Thursday, June 2, 2016

Cerita tentang Medusa


***

Batik dengan motif parang sudah tersetelika rapi, celana hitam bahan terlihat licin, sepatu hitam mengkilat dengan semir bermerk kiwi, sore itu Evi kawin. Satu tahun sudah kita jarang berkomunikasi, saya masih terlalu sibuk dengan pekerjaan, skripsi hampir amburadul. 

Pesta pernikahan Evi terlihat sangat meriah untuk ukuran masyarakat kelas menengah, pesta dengan tema adat jawa modern, entah sejak kapan adat jawa modern ini diperkenalkan. Panggung gebyok lengkap dengan pernak-pernik lampu hias membuat suasana bertambah meriah. Tentu jenis pesta yang popular semacam ini tidak terlahir begitu saja, hampir semua kalangan masyarakat melakukannya, meskipun beda kelas sosial beda pula harga dan kemeriahannya, kesamaanya terletak pada sisi maraknya usaha catering dan adu gengsi antar manusia.

Setelah mengisi buku tamu saya langsung masuk dan membelah kerumunan orang yang saya tidak kenal, dari antrian untuk bersalaman saya bisa melihat sorot mata Evi yang sangat menawan, masih seperti dahulu kala. Dan lelaki di sebelahnya….seharusnya itu saya.

Selesai memberikan selamat menikah saya langsung pulang, sudah adat saya untuk tidak berlama-lama di pesta pernikahan, meski pesta pernikahan Evi sekalipun. Dari kejauhan seseorang memanggil saya, jelas itu Tama, terlihat juga Ita dan beberapa teman kuliah saya, terpaksa saya mampir dan sedikit basa-basi dengan mereka. Yah…selepas itu, kita semua menghilang, terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, dan memang begitulah peradaban manusia… atau paling tidak saya.

***
Tiga hari yang lalu Evi menghubungi saya, namun tidak sempat terajawab telpon dari Evi, dan saya pun juga tidak ada keinginan untuk menelepon balik, sudah lama saya relakan remah-remah kesunyiannya. Sore ini sebuah pesan singkat terbaca pada layar telepon gengam saya :

“Supri… suami saya ngamuk lagi.”

Timbul pertanyaan saya, mengapa dia memberitahu saya, kenapa harus saya, apa yang sebenarnya terjadi pada Evi, ada masalah apa? Ada orang ketiga?. Tapi tunggu dulu, sebentar saya menjernihkan pikiran dan membaringkan tubuh pada sofa kamar kost. Ini sudah masuk KDRT gumamku, ada mesin pencari saya mengetik “Komnas Perempuan atau LBH untuk KDRT”, sejenak saya berpikir lagi, ah apa mungkin Evi mau suaminya di jebloskan ke penjara?.

Masyarakat negeri ini sungguh lucu, KDRT dianggap ranah privat yang tidak bisa di campuri sembarangan, jelas-jelas terjadi kekerasan di sana, urusan keluarga katanya, tapi kumpul kebo yang sifatnya sama-sama ranah privat bisa di arak massa, tidak bermoral katanya. Saya merasa sedih kepada beberapa perempuan, khususnya yang saya kenal, mereka selalu menganggap remeh perihal bentuk-bentuk kekerasan dalam hubungan pernikahan atau asmara.
Pasangan mereka sering sekali terlihat bias antara cemburu secara ekstrem yang bersifat posesif dan mengekang, mereka mengartikannya sebagai bentuk cinta dan kasih sayang, sering sekali mereka tidak paham adanya penyiksaan dalam suatu hubungan. Mungkin jika terjadi kekerasan secara fisik, baru bisa di sebut penyiksaan, padahal kekerasan bukan hanya fisik saja.

***

Saya masih ingat ketika Evi mengirim pesan yang memberitahu saya jika minggu depan ia ingin menikah, waktu saya sedang bertugas di Papua. Bahagiakah saya? tentu saja tidak, saya berbohong waktu itu, saat membalas pesanmu dengan ucapan “selamat ya, semoga nasib baik menyertai kalian”, tentu saya sedih, ingin sekali saya memberondong pertanyaan demi pertanyaan, untuk apa menikah buru-buru?, memang sudah yakin dengan dia? Dan lain sebagainya, namun itu semua tidak saya lakukan, setelah Evi membalas dengan ucapan “terimakasih yaaa, semoga kamu segera ketemu jodoh yang sesuai keinginanmu ya.”. Saya kemudian balas dengan berkata, “jangan sampai putus hubungan dengan teman-teman dekatmu ya, suatu hari kamu pasti bakal butuh mereka, entah kapan itu”.

Jika di runut  kebelakang, dahulu Evi sering sekali bercerita kalau pasanganya suka memeriksa ponsel miliknya, kadang karena masalah sepele soal postingan di medsos pacarnya sering marah besar, Evi tidak tahu bahwa secara tidak langsung pasanganya menjauhkan dirinya dengan lingkungan sosialnya, ataupun menuduh yang tidak-tidak. Saya pikir dahulu hanya cemburu biasa, sambil terkekeh saya meledek Evi, “membedakan sifat romantis dan posesif saja tidak mampu, mau jadi apa kamu nanti?”. Ah kejamnya saya.

***
“Kamu perempuan merdeka Evi, sudah sepantasnya kamu harus merdeka, saya paham betul tujuan kekerasan yang dilakukan suamimu, ia menanam kontrol terhadapmu”.

Itu balasan pesan chat saya kepada Evi, entah dia membaca atau mungkin di hapus oleh suaminya.

Saya jadi ingat sewaktu saya dan evi sedang membicarakan kasus perkosaan yang dilakukan seorang lelaki yang mempunyai power terhadap perempuan yang merasa tidak di perkosa, padahal ia sedang menjadi korban perkosaan.

Saya bercerita tetang seorang profesor sebuah universitas negeri memberikan kuliah umum soal feminist legal theory, ia bercerita tentang Medusa, yang kemudian saya ceritakan ulang kepada Evi, harapan saya kala itu, ia sadar akan tubuhnya adalah mutlak miliknya, dan tidak seorangpun yang boleh merampasnya.


(riordan.wikia.com)
Pada suatu sore di pinggir pantai terlihat sesosok perempuan bernama Medusa sedang membaca buku, tidak lama kemudian ia menganggalkan pakaiannya dan berenang di pinggiran pantai, di kota Athena yang indah. Tidak lama kemudian dari arah laut munculah seorang laki-laki yang besar dan berotot kuat, bernama Pseudon, ia tergoda saat melihat lekuk tubuh Medusa.
Naluri Pseudon adalah karena Medusa tidak memakai pakain dan berenang sendirian di pinggir laut, maka ia pantas di setubuhi. Medusa tidak terima dan protes, namun Pseudon berdalih karena Medusa membaca buku romansa bernuansa seks, jadi ia pasti terangsang. Kemudian Medusa lapor ke penyidik yang bernama Paris Athena, namun yang di dapat oleh Medusa malah cemooh dan komentar yang merendahkan, “tidak mungkin Pseudon memperkosa kamu wahai Medusa, pasti kamu menggodanya terlebih dahulu”.
Sungguh malang apa yang terjadi dengan Medusa, penyidik kota Athena malah menjatuhkan hukuman terhadap Medusa, karena telah menampilkan lekuk tubuh sehingga membuat lelaki tergoda dan mengundang perkosaan. Hukuman yang diberikan kepada Medusa sungguh mengerikan, rambutnya dikutuk berubah menjadi ular, sedangkan matanya di kutuk menjadi sumur api, jika Medusa melihat lelaki, maka lelaki tersebut langsung terbakar dan menjadi abu. Terjadi kepanikan besar di kota Athena karena keberadaan Medusa, ia dianggap penyebab kesialan seluruh laki-laki di kota Athena, maka ia harus dilenyapkan. 
Kemudian  seorang algojo yang di anggap pahlawan di utus untuk membunuh Medusa, ia bernama Perseus. Berkali-kali Perseus hampir kalah melawan mata Medusa. Nasib sial sedang menimpa Medusa, Perseus tahu kelemahannya, setiap Medusa tidur, ia harus mencopot matanya. Perseus dengan liciknya mencuri mata Medusa, saat Medusa terlelap tidur. Setelah Medusa kehilangan matanya, Perseus berhasil memenggal kepala Medusa. Dewa-Dewi sungguh mulia, dari genangan darah Medusa, muncul sesosok kuda kecil yang bersayap, yang sering di sebut Pegasus, Pegasus adalah dewa kebudayaan.
Dari awal bahwa seluruh pengertian kita tentang hukum dilecehkan dengan cara berpikir patriarkis. Bahwa subjek hukum adalah laki-laki, seharusnya legislasi kita ditulis oleh mereka yang tidak buta huruf terhadap pengetahuan perempuan.


***
Selang berapa lama, Evi membalas “saya habis visum”.
“Saya antar kamu lapor ke polisi”, pesan chat terkirim.





No comments:

Post a Comment