Sebatang rokok masih terselip diantara jari, dan
terkadang ia menari.
udara cukup dingin malam ini, untuk ukuran kota Jakarta…
Kopinya mas,
bapak tua membawa secangkir kopi, terimakasih pak, jawabku.
Menunggu siapa…? ucap bapak tua tadi, sebelum aku jawab...ia meneruskan pertanyaan yang
sebenarnya gumamman seekor burung parkit.
Mas… ini malam minggu… tak
baik melamun di warung kopi, toh lamunanmu itu seperti mimpi. Sambil tertawa
bapak tua kembali sibuk dengan kompor dan air mendidih, sebenarnya mulutku
sudah siap melolong…sejak kapan malam minggu jadi patokan untuk tidak boleh
melamun?, tapi nanti bapak tua ini makin keranjingan bertanya-tanya. akhirnya senyum saja
sudah cukup sebagai isyarat bahwa aku tak mau berbasa-basi malam ini.
…. mimpi, sudah lama aku terbuai.
Barangkali mimpi hanyalah angin lalu, barangkali ia hanya
sebuah isyarat seekor katak kepada hujan.
Aku merindukanmu, saat kita bergumul, saat kita bicara tanpa
henti, tentang music yang tak sembarang orang suka, tentang Ian Curtis yang memutuskan
rantai kesepian dengan gantung diri, tentang vespa tuaku yang tak terurus, tentang gula yang selalu cemburu kepada kopi, tentang kehidupan yang semakin absurd.
Hubungan kita memang tidak sederhana, seperti orang-orang
yang tak benar-benar memiliki kebebasan di bawah sistem kapitalis : “setiap
orang setara di bawah hukum-hukum kompetisi”.
Kamu dengan lelakimu, aku dengan
kesendirianku. mungkin yang sederhana hanyalah tafsiran, karena di dalam kesederhanaan ada
kerumitan dengan proses panjang, yang selalu dikesampingkan karena kita sudah
malas berfikir tentang embel-embel, yang akhirnya berbuah kata premature yaitu "sederhana".
Bagaimana tidak rumit, aku tidak boleh cemburu dengan
lelakimu, sedangkan kamu akan murka kalau ada perempuan lain yang menghiasi
kontak handphoneku, dan aku hanya bisa menangkap bayang-bayangku sendiri yang tak pernah berhenti mendulang angin.
Mungkin kita terlalu sering menertawakan diri, menertawakan
kehidupan ini, menertawakan hujan yang jatuh meronta-meronta diatas trotoar,
lalu hilang.
Bagaiman mengakhiri sesuatu yang tidak pernah dimulai? Adakah
ode pelipur lara yang benar-benar menghapus getir? Sebelum semua itu terjawab,
aku sudah dikebiri dengan pengharapan.
Sebuah batu apung yang bersikap seperti menhir….
*nyala handphone di genggamanku sekaligus memecah lamunanku pada secangkir kopi….sebuah pesan singkat :
“sayang, suamiku ke Bandung tadi sore, balik ke Jakarta
senin malam, kamu ke tempatku ya sekarang”
No comments:
Post a Comment