Thursday, October 30, 2014

Ritus Sepak Bola tidak butuh Moralitas Palsu.

(gambar di ambil dari sini)

Dalam beberapa hari terakhir, mata saya akrab sekali dengan pemberitaan sepak bola gajah. Mulut saya terbuka lebar saat menonton video berdurasi 12 menit di situs youtube, pikiran saya terus melayang dan dalam hati tak henti-hentinya berujar, “ini sepak bola apa??”.

Seorang pemain depan lawan menghalau tendangan pemain belakang yang dengan sengaja, dengan akal dan fikiran waras melakukan gol bunuh diri. Sangat memalukan laga yang terjadi antara PSS Sleman yang bertemu dengan PSIS Semarang dalam delapan besar Divisi Utama, di Stadion Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, Pada hari Minggu 26 Oktober 2014. Seharusnya ini bukan di sebut laga sebak bola, entah persamaan apa yang tepat untuk pertandingan yang berakhir dengan sekor 3-2 yang di menangkan oleh PSS Sleman. Lima gol yang tercipta dalam pertandingan ini di cetak dengan cara bunuh diri, 2 gol tercipta oleh pemain PSIS Semarang ke gawang mereka sendiri, dan PSS Sleman 3 gol, juga ke gawang mereka sendiri.

Lima belas tahun yang lalu PSIS Semarang Juara Liga Indonesia V, seorang pemain Laskar Mahena Jenar dengan habitus gempal, pendek, kekar namun mempunyai pergerakan cepat dan lincah, membuat stadion Klabat di Kota Manado bergemuruh, pada menit 89 membuat Hendro Kartiko tertunduk lesu. Pada 13 April 1999 Persebaya gagal memboyong piala Liga Indonesia. Dan saya pun tidak bisa membayangkan jika Diego Tugiyo atau Maradona Purwodadi ini melihat pertandingan Minggu lalu, mungkin dia akan berlari ke tengah lapangan, merebut bola, lalu membakar bola tersebut, barangkali merobek-robek jala gawang, atau dengan tubuh mungilnya Tugiyo mengajak duel satu persatu semua pemain yang ada di lapangan sore itu. Sudah barang tentu Tugiyo juga akan merampas peluit pengadil lapangan, dia dengan gagah akan meniup peluit tersebut ke kuping wasit, pelatih dan seluruh official yang terlibat dalam laga tersebut. Atau Tugiyo malah tertawa terpingkal-pingkal melihat dagelan bersandiwara, para aktor lapangan yang sangat lihai memerankan sepak bola gajah. Mati sudah nasib sepak bola negeri ini, dari hulu sampai hilir sama bobroknya, luka busuk yang seharusnya di amputasi, jasad yang seharusnya di cabut nyawanya secara paksa.

***

Albert Einstein berucap “jika orang bersikap baik/berbuat baik hanya karena mereka takut akan hukuman dan berharap akan pahala, maka itu akan sangat menyedihkan. Sebagai orang cerdas nan waras kita semua pasti setuju bahwasanya moralitas tanpa adanya pengawasan dari “sang pengawas” merupakan moralitas sejati, bukan moralitas palsu yang lenyap saat polisi keluar dari pos penjagaannya, atau kamera imajiner yang berada di surga. Alangkah tidak adil bahwa penafsiran kita “jika tidak ada Tuhan dalam sepak bola, maka kenapa repot-repot berbuat baik/bermain fair play?”. Sekalipun benar bermoral dalam sepak bola harus memerlukan Tuhan, hal itu tidak serta merta membenarkan akan eksistensi Tuhan dalam sepak bola, karena dalam sepak bola yang kita butuhkan adalah bola, tanpa bola permainan tidak akan pernah ada.

Bermoral dalam sepak bola tidak memerlukan Tuhan, dalam sepak bola terdapat kesepakatan bersama, kesepakatan yang sesungguhnya dengan sadar dan waras mengenai benar dan salah (fair play), sebuah konsensus yang berlaku secara luas. Mungkin sebagian besar dari kita setuju secara lisan dengan konsensus liberal yang sama menyangkut prinsip-prinsip etis. Kita tidak akan berbuat jahat pada orang lain, kita tidak curang, kita tidak membunuh, tidak melakukan inces, tidak akan melakukan sesuatu kepada orang lain yang kita tidak berharap itu di lakukan kepada kita.
:
  1. Jangan melakukan pada orang lain apa yang mungkin kamu tidak inginkan mereka melakukannya kepadamu.
  2. Dalam semua hal, berusahalah dengan segala kewarasan untuk tidak merugikan.
  3. Perlakukan sesama manusia, sesama mahkluk hidup dan dunia pada umumnya dengan cinta, kejujuran, keyakinan dan penghargaan.
  4. Jangan mengabaikan kejahatan atau enggan menegakkan keadilan, tetapi bersedialah selalu memaafkan kesalahan yang diakui secara sukarela dan disesali dengan jujur.
  5. Jalani hidupmu dengan keceriaan dan kekaguman.
  6. Berusahalah senantiasa mempelajari hal yang baru.
  7. Cobalah suatu hal, ujilah selalu gagasan-gagasanmu berdasarkan fakta-fakta, dan bersiaplah untuk menolak bahkan untuk sebuah keyakinan yang berharga sekalipun jika tidak sesuai dengan fakta-fakta itu.
  8. Janganlah menyensor atau berhenti dari perdebatan, hargailah selalu hak orang lain untuk tidak setuju denganmu.
  9. Bangunlah opini-opini yang mandiri berdasarkan penalaran dan pengalamanmu, jangan biarkan dirimu diarahkan buta oleh orang lain.
  10. Pertanyakan segala sesuatu.
Diatas adalah prinsip-prinsip disebuah logger web, yang tertulis dalam buku The God Delusion, karangan Richard Dawkins. Jika dalam sepak bola kesepuluh prinsip itu dilakukan, niscaya keindahan sepak bola akan kita nikmati. Dengan secangkir kopi, atau pun beberapa kaleng minuman dingin, kita dengan senang hati menonton sebuah hiburan yang memuliakan kejujuran.

***

Dalam mitologi bangsa Aztec, saat para arkeolog menggali kota-kota kuno Mesoamerika, mereka menemukan sebuah bola kaki yang terbuat dari batu. Sebuah permainan yang di lakukan dua buah grup, masing-masing grup harus memasukan bola batu tersebut ke dalam ring. Bola batu tersebut tidak boleh jatuh ke tanah, para pemain juga tidak boleh menggunakan kaki ataupun tangan untuk memainkannnya, mereka harus memukul dengan punggung, dengan pinggang, dengan bahu ataupun kepala, sebuah ritus yang berat, bagian dari peradaban pada waktu itu.

Sudah barang tentu sepak bola memang permainan olah tubuh yang berat, apalagi pesepak bola professional harus mempunyai disiplin tinggi dalam menjaga kebugaran tubuhnya, mereka tidak boleh berbohong pada diri mereka sendiri, bahwasanya saya latihan mengelilingi lapangan bola sebanyak sepuluh kali, tetapi karena pelatih kebugaran sedang tidak melihat maka cukup lima kali saja, tentu pemain bola tersebut rugi, seharusnya daya tahan dalam bermain bola bisa mencapai 90 menit, maka karena saat latihan saja dia tidak jujur, di menit 40 dia sudah kehabisan tenaga. Sudah barang tentu klub rugi, penonton juga merugi, seharusnya menyaksikan pertandingan dengan penuh kecepatan, ini hanya menyaksikan siput-siput pemalas berlari.

Jika pergerakan bola kearah depan, sebagai pemain satu tim sudah menjadi kewajiban kita harus bergerak kedepan, agar dukungan terhadap kawan yang membawa bola lebih maksimal dengan demikian kita akan sangat mudah memenangkan daerah lawan. Itu tadi salah satu prinsip dalam sepak bola saat menyerang, jika saat bertahan, para pemain harus padat, jarak antar lini harus dekat, untuk itu para pemain harus kompak, jika ada salah satu saja pemain tidak bisa kompak, maka hancurlah sebuah tim tersebut.

Namun bagaimana jika sebuah tim bermain kompak untuk menghacurkan timnya sendiri? Atau malah dua tim yang saling kompak untuk sama-sama kalah dengan cara yang tidak semestinya? Ini benar-benar diluar nalar manusia, penghianatan dalam bermoral sepak bola, entah ampunan seperti apa yang harus diberikan. Bahkan mafia-mafia Calciopoli atau sejenisnya akan berlutut menyembah kepada laga kemarin minggu. Sudah barang tentu mereka-mereka yang terlibat dalam sepak bola gajah tidak akan di perbolehkan lagi mengikuti ritus suci ini, sebuah ritus menyuguhkan olah taktik, olah data statistik, permainan strategi yg penuh imajinasi. Sebuah ritus yang meniadakan Tuhan, ritus sepak bola.



No comments:

Post a Comment