Karena daya
tangkap retinaku membosankan di matamu, maka sebuah puisi dari Sapardi
[direstoran] akan kubisikan kepadamu wahai telingaku.
Kita berdua saja, duduk. Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput..
Kau entah memesan apa. Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang
deras…
Kau entah memesan apa. Tapi kita berdua saja, duduk. Aku memesan rasa
sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, memesan rasa lapar yang asing
itu.
……………………………………………
Kamu dan cermin yang tersenyum kedalam wajahmu…. dari seutas
benang hingga sebuah meriam...semua ada disana
Sebenarnya aku lebih suka berdongeng dengan gelas kopi,
kretek, asbak dan puntung rokok, tentu...dengan telingamu yg ada disampingku.
Aku tidak akan banyak berdongeng tentang masa laluku, ataupun
bertanya dengan antusias masa lalumu… terdengar klise memang, toh dongeng masa lalu hanyalah bumbu untuk masa sekarang dan masa nanti, yang namanya bumbu, rasanya tidak karuan jika kurang atau kebanyakan.
Tapi aku jatuh hati pada senyum dan gigi yang setengah gingsulmu itu.
Tapi aku jatuh hati pada senyum dan gigi yang setengah gingsulmu itu.
Untuk saat ini aku tidak berdaya dengan perasaanku yang jujur
itu, barangkali ia sementara.
Sudah berapakali aku terperosok kedalam kebahagiaan semu?
Sebuah
perasaan yang tak terlihat, namun dampaknya hingga detik ini masih terasa….aku
dirundung ketakutan yang aku sendiri tak paham darimana asal ketakutan itu,
bagaikan koloni bakteri yang tak tampak…tetapi mematikan.
betapa perihnya, penentang status sosial tapi teronggok tak
berdaya saat menghadapinya. [...sungguh kesiasiaan]
Sejatinya dongeng kita adalah sebuah olah nalar.
...dongeng kita adalah cara kita untuk tetap bersikap waras,
menghadapi kegilaan zaman dengan sistem yg sakit.
Tetaplah disampingku wahai telingaku... untuk sekian lama aku
berhenti berdongeng. dengamu...dongengku akan kembali terucap.
Untuk kamu, jadilah telingaku…maka akan kutemukan dan
menggorok mati ketakutanku-ketakutanku itu.
Untuk kamu, jadilah telingaku…maka kita akan menghiasi
peradaban yang menghisab tenaga dan pikiran waras kita…sungguh menjijikan
peradaban ini.
Untuk kamu, jadilah telingaku…sudah saatnya kita berpesta menyambut perpisahan dua sahabat karib yaitu biang rindu dan kesunyian.
[Boiii… dosen udah ada di kelas woiiii, masih aja bengong]
No comments:
Post a Comment