Friday, March 13, 2015

si Kunang-kunang


Kredit: ESO



Kunang-kunang, bisakah ayahku kembali berkelip?

Jangan pernah menangkap kunang-kunang, ia berasal dari kuku orang mati. Sebuah mitos yang turun-temurun dari para leluhur desaku. Aku selalu penasaran dengan kerlip-kerlip kunang-kunang, ia terbang diantara parit-parit sawah di desaku, ia adalah bunga malam nan elok. Tentu aku hanya mengaguminya dari kejauhan, aku takut untuk sekedar mendekati, apalagi menangkapnya.


****

Kamis lalu ia pulang, si kunang-kunang lanang melihat ayahnya tergelatak tak berdaya dengan beralaskan matras. Ayahnya bagai seonggok daging yang bernafas, dan kembali seperti bayi yang hanya bisa merengek dan berbicara tak tentu arah. Begitulah kiranya kunang-kunang yang termakan waktu, barangkali hidup kunang-kunang bagaikan kutukan, entah seberapa pahitnya kutukan itu, nyatanya kehidupan kunang-kunang terus berjalan, sampai waktu menghisap habis sari-sari kerlipnya.


Kelopak mata si kunang-kunang sembab, entah berapa banyak air mata yang jatuh, tidak pernah persaannya  sebegitu porak-poranda, barangkali ini adalah puncak kesenduan yang tak terbendung, menangis sejadi-jadinya malam itu.

Kerlip cahaya ayahnya mulai meredup, si kunang-kunang ketakutan bahwasanya ia tidak akan bisa lagi bermain di parit-parit sawah dengan ayahnya, malam di desanya akan sunyi, tentu saja gelap tidak akan pernah indah jika tak ada kunang-kunang. Bagaimana si kunang-kunang menghadapi kepergian? Atau barangkali hidup kunang-kunang hanya melawan rasa takut dan sudah barang tentu mengakrabi sunyinya malam? Entahlah.


Ahad siang si kunang-kunang berangkat ke kota, dengan penuh harap ayahnya bisa di sembuhkan, konon katanya manusia-manusia kota punya obat yang cukup mujarab.

Si kunang-kunang : ayah lapar?
Ayah si kunang-kunang : tidak, dimana sayapku? Kenapa kerlipku? Aku tidak bisa melihatnya.
Si kunang-kunang : sabar ayah, kita akan mencari obat ke kota, nanti ayah bisa terbang dan kerlip ayah akan kembali terang.
Ayah si kunang-kunang : kamu siapa?
Si kunang-kunang : aku anakmu, dulu aku dan ayah suka menggoda anak manusia, kita berkelip dan mereka tak berani mendekat, jika ada anak nakal yang mendekat, kita meredup, lalu kita terbahak.
Ayah si kunang-kunang : kamu siapa?


***

Percakapan seperti itu berulang dalam perjalanan desa menuju kota, ayah kunang-kuang tak pernah terpejam matanya, ia terus saja berbicara. Si kunang-kunang teringat bahwasanya demensia adalah hal yang paling ia takutkan, lagi-lagi ia menangis.


            Air selalu jernih di desaku
            Ia mengalir damai, ada kupu-kupu ada pula capung kecil yang menari
            Sekawanan ikan kecil berlarian di parit
            Kerlip kunang-kunang akan terang jika malam datang
            Aku tak lagi berjumpa kemarin pulang
            Mereka pergi….


Malam kesembilan, si kunang-kunang dengan ketakutan, ayahnya tak kunjung berkelip… yah ini baru permulaan, gumamnya. Badannya tak lagi lemas, ada sedikit tenaga dalam raga ayah si kunang-kunang, namun cahaya tetap meredup. Beberapa harapan memang layak untuk di lupakan, namun banyak harapan yang harus kau lawan. Jangan kau kelewat sedih, apalagi putus asa, sesekali menangislah, meskipun tak menyelesaikan masalah, ia cukup mujarab untuk meredakan luapan kesedihanmu.


***
Perlu kamu ketahui wahai si kunang-kunang, ada beberapa hal di alam semesta ini yang seharusnya rusak tanpa kita inginkan, ia akan rusak dengan sendirinya. Bintang-bintang di luar angkasa juga akan meredup, ia pun mati, meledak hancur berkeping-keping. Namun jangan berkecil hati, kumpulan debu dari bintang yang mati akan berkumpul dalam segumpal awan gas dan materi kosmis lainya, mereka bertabrakan dan membentuk objek-objek yang semakin lama semakin membesar, dan bintangpun terlahir kembali, mereka berkelip lagi.

****

Bapak Pucung dudu watu dudu gunung

Sangkane ing sebrang

'ngon-ingone sang Bupati

Bapak Pucung yen m'laku lembehan grana


Si kunang-kunang dan ayah si kunang-kunang nembang(bernyanyi), lagu Bapak Pocung adalah lagu kesukaan si kunang-kunang, ayah si kunang-kunang sering bernyanyi untuknya. Lagu yang bercerita bahwasanya makhluk hidup haruslah berbuat baik dan bijaksana. Tak pernah sedikitpun si kunang-kunang mendapat nasehat-nasehat yang menggurui, ayah si kunang-kunang hanya menceritakan bait-bait tembang jawa serta penjabarannya, nembang lan pitutur katanya.

Si kunang-kunang berharap beribu bahkan berjuta-juta malam lagi ia akan terjaga, menunggu ayahnya kembali berkelip, cahayanya berbinar melukis malam. Meskipun pada akhirnya, si kunang-kunang dan kesunyian adalah sahabat, suatu keniscayaan untuk memisahkan mereka.

***
Si kunang-kunang : ayah, mari kita terbang di parit-parit sawah
Ayah si kunang-kunang : kamu siapa?

[…..]


No comments:

Post a Comment