Friday, October 31, 2014

Dalam Kurva Pembelajaran, Aku coca-cola dan Kamu Pepsi.



Serenada itu adalah “kita”, tetapi kamu memilih sebuah elegi, tentu saja tidak akan seirama.
Dan ternyata sulit bagimu untuk menjadi “kita”, kamu memilih untuk tetap menjadi Aku dan Kamu.

Aku adalah coca-cola dan kamu memilih pepsi. Adakalanya saya ingat dongeng Bapak tua, Ia dan belahan hatinya lebih suka duduk di restoran siap saji. mereka tidak pernah menikmati secangkir kopi dengan alunan musik yang berirama sayu-sayu, musik yang seharusnya cocok untuk gendang telinga yang sudah menua.

Saya tidak pernah tahu ini fenomena apa, saat sepasang manula duduk berdua, menikmati es krim, 2 ayam paha atas, 2 nasi putih, mugkin dengan kentang goreng di tambah telur orak-arik, mereka menemukan kebahagiaan saat semua makanan berjejal dalam mulut dengan hiasan gigi yang mulai ompong, lalu mereka dimanja alunan musik Agnes Monica yang sekarang sudah Go International, sebuah genre musik berkelas wahid.

Pepsi adalah kunci, kamu akan diusir dari restoran siap saji asal Amerika, jika ada coca-cola diatas meja, kamu tidak akan bisa bertahan dalam situasi coca-cola, yaitu situasi yang tidak diinginkan untuk bersanding dengan pepsi. Maka satu-satunya jalan adalah pelan-pelan pergi, tentu semua akan kembali seperti sedia kala, tanpa perasaan kaku, hanya cukup berpura-pura dungu.


Si bapak tua mulai berdongeng tentang peradaban Bikini Bottom, sebuah peradaban absurd. Dimana sebuah busa cuci piring bernyawa, seekor kepiting yang culas, si plangton yang iri, tentang tupai yang jago karate, ubur-ubur seperti sutet, kucing peliharaan berbentuk siput, seekor tentakel yang lihai bermain Clarinet dan bintang laut yang dikutuk dungu.

Dongeng si bapak tua dimulai pada episode “I'm with Stupid” , saat bintang laut yang dungu bisa berfikir cerdas. Si dungu bersandiwara menjadi cerdas, sedangkan si busa cuci piring harus terlihat bodoh. Tetapi yang namanya kepura-puraan, baunya tetap tercium, meski si dungu tidak punya lubang hidung.

Dongengpun berlanjut.....
Ketentraman peradaban Bikini Bottom sempat dibuat onar oleh kedatangan empat buah kapal selam dari PT. Dumai, kapal-kapal tersebut mengangkut beribu-ribu botol coca-cola. Beruntung si tupai datang dari rumah pohonnya, ia kaget melihat peradaban bikini bottom porak poranda. Tetapi dengan sedikit penjelasan dari busa pencuci piring, maka si tupai berhasil mengeluarkan jurus karatenya yang disebut “learning curve”, yaitu sebuah jurus berbentuk kurva garis, yang menunjukkan hubungan antara waktu yang diperlukan untuk produksi dan jumlah komulatif unit yang diproduksi. Maka dengan jurus tersebut total biaya yang digunakan kapal-kapal dari PT. Dumai sudah bisa diketahui dengan tepat.
*saya tidak akan menjelaskan pemecahan masalah dengan learning curve, saat UTS kemarin saya mendapat nilai jelek. HIH


Sebenarnya warna dan rasa kita sama, tetapi harapan kita yang berbeda, kamu dengan ayam paha atas, aku dengan kacang atom. Kamu dimeja restoran siap saji, aku di trotoar Banjir Kanal Timur. Lebih parah lagi, aku di campur dengan intisari, minuman para alay yang di marjinalkan kalangan hipster Bekasi.


***
Saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu, perang batin yang tak kunjung padam, akhirnya dengan bantuan teman, saya memberanikan diri untuk ikut retreat di sebuah Vihara di Kota Hujan. Sebuah metode belajar untuk menuntun manusia mencapai pembebasan, lepas dari eksistensi yang berulang-ulang (samsara) atau pencerahan sempurna demi kepentingan semua makhluk.

*karena saya bukan Banthe, maka penjelasan cukup segitu saja, jika masih penasaran coba di googling. (keyword : Lamrim)

“bahwasanya menanam pohon memerlukan proses, kewajiban kita adalah menjaganya, memupuk, menyirami dan memeliharanya dengan baik. Pohon tersebut dapat tumbuh atau tidak, semua tergantung pohon itu sendiri. Yang penting kita sudah merawat sebaik-baiknya dengan penuh upaya dan tenaga, tentu dengan bersungguh-sungguh. Jika kita memaksa pohon tersebut tetap tumbuh, maka ia akan mati.”

Saya berharap si coca-cola menjadi penanam pohon, dan si pepsi menjadi pohonnya. Dalam ajaran Buddha, sang Buddha memberi kebebasan penuh kepada pengikutnya, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ajaran Buddha adalah ajaran bertahap. Jika kita hanya bisa menerima sedikit, maka terimalah sedikit, begitupun sebaliknya. Tidak perlu memaksa dalam berkehendak.

Saat kehilangan arah, jadikanlah dirimu sebagai sahabat yang paling baik bagi dirimu sendiri.



*dalam versi saya, cerita di atas benar adanya, tentang si Tama sebagai coca-cola dan si Ita sebagai pepsi. Ahihihihi
*gambar nyomot dari google.

No comments:

Post a Comment