Nama saya Koh Ang, meskipun itu
bukan nama lengkap saya, namun setiap orang kerap memanggil saya dengan nama
itu.
Bacang…bacang…bacang.
Jika ada orang yang paling sering
menyerukan kata itu, sayalah orangnya, mungkin lebih sering menyerukan kata
bacang dibandingkan menyerukan kata tuhan. Saya menjajakan kue bacang di daerah
padat penduduk di pusat kota, tidak ada alasan khusus memang, yang jelas kue
bacang saya lebih laku di jual dipemukiman padat dibanding daerah perkantoran
atau perumahan mewah.
Bacang saya cukup enak, bahkan
pelanggan saya sering memuji dengan kalimat “kue bacang yang terenak di jagad
raya ini”, saya hanya tersenyum dan megernyitkan dahi tentu mata sipit saya
sedikit tertutup sehingga mata saya terlihat merem, sedikit berlebihan memang,
tetapi itu cukup membuat saya senang.
Bacang…bacang…bacang.
Saya selalu menjaga kualitas kue
bacang saya, tentu dengan bahan-bahan pilihan pula, ini menjadi masalah khusus
bagi saya, karena bahan-bahan yang baik tentu harganya mahal. Beras ketan saya
dapatkan langsung pada agen beras di pasar induk, daging juga saya membelinya
dari langganan di pasar induk, yang tentu jelas terjamin kesegarannya. Akan
tetapi yang semakin sulit adalah mencari daun bambu, saya suka kepayahan
mencarinya, malahan saya sring tidak berjualan kue bacang, karena tidak ada
pasokan daun bambu. Sebenarnya daun bambu bisa diganti dengan daun pisang atau
daun talas, namun hal itu akan merubah citarasa, dan hal itu yang sangat saya
benci. Dan bumbu-bumbu lainya yang saya pilih dengan hati-hati, tentu kesemua
ini adalah ajaran turun-temurun dari leluhurku, pembuat kue bacang yang sangat
terkenal di kota Jakarta.
Bacang…bacang…bacang.
Beras ketan harus di rendam
semalaman, alasanya? Saya sendiri tidak tahu alasan persisnya, namun saya
pernah mencoba merendam hanya beberapa jam saja, hasilnya? Kue bacang saya
keras, citarasanya nyeleneh, akhirnya saya tidak berani mencoba hal-hal yang
sudah diturunkan oleh leluhurku. Membuat kaldu juga tidak asal-asalan, ukuran
api harus pas, tidak boleh dengan apai terlalu kecil apalagi api yang terlalu
besar, rumit…sangat rumit membuat kue bacang ini.
**Manusia seperti apa penikmat kue
bacang ini ?
***Ini pertanyaan sulit, saya kira
semua orang akan menikmati kue bacang, akan tetapi saya tidak menyarankan
pembeli yang tidak mau memakan daging, karena bacang saya berisikan daging. Tapi
kalau masalah halal atau tidaknya, sebenarnya tidak perlu meminta izin MUI,
karena kue bacang saya sudah pasti dan seratus persen halal.
**Dari kalangan mana saja kue penikmat
kue bacang ini ?
***Waduh, sejatinya sulit sekali
saya menjawabnya, sebenarnya dari kalangan mana saja bisa kok menikmati kue
bacang ini, namun kue bacang ini saya jual di daerah padat penduduk, yang sudah
tentu tingkat ekonominya kurang begitu bagus, dan kue bacang sudah identik
dengan kue “kalangan bawah”, karena harganya juga sangat terjangkau bagi
kalangan bawah. Namun banyak juga kok orang-orang dengan penghasilan menengah
sering menikmati kue bacang buatan saya. Kue bacang tidak kenal struktur sosial
kok…hehe.
**Kue bacang buatan kamu ini sudah
lama keberadaanya, namun dari dulu hanya “segini-segini” saja usahamu.
***Hahaha…saya mengerti maksudmu. Agak
naïf sih saya jawabnya, siapa sih yang tidak mau usahanya berkembang besar,
namun saya ingat pesan leluhur saya, kue bacang ini tidak bisa saya produksi
secara massal/besar. Pernah saya coba membuat kue bacang dengan jumlah yang
besar, hasilnya? Saya kualahan menjualnya, malah tidak habis.
**Kenapa tidak mencari pegawai
baru?
***Belum, belum ada rencana…saya
sendiri masih sanggup kok.
**Sorry koh, saya harus masuk
kerja, sampai ketemu lagi ya koh, terimakasih kue bacangnya.
***Okay bang, selamat bekerja bang.
Bacang…bacang…bacang.
Begitulah kiranya kehidupan pagi
saya, tadi bertemu dengan pegawai kantoran, banyak cerita tentang kue bacang. Lain
waktu saya ceritakan kue bacang yang bertemu dengan anak sekolah, mahasiswa, guru, pemuka agama,
pejabat dan lainya.

