Nak, kejujuran memang membuat manusia jadi jengah.
Wahai
anakku, kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan kita hadapi di waktu
mendatang, sebuah perjalan hidup yang sebetulnya sederhana namun rumit. Setiap manusia
memang mempunyai kemampuan untuk bisa, atau paling tidak sedikit menerka
perjalanannya sendiri. Meskipun bisa saja terkaan itu salah kaprah, akan tetapi
sudah barang tentu kita bisa mempersiapkan kemungkinan yang akan terjadi.
Anakku,
ayah menyebut perjalan hidup dengan sebuah frase, yaitu “piknik”, bukan frase yang sebenarnya, frase yang sedikit sulit untuk di artikan namun gampang sekali jika di praktikan, misalkan…kita
selalu di hadapi dengan pelbagai persoalan tentang hidup, kita terlalu sibuk
meributkan tetek bengek urusan orang lain, namun jarang sekali berkaca pada
diri sendiri, ayah menyebut orang tersebut “kurang piknik”, dan masih banyak
lagi contohnya..kelak kamu akan mengerti.
Piknik
juga sebuah usaha untuk mengenal diri sendiri, mengenal orang sekitar kita,
orang-orang yang datang dan pergi secara tiba-tiba, yang membawa tawa ataupun
getir, juga kejujuran ataupun kepalsuan. Barangkali piknik membuat kita terbahak, meringis tangis dan terdiam bisu. Kamu
tahu anakku, filsuf seperti Sartre pun bergelinjang hatinya saat perempuan muda
asal Kuba bertanya : Tuan Sartre, apa
pendapatmu tentang dirimu sendiri ?, Sartre hanya bisa menjawab, “Aku tidak tahu, Aku belum pernah bertemu
dengan diriku sendiri”, mungkin Sartre sedikit kurang piknik kala itu.
Anakku
yang terlahir dari rahim seorang perempuan istimewa, perempuan yang membelenggu
hormon vasopressin ayah. Anakku sayang, jika nanti orang berbicara tentang
jatuh cinta itu soal "hati", jatuh cinta itu adalah perasaan
yang nihil untuk di jabarkan, jangan pernah kamu percaya hal itu. Jatuh cinta
atau ayah menyebutnya “jatuh hati” adalah kinerja otak, darah, hormon-hormon,
dan zat kimia lain pada tubuh, semua bisa di jelaskan secara ilmiah.
Kamu
hanya perlu mengatakan dan menunjukan saja, tidak perlu berharap berlebih,
ingat nak kata seorang author asal kota New York “The person you’re
meant to be with will never have to be chased, begged, or given an ultimatum. -
Mandy Hale”, jika ia suka dengan kamu, pasti ia akan datang mencarimu, namun
jika tidak…, kamu hanya perlu mengatur kinerja hormon dopamine di otakmu dan
zat kimia lain dalam tubuhmu. Ingat nak, kamu tidak perlu menghilang darinya,
kamu hanya sedikit berjarak, tidak ada yang sulit nak, dan yakinlah semua akan
berlalu. Kita akan berdiskusi hal-hal seperti ini, sebuah dialektika di
minggu pagi. Kesalahan orangtuaku yang juga kakek dan nenekmu adalah tidak
pernah mengajarkan ayahmu “bagaimana
menghadapi perihal jatuh hati”, dan ayah tidak akan mengulang kesalahan
itu.
***
Perlu
kamu tahu nak, sejak kecil ayahmu dididik oleh manusia yang keras hati, keras
supaya anaknya kuat mengarungi perjalanan hidup yang penuh gelak tawa sekaligus tangis ini. Dan kamu harus tahu
nak, sejak muda kakek dan nenekmu sudah dikebiri oleh orba, propaganda sejarah
kelam negeri ini. Dengan di PKI-kan rezim orba, kehidupan kakek dan nenekmu
seperti kehilangan asa, namun mereka tidak menyerah pasrah, mereka terus hidup,
mereka penuh harap, seperti harapanku padamu wahai anakku. Kelak kamu harus
banyak membaca, ayah tidak ingin kamu seperti anak-anak muda yang melek
internet namun masih saja bebal dengan paparan orba.
Anakku
yang penuh kasih, mungkin ayah tidak mampu membelikan kamu mainan berteknologi
mutakhir seperti anak-anak di usiamu, maafkan ayahmu ini nak, karena ayahmu
masih perlu membayar cicilan rumah petak yang ukurannya kalah besar dengan
kandang kerbau milik kakekmu di kampung dulu. Meskipun keadaan kita akan sulit,
namun ayah cukup bangga dan bahagia karena rumah petak tersebut di huni
pangeran/putri kecil yaitu kamu, rumah petak dengan perempuan berparas bidadari
berhati peri, itulah ibumu.
Anakku
yang kuat, mungkin kamu tidak akan seperti anak-anak yang lain, kamu akan asing
dengan istilah “mall”, mungkin ayah
tidak cukup banyak uang untuk mengajakmu berjalan-jalan di pusat pertokoan Ibu Kota.
Namun ayah akan sangat rela dengan mengurangi jatah minum beer atau jatah
menghisap kretek ayah, demi membelikan kamu buku-buku. Dengan bangga, ayah akan
membuatkan kamu sebuah perpustakaan kecil di pojok rumah petak kita, tempat dimana
kamu, ayah dan ibumu bercengkrama, melalui baca kita sedang bermimpi dengan
mata terbuka. Kita membangun pondasi keluarga bernama “baca dan bicara”, sudah barang tentu kita akan memperkatakan
banyak hal, tentang makna hidup yang absurd, tentang realita-realita yang
membuat kita waras terhadap pengharapan.
Anakku
sayang, mungkin ayah tidak bisa menina bobokan dan membelai rambutmu setiap
malam, mungkin ayah juga tidak banyak waktu mendongengkan folklore-folklore
favorit, tentu kamu akan marah pada ayahmu ini, ayah akan sangat maklum dengan
hal itu. Dewasa ini kehidupan masyarakat urban memang seperti itu, orang tua
seperti orang asing bagi anak-anak mereka. Dan meskipun penghidupan telah
menyita hampir seluruh waktu ayah dan juga ibumu, menjadi zombie sekaligus
sisifus, dari hari senin hingga jumat, bangun pagi pulang larut malam, lalu
mengulang-ulang hal yang sama hingga kami renta. Sudah barang tentu ayah tidak
ingin kamu seperti itu, tapi apalah daya ayahmu ini nak, ayah hanya mendampingimu,
kamu sendiri yang akan menentukan kemana langkah dan mimpimu.
Nak…
jangan pernah khawatir dengan proses pendewasaanmu, sejak terlahir kamu adalah
manusia bebas, dan banggalah pada dirimu sendiri wahai anakku, kamu merdeka
untuk merajut mimpi-mimpu sendiri. Juga kamu jangan pernah berkecil hati nak, ayah
sudah mempersiapkan beberapa buku yang perlu kamu baca, percayalah pada ayahmu
ini nak, kelak ketika kamu dewasa nanti, kamu akan merasakan banyak manfaat
dari banyak baca. Dengan sedikit satir dan pintar menghadapi koloni-koloni
hipokrit negeri ini, mungkin kamu akan mengecap kopi seraya berkata “saya terlalu malas untuk bersibuk seperti
kalian, saya terlalu negatif untuk berpikiran positif seperti kalian, saya
terlalu pecundang untuk melakukan perubahan besar seperti kalian.…hidup omong
kosong”
Anakku
yang serba ingin tahu, jangan pernah bosan oleh nasehat ibumu kelak, ibumu
adalah perempuan dengan pemikiran dan pengetahuan yang sangat luas, ia tidak
akan pernah membelunggumu dengan hanya pasrah akan pengetahuan yang gaib, ia
akan memaparkan semua hal kepadamu dengan gamblang dan bernas. Wahai anakku
yang berbaik hati, jika suatu hari kamu punya pemikiran yang bersebrangan
dengan ibumu, jangan pernah kamu ungkapkan dengan nada banal, kita harus
hormati ibumu dengan sehormat-hormatnya. Kamu adalah manusia paling beruntung
karena memiliki seorang ibu seperti dewi Kunthi yang berhati Drupadi.
Minggu
sore kita akan menikmati musik-musik yang ayah dan ibumu gemari, ayah ditemani kopi,
mungkin kamu menikmati susu hangat, dan ibumu menikmati teh celup. Lagi-lagi
kita akan “baca dan bicara”, dan kamu
akan bertanya apapun kepada ayah, tentang sepak bola, tentang sejarah kakek
nenekmu, tentang buku-buku, tentang semua hal yang ada di jagad raya ini. Mungkin
ibumu akan berkelakar tawa dengan nada meledek saat mendengar penjelasan ayah,
karena ibumu sudah sering mendengar apa yang hendak ayah obrolkan denganmu.
Tentu saja ibumu dan kamu juga akan bercerita tentang apapun yang ada di isi
kepala kalian, seperti yang ayah bilang “baca
dan bicara” adalah pondasi keluarga kita.
Anakku
yang penuh riang, suatu hari ayah akan mengajakmu untuk berdiri di tribun
stadion, untuk menikmati sebuah ritus bernama sepak bola, mungkin kita akan
mengajak ibumu juga, jika ia berkenan. Dan kelak ketika kamu dewasa, kamu akan
mengerti kenapa ayahmu gemar sekali dengan sepak bola. oh iya nak, sudah barang
tentu kita akan sering sekali menikmati senja dengan mengendarai vespa tua
milik ayah. Dan sesekali kita berkendara vespa di tengah rintik hujan, aku
sudah mempersiapkan jas hujan khusus buat kamu, bertuliskan "Lebih Baik Naik Vespa". :D
Anakku
yang ku nantikan, jika kamu besar nanti kamu harus adil dan juga jujur, itu
nasehat ayah buat kamu dan nasehat kakekmu buat ayah. Dan jangan pernah lupa
akan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar yang pernah
dimilki negeri ini “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil
sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
Ayah
sayang padamu nak, peluk hangat dari ayah…sabar ya nak, suatu hari kita akan
bertemu, ayah masih dan sedang mencari sosok ibu untukmu. :p
No comments:
Post a Comment