Dalam beberapa
hari terakhir, mata saya akrab sekali dengan pemberitaan sepak bola gajah. Mulut
saya terbuka lebar saat menonton video berdurasi 12 menit di situs youtube,
pikiran saya terus melayang dan dalam hati tak henti-hentinya berujar, “ini
sepak bola apa??”.
Seorang pemain
depan lawan menghalau tendangan pemain belakang yang dengan sengaja, dengan
akal dan fikiran waras melakukan gol bunuh diri. Sangat memalukan laga yang
terjadi antara PSS Sleman yang bertemu dengan PSIS Semarang dalam delapan besar
Divisi Utama, di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, Pada
hari Minggu 26 Oktober 2014. Seharusnya ini bukan di sebut laga sebak bola,
entah persamaan apa yang tepat untuk pertandingan yang berakhir dengan sekor
3-2 yang di menangkan oleh PSS Sleman. Lima gol yang tercipta dalam
pertandingan ini di cetak dengan cara bunuh diri, 2 gol tercipta oleh pemain
PSIS Semarang ke gawang mereka sendiri, dan PSS Sleman 3 gol, juga ke gawang
mereka sendiri.
Lima belas
tahun yang lalu PSIS Semarang Juara Liga Indonesia V, seorang pemain Laskar Mahena Jenar dengan habitus gempal, pendek, kekar namun mempunyai
pergerakan cepat dan lincah, membuat stadion Klabat di Kota Manado bergemuruh,
pada menit 89 membuat Hendro Kartiko tertunduk lesu. Pada 13 April 1999
Persebaya gagal memboyong piala Liga Indonesia. Dan saya pun tidak bisa
membayangkan jika Diego Tugiyo atau Maradona Purwodadi ini melihat pertandingan
Minggu lalu, mungkin dia akan berlari ke tengah lapangan, merebut bola, lalu
membakar bola tersebut, barangkali merobek-robek jala gawang, atau dengan tubuh
mungilnya Tugiyo mengajak duel satu persatu semua pemain yang ada di lapangan
sore itu. Sudah barang tentu Tugiyo juga akan merampas peluit pengadil
lapangan, dia dengan gagah akan meniup peluit tersebut ke kuping wasit, pelatih
dan seluruh official yang terlibat dalam laga tersebut. Atau Tugiyo malah
tertawa terpingkal-pingkal melihat dagelan bersandiwara, para aktor lapangan
yang sangat lihai memerankan sepak bola gajah. Mati sudah nasib sepak bola
negeri ini, dari hulu sampai hilir sama bobroknya, luka busuk yang seharusnya
di amputasi, jasad yang seharusnya di cabut nyawanya secara paksa.
***
Albert Einstein berucap “jika orang bersikap baik/berbuat baik hanya karena mereka takut akan
hukuman dan berharap akan pahala, maka itu akan sangat menyedihkan. Sebagai
orang cerdas nan waras kita semua pasti setuju bahwasanya moralitas tanpa
adanya pengawasan dari “sang pengawas” merupakan moralitas sejati, bukan
moralitas palsu yang lenyap saat polisi keluar dari pos penjagaannya, atau
kamera imajiner yang berada di surga. Alangkah tidak adil bahwa penafsiran kita
“jika tidak ada Tuhan dalam sepak bola, maka kenapa repot-repot berbuat
baik/bermain fair play?”. Sekalipun benar bermoral dalam sepak bola harus
memerlukan Tuhan, hal itu tidak serta merta membenarkan akan eksistensi Tuhan
dalam sepak bola, karena dalam sepak bola yang kita butuhkan adalah bola, tanpa
bola permainan tidak akan pernah ada.
Bermoral dalam sepak bola tidak memerlukan Tuhan, dalam
sepak bola terdapat kesepakatan bersama, kesepakatan yang sesungguhnya dengan sadar
dan waras mengenai benar dan salah (fair play), sebuah konsensus yang berlaku
secara luas. Mungkin sebagian besar dari kita setuju secara lisan dengan
konsensus liberal yang sama menyangkut prinsip-prinsip etis. Kita tidak akan
berbuat jahat pada orang lain, kita tidak curang, kita tidak membunuh, tidak
melakukan inces, tidak akan melakukan sesuatu kepada orang lain yang kita tidak
berharap itu di lakukan kepada kita.
:
- Jangan melakukan pada orang lain apa yang mungkin kamu tidak inginkan mereka melakukannya kepadamu.
- Dalam semua hal, berusahalah dengan segala kewarasan untuk tidak merugikan.
- Perlakukan sesama manusia, sesama mahkluk hidup dan dunia pada umumnya dengan cinta, kejujuran, keyakinan dan penghargaan.
- Jangan mengabaikan kejahatan atau enggan menegakkan keadilan, tetapi bersedialah selalu memaafkan kesalahan yang diakui secara sukarela dan disesali dengan jujur.
- Jalani hidupmu dengan keceriaan dan kekaguman.
- Berusahalah senantiasa mempelajari hal yang baru.
- Cobalah suatu hal, ujilah selalu gagasan-gagasanmu berdasarkan fakta-fakta, dan bersiaplah untuk menolak bahkan untuk sebuah keyakinan yang berharga sekalipun jika tidak sesuai dengan fakta-fakta itu.
- Janganlah menyensor atau berhenti dari perdebatan, hargailah selalu hak orang lain untuk tidak setuju denganmu.
- Bangunlah opini-opini yang mandiri berdasarkan penalaran dan pengalamanmu, jangan biarkan dirimu diarahkan buta oleh orang lain.
- Pertanyakan segala sesuatu.
Diatas adalah
prinsip-prinsip disebuah logger web, yang tertulis dalam buku The God Delusion, karangan Richard Dawkins. Jika dalam sepak bola kesepuluh prinsip
itu dilakukan, niscaya keindahan sepak bola akan kita nikmati. Dengan secangkir
kopi, atau pun beberapa kaleng minuman dingin, kita dengan senang hati menonton
sebuah hiburan yang memuliakan kejujuran.
***
Dalam mitologi
bangsa Aztec, saat para arkeolog menggali kota-kota kuno Mesoamerika, mereka
menemukan sebuah bola kaki yang terbuat dari batu. Sebuah permainan yang di
lakukan dua buah grup, masing-masing grup harus memasukan bola batu tersebut ke
dalam ring. Bola batu tersebut tidak boleh jatuh ke tanah, para pemain juga
tidak boleh menggunakan kaki ataupun tangan untuk memainkannnya, mereka harus
memukul dengan punggung, dengan pinggang, dengan bahu ataupun kepala, sebuah ritus
yang berat, bagian dari peradaban pada waktu itu.
Sudah barang
tentu sepak bola memang permainan olah tubuh yang berat, apalagi pesepak bola professional
harus mempunyai disiplin tinggi dalam menjaga kebugaran tubuhnya, mereka tidak
boleh berbohong pada diri mereka sendiri, bahwasanya saya latihan mengelilingi
lapangan bola sebanyak sepuluh kali, tetapi karena pelatih kebugaran sedang
tidak melihat maka cukup lima kali saja, tentu pemain bola tersebut rugi,
seharusnya daya tahan dalam bermain bola bisa mencapai 90 menit, maka karena
saat latihan saja dia tidak jujur, di menit 40 dia sudah kehabisan tenaga. Sudah
barang tentu klub rugi, penonton juga merugi, seharusnya menyaksikan
pertandingan dengan penuh kecepatan, ini hanya menyaksikan siput-siput pemalas
berlari.
Jika
pergerakan bola kearah depan, sebagai pemain satu tim sudah menjadi kewajiban
kita harus bergerak kedepan, agar dukungan terhadap kawan yang membawa bola
lebih maksimal dengan demikian kita akan sangat mudah memenangkan daerah lawan.
Itu tadi salah satu prinsip dalam sepak bola saat menyerang, jika saat bertahan,
para pemain harus padat, jarak antar lini harus dekat, untuk itu para pemain
harus kompak, jika ada salah satu saja pemain tidak bisa kompak, maka hancurlah
sebuah tim tersebut.
Namun bagaimana
jika sebuah tim bermain kompak untuk menghacurkan timnya sendiri? Atau malah
dua tim yang saling kompak untuk sama-sama kalah dengan cara yang tidak
semestinya? Ini benar-benar diluar nalar manusia, penghianatan dalam bermoral
sepak bola, entah ampunan seperti apa yang harus diberikan. Bahkan mafia-mafia Calciopoli atau sejenisnya akan berlutut
menyembah kepada laga kemarin minggu. Sudah barang tentu mereka-mereka yang
terlibat dalam sepak bola gajah tidak akan di perbolehkan lagi mengikuti ritus
suci ini, sebuah ritus menyuguhkan olah taktik, olah data statistik, permainan
strategi yg penuh imajinasi. Sebuah ritus yang meniadakan Tuhan, ritus sepak
bola.

No comments:
Post a Comment