal itu. Jatuh cinta atau ayah menyebutnya “jatuh hati” adalah kinerja otak, darah, hormon-hormon, dan zat kimia lain pada tubuh, semua bisa di jelaskan secara ilmiah.

Kamu hanya perlu mengatakan dan menunjukan saja, tidak perlu berharap berlebih, ingat nak kata seorang author asal kota New York “The person you’re meant to be with will never have to be chased, begged, or given an ultimatum. - Mandy Hale”, jika ia suka dengan kamu, pasti ia akan datang mencarimu, namun jika tidak…, kamu hanya perlu mengatur kinerja hormon dopamine di otakmu dan zat kimia lain dalam tubuhmu. Ingat nak, kamu tidak perlu menghilang darinya, kamu hanya sedikit berjarak, tidak ada yang sulit nak, dan yakinlah semua akan berlalu. Kita akan berdiskusi hal-hal seperti ini, sebuah dialektika di minggu pagi. Kesalahan orangtuaku yang juga kakek dan nenekmu adalah tidak pernah mengajarkan ayahmu “bagaimana menghadapi perihal jatuh hati”, dan ayah tidak akan mengulang kesalahan itu.

***
Perlu kamu tahu nak, sejak kecil ayahmu dididik oleh manusia yang keras hati, keras supaya anaknya kuat mengarungi perjalanan hidup yang penuh gelak tawa sekaligus tangis ini. Dan kamu harus tahu nak, sejak muda kakek dan nenekmu sudah dikebiri oleh orba, propaganda sejarah kelam negeri ini. Dengan di PKI-kan rezim orba, kehidupan kakek dan nenekmu seperti kehilangan asa, namun mereka tidak menyerah pasrah, mereka terus hidup, mereka penuh harap, seperti harapanku padamu wahai anakku. Kelak kamu harus banyak membaca, ayah tidak ingin kamu seperti anak-anak muda yang melek internet namun masih saja bebal dengan paparan orba.


Anakku yang penuh kasih, mungkin ayah tidak mampu membelikan kamu mainan berteknologi mutakhir seperti anak-anak di usiamu, maafkan ayahmu ini nak, karena ayahmu masih perlu membayar cicilan rumah petak yang ukurannya kalah besar dengan kandang kerbau milik kakekmu di kampung dulu. Meskipun keadaan kita akan sulit, namun ayah cukup bangga dan bahagia karena rumah petak tersebut di huni pangeran/putri kecil yaitu kamu, rumah petak dengan perempuan berparas bidadari berhati peri, itulah ibumu.

Anakku yang kuat, mungkin kamu tidak akan seperti anak-anak yang lain, kamu akan asing dengan istilah “mall”, mungkin ayah tidak cukup banyak uang untuk mengajakmu berjalan-jalan di pusat pertokoan Ibu Kota. Namun ayah akan sangat rela dengan mengurangi jatah minum beer atau jatah menghisap kretek ayah, demi membelikan kamu buku-buku. Dengan bangga, ayah akan membuatkan kamu sebuah perpustakaan kecil di pojok rumah petak kita, tempat dimana kamu, ayah dan ibumu bercengkrama, melalui baca kita sedang bermimpi dengan mata terbuka. Kita membangun pondasi keluarga bernama “baca dan bicara”, sudah barang tentu kita akan memperkatakan banyak hal, tentang makna hidup yang absurd, tentang realita-realita yang membuat kita waras terhadap pengharapan.


Anakku sayang, mungkin ayah tidak bisa menina bobokan dan membelai rambutmu setiap malam, mungkin ayah juga tidak banyak waktu mendongengkan folklore-folklore favorit, tentu kamu akan marah pada ayahmu ini, ayah akan sangat maklum dengan hal itu. Dewasa ini kehidupan masyarakat urban memang seperti itu, orang tua seperti orang asing bagi anak-anak mereka. Dan meskipun penghidupan telah menyita hampir seluruh waktu ayah dan juga ibumu, menjadi zombie sekaligus sisifus, dari hari senin hingga jumat, bangun pagi pulang larut malam, lalu mengulang-ulang hal yang sama hingga kami renta. Sudah barang tentu ayah tidak ingin kamu seperti itu, tapi apalah daya ayahmu ini nak, ayah hanya mendampingimu, kamu sendiri yang akan menentukan kemana langkah dan mimpimu.

Nak… jangan pernah khawatir dengan proses pendewasaanmu, sejak terlahir kamu adalah manusia bebas, dan banggalah pada dirimu sendiri wahai anakku, kamu merdeka untuk merajut mimpi-mimpu sendiri. Juga kamu jangan pernah berkecil hati nak, ayah sudah mempersiapkan beberapa buku yang perlu kamu baca, percayalah pada ayahmu ini nak, kelak ketika kamu dewasa nanti, kamu akan merasakan banyak manfaat dari banyak baca. Dengan sedikit satir dan pintar menghadapi koloni-koloni hipokrit negeri ini, mungkin kamu akan mengecap kopi seraya berkata “saya terlalu malas untuk bersibuk seperti kalian, saya terlalu negatif untuk berpikiran positif seperti kalian, saya terlalu pecundang untuk melakukan perubahan besar seperti kalian.…hidup omong kosong”

Anakku yang serba ingin tahu, jangan pernah bosan oleh nasehat ibumu kelak, ibumu adalah perempuan dengan pemikiran dan pengetahuan yang sangat luas, ia tidak akan pernah membelunggumu dengan hanya pasrah akan pengetahuan yang gaib, ia akan memaparkan semua hal kepadamu dengan gamblang dan bernas. Wahai anakku yang berbaik hati, jika suatu hari kamu punya pemikiran yang bersebrangan dengan ibumu, jangan pernah kamu ungkapkan dengan nada banal, kita harus hormati ibumu dengan sehormat-hormatnya. Kamu adalah manusia paling beruntung karena memiliki seorang ibu seperti dewi Kunthi yang berhati Drupadi.


Minggu sore kita akan menikmati musik-musik yang ayah dan ibumu gemari, ayah ditemani kopi, mungkin kamu menikmati susu hangat, dan ibumu menikmati teh celup. Lagi-lagi kita akan “baca dan bicara”, dan kamu akan bertanya apapun kepada ayah, tentang sepak bola, tentang sejarah kakek nenekmu, tentang buku-buku, tentang semua hal yang ada di jagad raya ini. Mungkin ibumu akan berkelakar tawa dengan nada meledek saat mendengar penjelasan ayah, karena ibumu sudah sering mendengar apa yang hendak ayah obrolkan denganmu. Tentu saja ibumu dan kamu juga akan bercerita tentang apapun yang ada di isi kepala kalian, seperti yang ayah bilang “baca dan bicara” adalah pondasi keluarga kita.

Anakku yang penuh riang, suatu hari ayah akan mengajakmu untuk berdiri di tribun stadion, untuk menikmati sebuah ritus bernama sepak bola, mungkin kita akan mengajak ibumu juga, jika ia berkenan. Dan kelak ketika kamu dewasa, kamu akan mengerti kenapa ayahmu gemar sekali dengan sepak bola. oh iya nak, sudah barang tentu kita akan sering sekali menikmati senja dengan mengendarai vespa tua milik ayah. Dan sesekali kita berkendara vespa di tengah rintik hujan, aku sudah mempersiapkan jas hujan khusus buat kamu, bertuliskan "Lebih Baik Naik Vespa". :D

Anakku yang ku nantikan, jika kamu besar nanti kamu harus adil dan juga jujur, itu nasehat ayah buat kamu dan nasehat kakekmu buat ayah. Dan jangan pernah lupa akan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar yang pernah dimilki negeri ini “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”


Ayah sayang padamu nak, peluk hangat dari ayah…sabar ya nak, suatu hari kita akan bertemu, ayah masih dan sedang mencari sosok ibu untukmu.  :p