Saturday, September 5, 2015

Keretamu tiba pukul 08.54, mari aku antar sampai peron.

Kepergian adalah suatu hal yang benar-benar niscaya untuk dapat dimengerti, sekiranya kepergian menjadi bagian dari kehidupan yang tidak akan terelakan, meskipun saya berharap lebih dari sekedar itu. Kepergian bukan hanya menghilang meninggalkan bekas-bekas dalam ingatan lalu hanyut ke dasar laut, kepergian bukan pula kesunyian diantara gesekan daun-daun bambu yang terkoyak angin.
Kenyataan yang sudah seperti sedulur papat limo pancer kakang kawah adi ari-ari, kali ini ia urung berpihak, saya benar-benar dihadapi dengan kepergian.
****
Saat Ia terpuruk dalam geger sejarah negeri ini, Ia bergegas bangkit, saat Ia tertindas, Ia tak kenal rasa takut, meski Ia hanya terpatung.
Seumpama kamu pernah mengenalnya, kamu tidak akan pernah dibiarkan menggigil kedinginan di bawah guyuran hujan. Ia akan membuatkanmu gubuk kecil dari rajutan jerami, Ia akan menyuguhkanmu singkong bakar yang empuk, juga seduhan teh panas dengan gelas yang dipenuhi kepulan asap dengan wangi melati. Barangkali Ia juga akan menghiburmu dengan tembang macapat atau malah Ia akan mendongengkanmu cerita wayang atau nawang wulan sampai kamu terlelap tidur.
Pada musim kemarau, saat sinar matahari meretakan seluruh permukaan tanah pesawahan, Ia tidak akan membiarkan itu terjadi pada ubun-ubun kepalamu. Dengan suka rela, Ia menyerahkan capingnya kepadamu. Jangan pernah kaget jika Ia akan menghilang, sejenak Ia akan muncul kembali dengan membawa obat mujarab yang segera meredakan dahagamu.
Jangan pernah takut denganya, Ia memang seperti seorang bisu yang gemar bernyanyi, Ia tidak akan pernah menggurui dengan kata-kata bijaksana, Ia juga tidak akan pernah bersumpah serapah kepadamu, kamu hanya disarankan untuk berpikir, berpikir dan berpikir.
Oh iya, jangan pernah kamu meminta sesuatu yang tak bisa Ia lakukan, Ia akan sedih sejadi-jadinya, jika Ia tidak bisa mengabulkan permintaanmu, Ia arca yang bisa mengeluarkan air mata.
Perihal kesederhanaan, kemurahan hati, teposliro, menghormati hidup, dan Sangkan Paraning Dumadhi, Ia adalah panutanku.
Ia terlahir disaat negeri ini masih menjadi budak seorang ratu Belanda, Ia tumbuh menuju remaja saat tentara Jepang tiba. Jangan pernah bercerita perkara kesukaran hidup dengannya, karena hanya senyuman kecut yang akan kamu terima. Ia pernah kehilangan haknya sebagai manusia utuh di negeri ini, Ia juga pernah menjadi budak oleh bangsanya sendiri, setidaknya beberapa dekade saat era orba berkuasa.
Saya bangga sekali dengannya, bangga pernah digendong melewati pematang-pematang sawah, bangga pernah menaiki alat pembajak sawah luku dan garu miliknya, bangga pernah berenang di kali dengan kerbau-kerbau kesayangannya, bangga pernah diajak menari diantara hamparan padi hijau yang segera menguning, bangga pernah mendengar tembang macapat dan dongeng darinya. Dan sudah barang tentu, saya bangga menjadi bagian hidupnya. Mungkin jika diadu, semua lelaki di kolong langit manapun tidak akan bisa menandingi kemurahan hatinya, dan barangkali Ia adalah titisan Bathara Bayu.
****
Yang menakutkan dalam hidup ini adalah menjadi tua, ingatan dan tubuh yang termakan waktu. Wajah patung yang selama ini mengeras, mendadak luluh dalam pertarungannya, detik-detik kepergiannya yang mengingatkanku, bahwasannya manusia memang harus menangis.


Kereta menjemputnya jumat pagi pukul 08.54, Ia adalah Bapakku….aku yang dengan pongah melawan “kepergian” akhirnya tumbang dan kalah. Dan kepergian adalah kerabat bagi kesunyian, yang selakyaknya harus diakrabi.
Selamat jalan Bapak, semoga perjalanan kereta Bapak penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Jangan pernah khawatir, cerita tentang Bapak, tentang tembang-tembang dan dongeng Bapak akan aku wariskan ke anak dan cucuku kelak.
Barangkali kita akan bertemu di suatu stasiun, Bapak menikmati teh panas dengan wangi melati, lintingan tembakau dan cengkih kesukaan Bapak, lalu aku akan duduk disamping Bapak, mendengarkan tembang macapat “Bapak Pocung” kesukaanku.


Terimakasih Bapak, dari anakmu yang terlewat daif… Maafkan aku.

No comments:

Post a Comment