Pergolakan politik dimasa Soekarno terasa menyengsarakan penduduk sebuah desa di Madiun, mereka tercatat dalam sebuah data dikelurahan. Admodjo, ayah Semi yang kiranya petani dengan sebidang tanah, mana tahu ia tentang politik, untuk membacapun ia tidak bisa. Admodjo dan beberapa laki-laki di cokok oleh pejabat desa.
Ayahmu seorang PKI, raut muka semi membisu dan hanya mendengung bising, pikirannya melayang entah kemana. PKI apa itu…? Pemberontak, tidak percaya Tuhan, Semipun semakin bingung.
Beberapa tahun silam, beberapa tokoh di Madiun di culik dan dibunuh karena mereka menentang dan memprotes aksi - aksi golongan “Kiri”. RM Ario Soerjo, Gubernur Jawa Timur pada waktu itu menjadi korban pembunuhan, dr. Moewardi dan beberapa tokoh lainya. Sejak saat itu Madiun merupakan daerah menakutkan.
Apakah Semi tahu tentang apa yang terjadi, tahukah Semi tentang Barisan Tani Indonesia, pergerakan wanita (Gerwani) atau bahkan Stalin. Tentu saja Semi tidak tahu, yang ia tahu hanya bangun pagi-pagi buta, membantu ibunya didapur dan beberapa kegiatan rumah tangga lainya. Sekolah, terlalu mahal untuk ukuran keluarga Admodjo, bisa makan saja sudah lebih dari cukup.
Sejak Merdeka sampai sekarang Semi belum merasakan apa itu Kemerdekaan, apakah Kemerdekaan itu seperti nasi tiwul(nasi dari tepung singkong), apakah nasi jagung, apakah nasi dari padi. Lupakan kemerdekaan semu itu Semi. Lambat laun kehidupan semi mulai berjalan, kejadian demi kejadian mulai terlupakan, penduduk desa yang mayoritas di cap sebagai Komunis tersebut mulai berangsur pulih meskipun jumlah lelaki didesa tersebut berkurang drastis, hampir separuh laki-laki didesa tersebut dicokok dan tak pernah kembali. Konon mereka dikubur di pinggiran hutan desa setempat. Sekarang tinggalah Semi dan Ibunya mengurus sebidang tanah yang dibeli atau bahkan dihibahkan dari seorang tokoh bangsa yaitu DR.Rajiman Wedyodiningrat.
DR.Rajiman Wedyodiningrat datang ke desa Semi sekitar 1935, beliau datang dengan misi memberantas penyakit pes yang waktu itu mewabah di desa Semi dan daerah lainya. Semi perempuan gigih, pekerjaan yang seharusnya dilakukan lelaki ia kerjakan tanpa kenal lelah. Suatu senja semi pulang dari sawah terlihat lelaki besar, berkulit sawo matang dan bersih, tentunya lelaki tersebut bukanlah penduduk sekitar, lelaki tersebut adalah seorang priyayi, anak seorang demang mungkin atau kerabat keraton, ah untuk apa aku pedulikan belum tentu ia peduli, Semi berbisik dalam hati. Dengan menunduk luwes semi pun menyapa, sugeng sonten ndoro(selamat sore tuan). Semi belum berani mendengakkan mukanya, dia tahu betul harus bersikap seperti apa kepada saudara, mungkin kerabat dekat dari DR.Rajiman Wedyodiningrat.
Sejak saat itu hati semi tak karuan rasanya, entah apa yang dia risaukan, setiap hari melamun dan melamun. Kamu kenapa tho nduk, tanya ibunya, mboten nopo-nopo mbok, (kamu ini kenapa, gak kenapa-napa ibu) hlah yo ora mungkin ora ono opo-opo, wong saben ndino kowe kuwi koyo di sambet demit, meneng terus…mikirke sopo? Ndak apa apa kok mbok, aku Cuma inget bapak, ooh ngono tho, yasudahlah bapakmu sudah bahagia, manggon tentrem lan ayem karo Gusti Allah, kata-kata ibu membuat semi tenang meskipun ibu tahu semi sedang berbohong, melamun karena kasmaran.
Ah kok aku malah mikirin ndoro itu, kok aku gak ngaca siapa aku ini, penduduk jelata dan tak pantas memikirkannya. Fajar menyelimuti desa semi, mentari seakan malas untuk bertatap muka denganku, tapi entah kenapa aku lebih semangat untuk berangkat lebih cepat kesawah. Aku tahu….ndoro itukan, semoga aku bertemu lagi dengan ndoro itu, duh Gusti jauhkanlah pikiran tentang ndoro itu.
Dari kejauhan terdengar obrolan beberapa lelaki, ooh itu gubuk pak lurah, sawah semi bersebelahan dengan sawah pak lurah. Mendengar cerita-cerita yang terlontar dari mulut lelaki-lelaki tersebut sontan membuat semi merinding, kata Atmodjo membuat semi sontak berdiri dan berlari mendekati gubuk dan lelaki-lelaki tersebut. Semi lhaa kowe kok ora sopan dadi wong wadon, iki ki ono ndoro kok malah kowe nguping…hloh kok malah nangis, raut muka semi menanar menahan amarah, sudahlah pak lurah biarkan saja, kata-kata yang keluar dari priyayi tersebut membuat semi lega. Apa yang membuat kamu begitu marah terhadap kami, kami tidak pernah membicarakan kamu, tentu saja marah ndoro wong Admodjo niku bapaknya semi. Kontan semi berang, dibukanya caping(topi besar terbuat dari bambu) terburai rambut panjangnya, paras perempuan ayu jawa terlihat di wajah semi, ndoro kaget dengan kecantikan perempuan desa ini. Pak lurah, sampeyan kalo ngomong hati-hati, bapakku bukan PKI….hlah emang bapakmu pernah sholat, ngaji trus nang mesjid, sahut lurah dengan lantang, apakah tidak sholat tidak ngaji tidak ke masjid lantas di cap PKI, tahu apa kamu mi tentang PKI, moco wae or jegos(membaca aja tidak bisa) goblokmu kuwi lhoo. Ndoro menikmati wajah semi yang murka, termenung seakan tidak mempedulikan cek-cok mulut antara semi dan lurah. Benar aku iki ora iso moco, tapi aku ora golblok…semi membela diri, hlah..hla..kok lucu kowe kuwi nduk-nduk, pokoknya bapakku bukan PKI… semipun lari dilemparnya caping tersebut ketanah dan pergi meninggalkan gerombolan lelaki yang dari tadi tak henti-hentinya membicarakan Atmodjo.
Ayahku bukan PKI, aku bukan anak PKI…. Kata-kata itu berkecamuk di otak semi, duh Gusti paringono sabar. Dari kejauhan Ndoro menikmati siluet Semi yang semakin lama semakin menjauh dan hilang diantara pohon jalanan, woo… dadi kuwi anake Admodjo ya pak lurah…tanya ndoro tanpa menatap wajah pak lurah, wah ndoro ndak mungkin tho seneng sama Semi, wong Semi iku orang miskin, rakyat jelata, bapaknya PKI malah, ooh ndak pak lurah, bukan itu maksud saya…jawab ndoro, meskipun dalam hati ndoro tetap mengagumi kecantikan dan keAyuan perempuan desa itu.
Jadi gimana Pak lurah, kenapa penduduk desa sini banyak yang PKI atau dikira PKI lebih tepatnya..tanya ndoro. Jadi gini ndoro, beberapa tahun silam banyak orang-orang dari kota Madiun masuk kedesa-desa, salah satunya desa kami, apa yang mereka lakukan pak lurah…ndoro menyela, meraka diajak rerembukan..jawab pak lurah. Rerembukan seperti apa…tanya ndoro, ya rerembukan…. Pak lurah pun kebingungan dengan apa yang telah ia kataka.
Semi sangat membenci lurah tersebut, manusia laknat, manusia berhati iblis, lurah tersebut yang mengumpulkan penduduk desanya untuk mengikuti perkumpulan “Tanah untuk Kaum Tani” yang diadakan oleh pendatang dari kota Madiun yang mereka sebut PKI. Lurah juga yang mendata mereka yang pernah ikut perkumpulan tersebut untuk di eksekusi, karena mereka disebut anjing-anjing PKI. Dengan kejadian di gubug pak lurah tadi kehidupan Semi berubah, Semi yang tadinya perempuan desa yang lugu berubah drastis, seakan Lurah dan manusia seperti lurah adalah setan yang rela mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri.
Entah dosa apa yang akan kamu terima... duh lurah….
No comments:
Post a Comment