Ada kehidupan di bangku kereta, silih berganti pantat
manusia.
Ada keceriaan dibangku kereta, mengukir masa dan terekam
disana.
Ada cemburu dibangku kereta, dua pasang syahwat beradu mesra
seolah lupa janji KUA yang membelenggu nafsu fauna.
Ada keheningan dibangku kereta, duduk terpaku dan mimpi
dengan mulut menganga.
Apa yang terjadi dengan Ujang dan ratusan manusia seperti
dia, ketika toa masjid bersuara seolah pengingat waktu, saatnya ia berjumpa
kembali dengan bangku kereta.
Ada murka disana, selayak berebut tahta…. “Bangku itu harus
aku dapatkan, lalu hidupku tenang sampai aku turun dari kereta nantinya
Hidup memang seperti perjalanan kereta, kadang berhenti
karena gangguan persinyalan, bisa juga berhenti karena kereta lain keluar jalur.
Hidup memang seperti kereta, ada tujuan yang harus dicapai
setelah menyinggahi stasiun-stasiun sebelumnya.
Namun ketika kereta sudah mencapai tujuan akhir, maka kereta
harus kembali ke tujuan awal, lalu berjumpa dengan Ujang dan ratusan manusia
seperti Ujang.
Apa yang ada di benak Ujang, ada cinta dibangku kereta, dua
pasang syahwat memadu cerita, seolah mata mereka sedang bersetubuh.
Mungkinkah Ujang dongkol, melihat ketua RT ada di bangku
kereta, seolah mengatur petak-petak bangku dan pantat siapa yang berhak
menempel di bangku kereta.
Juga, apa mungkin Ujang menikmati paduan suara didekat
telinganya? Karena ternyata ketua RT tadi juga merupakan dirigen yang mengatur
mulut mana yang harus terbuka.
Ujang terbelalak matanya, ada dompet dengan tangan jail
disebelahnya. Kemana mulut ujang, apakah sudah terjait? Atau mungkin terpukau
dengan atraksi sirkus “kecepatan tangan” tersebut?
Ujang terbahak-bahak, mendengar ibu-ibu PKK bercerita bahwa
suaminya tak berhasil melakukan serangan fajar di rumah subuh tadi, toa masjid
mendahului serangan suaminya.
Perut Ujang kram? Apa yang terjadi, ooh…ibu PKK tadi
membagikan makanan, tapi Ujang terlewati…hanya ketua RT dan paduan suara yang menikmati.
Ujang termenung, ternyata ekosistem bangku kereta memang
ada, ada hubungan timbal balik disana.
Ujang, “jika kereta ini sebagai matahari yang merupakan
sumber energi bagi ekosistem mereka, lalu aku ini apa?”