Bolehkah kita menyeka
air mata barang sejenak?, air mata yang sudah mengering, seperti perigi di musim kemarau yang panjang.
Tentang harapan yang tanpa basa-basi, ia
terlahir dari kelakar yang bijaksana, ia tumbuh dari realitas-realitas yang
ada, namun di balik kata "yasudah" ada “harapan” yang tak pernah sampai, “harapan” yang berhenti di tengah jalan.
Barangkali ia adalah
buah kesombongan di balik kata tegar, barangkali ia kepura-puraan belaka,
melelahkan bukan?
Hidup memang menuntut
untuk berjalan maju, tanpa embel-embel masa lalu, karena masa kini adalah buah
dari keputusan masa lalu. Penyesalan hanya akan membuatmu kerdil, teruslah
yakin dengan “harapan”, ia adalah
sumbu sekaligus api kehidupan.
*Jadi apa yang kamu
harapkan dari perigi yang kian mengering itu?
Biarkan ia seperti
adanya, “harapan” yang mengekang
adalah penjajahan.
[“ganti kata “harapan” dengan kata “cinta”]
No comments:
Post a Comment