Tuesday, November 4, 2014

Cerita yang tak pernah ada


You’re too good for me,  you’re too good to anyone.

Kalimat klise untuk sebuah perpisahan.

Saya kira jawaban itu yang akan di terima Tama, tetapi kenyataan berpihak lain, untuk kali ini kenyataan mulai berkompromi dengan pikiran-pikiran yang rumit. Kenyataan juga bisa berdamai dengan hormon dopamine Tama yang sejak 3 bulan yang lalu acak-acakan secara impulsif.

Saya sendiri sebenarnya enggan melanjutkan cerita-ceritaan ini, saya tidak suka happy ending, namun hutang moral yang harus saya bayar di cerita Tama dan Ita, sesungguhnya bahagia memang perlu pengorbanan, juga kenyataan yang tidak melulu getir, ada residu-residu kebahagiaan disana.

Dan adakalanya kita harus berkompromi dengan ego masing-masing. Saat saya ingin bercerita tentang si Tama yang patah hati karena penolakan, juga segala sesuatunya sudah siap untuk di unggah dan di baca khalayak umum, namun kesemua itu saya urungkan. Meskipun saya sudah menyiapkan playlist lagu buat patah hati, tentu lagu-lagu buat kalangan hipster, tentang beberapa film yang siap menguras air mata Tama karena keterasingan dan juga beberapa bait puisi dari Sapardi jelas tentang getir.

Lalu beberapa kantong kresek kuaci juga sudah tersedia, saat patah hati selain endomieh, kuaci juga bisa di jadikan sahabat karib. Kuaci rela di gigit dari samping kiri, samping kanan, depan belakang, atas maupun bawah tanpa mengeluh kesakitan. Tentu makan kuaci mempunyai filosofi hidup yang teramat tinggi, yaitu apapun di dalam hidup ini, kesemuanya membutuhkan proses. Karena makan kuaci tidak bisa instan, belum ada ilmuwan yang bisa menemukan cara makan kuaci tanpa menggigit kulitnya.


***

Di suatu sore, *ini cerita serius, tolong di baca dengan seksama*

Saat senja mulai mengingsut pergi, senja yang muram, senja dirundung awan kesedihan. Ternyata suasana senja sore itu berbanding lurus dengan isi di grup whatsapp hp saya :

WA dari Tama : “mblo, suram mblo” kemudian di susul dengan “screnshoot gambar” sebuah pesan original dari Ita, di dalam gambar tersebut tertulis secara terperinci, jelas si Tama di tolak dengan mentah-mentah, setelah di gantung selama dua minggu, lalu di lepas ke dalam jurang gelap gulita.

WA Supri : Wah…serius Tam?

WA Saya : Duh Gusti…!! *biar terkesan sangat religius.

Argghhh sebagai teman yang baik, saya langsung googling, kira-kira kalimat apa yang tepat buat menghibur si Tama, tapi tidak juga ketemu kalimat yang bagus, semua sudah di kuasai Mario Teguh…HIH. 
Akhirnya hanya kalimat basi dan jauh dari kesan hipster ini yang tertulis “tidak ada perjuangan yang sia-sia”. Alangkah sedihnya negeri ini, motivator bergincu semakin laris.

Sebetulnya kalimat yang saya hendak kirim adalah kalimat Nyai Ontosoroh kepada Minke, cerita Tetralogi Pulau Buru. Minke sedang mengalami kesedihan yang luar biasa, saat sang kekasih bernama Arnnelies di rebut paksa pengadilan negeri Belanda, pada akhirnya kekasih Minke itupun mati di negeri Ratu Wilhelmina, digrogoti penyakit karena di rundung kesedihan. Nyai Ontosoroh ibu Arnnelies pun berujar “kita Sudah Melawan, Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. “  
Saya jatuh hati pada buku-buku Pramoedya Ananta Toer, andaikan ada perempuan yang menghadiahi buku Pram, pasti langsung saya lamar detik itu juga. Eh.

Waktu bergulir cepat, entah perjuangan apa yang telah Tama lakukan, barangkali ia telah makan kuaci, yang jelas beberapa hari berselang, dengan kepongahnnya si Tama memamerkan kemesraan, di dalam grup WA dengan nama grup “Fokus Pada Cum Laude” :

WA dari Tama : *sebuah screenshoot teronggok kalimat mesra dengan caption “pagi-pagi dapet whatsapp beginian tuh rasanya”.

WA Supri : rasanya pengen gw gampar lo Tam.

WA Saya : “RIYA!!!”.

Lalu kita semua berkelakar tawa….karena bercandaan yang tak mungkin dibeberkan di sini. Kebahagian terkadang absurd, ada sisi gelap yang tak tampak, hati supri. Juga luka-luka yang menganga lainya, pemuja Ita nun jauh diluaran sana, tokoh imajiner Ita yang siap menghantui eksistensi Tama.

Biar bagaimanapun Cerita Tama dan Ita berakhir dengan bahagia, alangkah baiknya saya berucap Selamat, sekedar gincu namun dari lubuk hati yang memang tak dalam.


*ahihihihihi

No comments:

Post a Comment