Friday, February 1, 2013

Jangan ada P*ler di antara kita

Sebatang rokok masih terselip diantara jari, dan terkadang ia menari.
udara cukup dingin malam ini, untuk ukuran kota Jakarta…

Kopinya mas, bapak tua membawa secangkir kopi, terimakasih pak, jawabku.
Menunggu siapa…? ucap bapak tua tadi, sebelum aku jawab...ia meneruskan pertanyaan yang sebenarnya gumamman seekor burung parkit.
Mas… ini malam minggu… tak baik melamun di warung kopi, toh lamunanmu itu seperti mimpi. Sambil tertawa bapak tua kembali sibuk dengan kompor dan air mendidih, sebenarnya mulutku sudah siap melolong…sejak kapan malam minggu jadi patokan untuk tidak boleh melamun?, tapi nanti bapak tua ini makin keranjingan bertanya-tanya. akhirnya senyum saja sudah cukup sebagai isyarat bahwa aku tak mau berbasa-basi malam ini.

…. mimpi, sudah lama aku terbuai.

Barangkali mimpi hanyalah angin lalu, barangkali ia hanya sebuah isyarat seekor katak kepada hujan.
Aku merindukanmu, saat kita bergumul, saat kita bicara tanpa henti, tentang music yang tak sembarang orang suka, tentang Ian Curtis yang memutuskan rantai kesepian dengan gantung diri, tentang vespa tuaku yang tak terurus, tentang gula yang selalu cemburu kepada kopi, tentang kehidupan yang semakin absurd.

Hubungan kita memang tidak sederhana, seperti orang-orang yang tak benar-benar memiliki kebebasan di bawah sistem kapitalis : “setiap orang setara di bawah hukum-hukum kompetisi”.

Kamu dengan lelakimu, aku dengan kesendirianku. mungkin yang sederhana hanyalah tafsiran, karena di dalam kesederhanaan ada kerumitan dengan proses panjang, yang selalu dikesampingkan karena kita sudah malas berfikir tentang embel-embel, yang akhirnya berbuah kata premature yaitu "sederhana".

Bagaimana tidak rumit, aku tidak boleh cemburu dengan lelakimu, sedangkan kamu akan murka kalau ada perempuan lain yang menghiasi kontak handphoneku, dan aku hanya bisa menangkap bayang-bayangku sendiri yang tak pernah berhenti mendulang angin.

Mungkin kita terlalu sering menertawakan diri, menertawakan kehidupan ini, menertawakan hujan yang jatuh meronta-meronta diatas trotoar, lalu hilang.
Bagaiman mengakhiri sesuatu yang tidak pernah dimulai? Adakah ode pelipur lara yang benar-benar menghapus getir? Sebelum semua itu terjawab, aku sudah dikebiri dengan pengharapan.

Sebuah batu apung yang bersikap seperti menhir….

*nyala handphone di genggamanku sekaligus memecah lamunanku pada secangkir kopi….sebuah pesan singkat :
“sayang, suamiku ke Bandung tadi sore, balik ke Jakarta senin malam, kamu ke tempatku ya sekarang”

No comments:

Post a Comment