You’re too good for me, you’re too
good to anyone.
Kalimat klise untuk sebuah perpisahan.
Saya kira jawaban itu yang akan di terima Tama, tetapi
kenyataan berpihak lain, untuk kali ini kenyataan mulai berkompromi dengan
pikiran-pikiran yang rumit. Kenyataan juga bisa berdamai dengan hormon dopamine
Tama yang sejak 3 bulan yang lalu acak-acakan secara impulsif.
Saya sendiri sebenarnya enggan melanjutkan cerita-ceritaan
ini, saya tidak suka happy ending, namun hutang moral yang harus saya bayar di
cerita Tama dan Ita, sesungguhnya bahagia memang perlu pengorbanan, juga kenyataan
yang tidak melulu getir, ada residu-residu kebahagiaan disana.
Dan adakalanya kita harus berkompromi dengan ego masing-masing. Saat saya ingin bercerita tentang si Tama yang patah hati karena penolakan, juga segala sesuatunya sudah siap untuk di unggah dan di baca khalayak umum, namun
kesemua itu saya urungkan. Meskipun saya sudah menyiapkan playlist lagu buat
patah hati, tentu lagu-lagu buat kalangan hipster, tentang beberapa film yang
siap menguras air mata Tama karena keterasingan dan juga beberapa bait puisi
dari Sapardi jelas tentang getir.
Lalu beberapa kantong kresek kuaci juga sudah tersedia, saat
patah hati selain endomieh, kuaci juga bisa di jadikan sahabat karib. Kuaci
rela di gigit dari samping kiri, samping kanan, depan belakang, atas maupun
bawah tanpa mengeluh kesakitan. Tentu makan kuaci mempunyai filosofi hidup yang
teramat tinggi, yaitu apapun di dalam hidup ini, kesemuanya membutuhkan proses.
Karena makan kuaci tidak bisa instan, belum ada ilmuwan yang bisa menemukan cara
makan kuaci tanpa menggigit kulitnya.
***
Di suatu sore, *ini
cerita serius, tolong di baca dengan seksama*
Saat senja mulai mengingsut pergi, senja yang muram, senja
dirundung awan kesedihan. Ternyata suasana senja sore itu berbanding lurus
dengan isi di grup whatsapp hp saya :
WA dari Tama : “mblo,
suram mblo” kemudian di susul dengan “screnshoot
gambar” sebuah pesan original dari Ita, di dalam gambar tersebut tertulis
secara terperinci, jelas si Tama di tolak dengan mentah-mentah, setelah di
gantung selama dua minggu, lalu di lepas ke dalam jurang gelap gulita.
WA Supri : Wah…serius
Tam?
WA Saya : Duh Gusti…!!
*biar terkesan sangat religius.
Argghhh sebagai teman yang baik, saya langsung googling, kira-kira
kalimat apa yang tepat buat menghibur si Tama, tapi tidak juga ketemu kalimat
yang bagus, semua sudah di kuasai Mario Teguh…HIH.
Akhirnya hanya kalimat basi
dan jauh dari kesan hipster ini yang tertulis “tidak ada perjuangan yang sia-sia”. Alangkah sedihnya negeri ini, motivator
bergincu semakin laris.
Sebetulnya kalimat yang saya hendak kirim adalah kalimat
Nyai Ontosoroh kepada Minke, cerita Tetralogi Pulau Buru. Minke sedang
mengalami kesedihan yang luar biasa, saat sang kekasih bernama Arnnelies di rebut
paksa pengadilan negeri Belanda, pada akhirnya kekasih Minke itupun mati di
negeri Ratu Wilhelmina, digrogoti penyakit karena di rundung kesedihan. Nyai
Ontosoroh ibu Arnnelies pun berujar “kita
Sudah Melawan, Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. “
Saya jatuh hati pada buku-buku Pramoedya Ananta
Toer, andaikan ada perempuan yang menghadiahi buku Pram, pasti langsung saya
lamar detik itu juga. Eh.
Waktu bergulir cepat, entah perjuangan apa yang telah Tama
lakukan, barangkali ia telah makan kuaci, yang jelas beberapa hari berselang, dengan kepongahnnya si Tama memamerkan
kemesraan, di dalam grup WA dengan nama grup “Fokus Pada Cum Laude” :
WA dari Tama : *sebuah screenshoot
teronggok kalimat mesra dengan caption “pagi-pagi dapet whatsapp beginian tuh
rasanya”.
WA Supri : rasanya
pengen gw gampar lo Tam.
WA Saya : “RIYA!!!”.
Lalu kita semua berkelakar tawa….karena bercandaan yang tak
mungkin dibeberkan di sini. Kebahagian terkadang absurd, ada sisi gelap yang
tak tampak, hati supri. Juga luka-luka yang menganga lainya, pemuja Ita nun
jauh diluaran sana, tokoh imajiner Ita yang siap menghantui eksistensi Tama.
Biar bagaimanapun Cerita Tama dan Ita berakhir dengan
bahagia, alangkah baiknya saya berucap Selamat, sekedar gincu namun dari lubuk
hati yang memang tak dalam.
*ahihihihihi
No comments:
Post a Comment