Di
sebuah bangku taman kota, tidak ada yang janggal sore itu, semua
berjalan seperti adanya, sebuah roda waktu yang berjalan maju dan tidak pernah
bisa mundur kebelakang. Beberapa muda-mudi yang sedang mereguk cinta, burung-burung
gereja yang menari pada ranting kering. Terlihat dari dalam pagar taman, mobil-mobil
mewah melintas tenang, pemotor yang saling berkejaran, bus-bus yang
sempoyongan, tukang kopi sepeda keliling menjajakan kopi sachetnya dan “seseorang”
duduk termangu, memegang gelas plastik berisi kopi hangat.
Namun
angin seperti berhenti berhembus, burung-burung gereja menghilang secara gaib,
semesta mematung dan “seseorang” terkelu, saat seorang pria membawa tas kresek
berwarna hitam datang menyapanya, bolehkah
saya duduk di sampingmu nak?. “seseorang” sedikit kesal dengan teguran
“nak”, dalam hati ia berkata “sepertinya
kita seumuran, kenapa memanggil saya nak, manusia aneh”.
Dengan
sedikit gagap “seseorang” segera menjawab, “silahkan
pak”, pria tadi duduk dengan memeluk sebuah tas kresek berwarna hitam.
Untuk membunuh sepi, mulut “Seseorang” yang biasanya diam, sekarang berani dan
lancang bertanya, maaf pak, kalau boleh tahu
namanya siapa? dan dari mana pak?, dengan lugas pria tersebut menjawab, “saya sendiri tidak pernah tahu namaku
siapa, saya juga bingung saya berasal dari mana. “seseorang” terkekeh, ah bapak ini bercanda, lalu pria tersebut tersenyum dan menjawab, “namun jika nama sangatlah penting buatmu,
panggil saja saya Manusia Ratusan Tahun, dan saya berasal dari negeri ujung
waktu”.
“seseorang”
: *lanjut terkekeh*, bagaimana jika reinkarnasi itu ada, dan ternyata bapak
lebih muda dariku? tanya “seseorang”.
Manusia
Ratusan Tahun : Entahlah, saya belum pernah merasakan mati.
“seseorang”
: Maaf Pak, bapak umur berapa? Sepertinya kita seumuran… hehe
Manusia
Ratusan Tahun : Saya tidak ingat apapun, yang saya ingat saat teman hidupku
pergi meninggalkanku dan sampai sekarang belum juga pulang, kala itu belum ada
mesin-mesin yang berderu seperti sekarang, hanya hutan belantara yang lebat.
“seseorang”
: *dalam hati* wah pak, jika mau gila
jangan mengajak saya, ingat pak…manusia yang ujub akan terkena kenistaan paling
durjana, terbongkar semua kebohongannya dan tertimpa malu dengan dirinya
sendiri. HIH. *oh iya pak, apa yang bapak peluk itu? Ujar “seseorang”.
Manusia
Ratusan Tahun : sebuah koleksi.
“seseorang”
: ooh…ternyata manusia dari hutan belantara mempunyai koleksi juga? Hehehe,
koleksi apakah itu bapak? *”seseorang” dengan nada jengkel*
Manusia
Ratusan Tahun : Pertanyaan.
“seseorang”
: Pertanyaan? Apakah bapak juga mengoleksi jawabannya?
Manusia
Ratusan Tahun : Tentu, meskipun jawabannya belum tentu benar, namun jawaban
sangat penting untuk membuat keputusan, keputusan untuk beraksi atau malah
sekedar diam.
“seseorang”
: hmmm aneh…bapak ini aneh, bapak menjawab pertanyaan dan jawaban tersebut
menimbulkan pertanyaan yang baru.
Manusia
Ratusan Tahun : tidak ada yang aneh dari hal itu nak, semua pertanyaan pasti
akan menimbulkan pertanyaan lagi, dan selalu bertingkat, cobalah menjawab
pertanyaan dari berbagai sudut pandang, dari sudut beberapa orang misalkan.
“seseorang”
: Saya semakin tidak mengerti, kita hidup di dunia nyata… benar-benar nyata.
Manusia Ratusan Tahun : benar…dan kita tak perlu meratapi kenyataan, ia terlalu brengsek untuk diratapi.
“seseorang”
: jadi apakah makna hidup yang kau bilang brengsek ini?
Manusia
Ratusan Tahun : *menggelegar tawa* Hahaha pertanyaanmu klise nak, nanti kamu
akan bertanya “bahagia itu apa”, “kenapa
ada duka lara jika perihal suka cita menyenangkan”, ”kenapa ada kelaparan jika
ternyata nasi padang itu enak”, “kenapa ada peperangan jika duduk bersama dan
menikmati kopi itu mengasikan” dan sejenisnya. hahaha makna hidup….kamu
masih muda nak, cobalah berfikir yang lebih dari kemampuanmu.
“seseorang”
: Bapak ini sedikit pongah, dengan tas kresek hitam itu, serasa bapak ini
mengetahui segalanya.
Manusia
Ratusan Tahun : tidak nak, bukan begitu maksudku, jika pertanyaanmu “makna
hidup itu apa?”, kamu sedang mengasumsikan bahwa eksistensi hidup mempunyai sebuah
tujuan akhir dan kamu seolah-olah telah tahu jawaban dari tujuan itu, padahal
kamu tidak tahu. Seolah-olah kamu bisa membentuk asumsi sedemikian rupa akan tujuan
hidupmu, namun ingat nak…semua itu bisa jadi gagal, entah ditengah perjalanan
atau hasil akhir yang tidak sesuai dengan tujuanmu..begitu kira-kira logisnya. Dan
jika hal tersebut terjadi, maka seluruh hidupmu di semesta ini hanya diukur
dari “tujuan”, misalkan bertujuan ke surga, tak apa..asalkan itu membuat kamu
hidup…dan tidak mengganggu manusia lain.
Namun
setiap orang mempunya preferensi berbeda-beda dalam memaknai hidup, temukan
makna hidupmu sendiri nak.
“seseorang”
: jadi apa makna hidupmu?
Manusia
Ratusan Tahun : Jujur, saya sendiri tidak benar-benar mengerti, maka… saya mengoleksi
pertanyaan dalam tas kresek hitam ini, barangkali makna hidup adalah hidup itu
sendiri…entahlah.
Kamu
akan berserah diri pada sesuatu yang kamu puja dan agung-agungkan itu, mungkin
itu bisa jadi jawaban untukmu, tapi tidak untuk saya, menyerah pasrah pada
hal-hal “yang belum tentu ada” bukanlah jalan keluar nak.
Saya
hanya menikmati perjalanan hidup ini, menikmati tawa, menikmati duka, menikmati
kedatangan, menikmati kepergian, menikmati semua rasa, menikmati hampa, dan
semua hal yang saya lalui. Jangan kamu berhenti pada nihilisme, tempatkan makna
hidupmu dan esensi hidupmu sendiri, walaupun semu…tapi itu bisa menemanimu
sampai akhir nanti.
“seseorang” : Bapak begitu lama hidup,
tidakkah ingin mati?
Manusia
Ratusan Tahun : mati juga bagian kehidupan, tapi saya tidak ingin mati sebelum
teman hidupku pulang.
No comments:
Post a Comment