Thursday, September 20, 2012

Ujang dan Bangku kereta yang tak pernah kosong



Ada kehidupan di bangku kereta, silih berganti pantat manusia.
Ada keceriaan dibangku kereta, mengukir masa dan terekam disana.
Ada cemburu dibangku kereta, dua pasang syahwat beradu mesra seolah lupa janji KUA yang membelenggu nafsu fauna.
Ada keheningan dibangku kereta, duduk terpaku dan mimpi dengan mulut menganga.

Apa yang terjadi dengan Ujang dan ratusan manusia seperti dia, ketika toa masjid bersuara seolah pengingat waktu, saatnya ia berjumpa kembali dengan bangku kereta.
Ada murka disana, selayak berebut tahta…. “Bangku itu harus aku dapatkan, lalu hidupku tenang sampai aku turun dari kereta nantinya

Hidup memang seperti perjalanan kereta, kadang berhenti karena gangguan persinyalan, bisa juga berhenti karena kereta lain keluar jalur.
Hidup memang seperti kereta, ada tujuan yang harus dicapai setelah menyinggahi stasiun-stasiun sebelumnya.
Namun ketika kereta sudah mencapai tujuan akhir, maka kereta harus kembali ke tujuan awal, lalu berjumpa dengan Ujang dan ratusan manusia seperti Ujang.

Apa yang ada di benak Ujang, ada cinta dibangku kereta, dua pasang syahwat memadu cerita, seolah mata mereka sedang bersetubuh.
Mungkinkah Ujang dongkol, melihat ketua RT ada di bangku kereta, seolah mengatur petak-petak bangku dan pantat siapa yang berhak menempel di bangku kereta.
Juga, apa mungkin Ujang menikmati paduan suara didekat telinganya? Karena ternyata ketua RT tadi juga merupakan dirigen yang mengatur mulut mana yang harus terbuka.
Ujang terbelalak matanya, ada dompet dengan tangan jail disebelahnya. Kemana mulut ujang, apakah sudah terjait? Atau mungkin terpukau dengan atraksi sirkus “kecepatan tangan” tersebut?
Ujang terbahak-bahak, mendengar ibu-ibu PKK bercerita bahwa suaminya tak berhasil melakukan serangan fajar di rumah subuh tadi, toa masjid mendahului serangan suaminya.

Perut Ujang kram? Apa yang terjadi, ooh…ibu PKK tadi membagikan makanan, tapi Ujang terlewati…hanya ketua RT dan paduan suara yang menikmati.
Ujang termenung, ternyata ekosistem bangku kereta memang ada, ada hubungan timbal balik disana.

Ujang, “jika kereta ini sebagai matahari yang merupakan sumber energi bagi ekosistem mereka, lalu aku ini apa?”