***
Ya..memang semester satu telah usai, tetapi masih ada
beberapa semester kedepan yang harus di selesaikan. Ada baiknya kita fokus ke semester-semester
berikutnya, jangan lagi ada slogan “posisi menetukan prestasi” itu membuat otak
kita kerdil. Duh...mendengar orasi seperti itu, seketika penumpang kapal nelayan yang di sulap jadi kapal rekreasi
mengeluarkan seluruh isi perutnya, sarapan tadi subuh jadi sia-sia.
Obrolan para mahasiswa kelas karyawan yang bercita-cita
lulus dengan predikat cum laude, mereka dan tentu saja ratusan orang yang ada
di dalam kapal gladak punya tujuan satu, yaitu melepas kegelisahan isi otak
karena peradaban kota Jakarta, kota brengsek yang mengebiri harapan. Saya tidak
akan ceritakan bagaimana proses dari pelabuhan Muara Angke menuju pualau
Harapan, dan jangan bilang kalau bahagia itu sederhana, bahagia itu butuh
proses rumit. HIH
Para calon cum laude itu sudah tiba di Pulau Harapan dengan
selamat, tanpa ada luka sedikitpun… hanya isi perut yang tertinggal di plastik hitam, di dalam tempat sampah. Niatnya kepingin banget piknik keluar Jakarta, eh ternyata Pulau harapan masih berada di wilayah Jakarta, Ya sudahlah… Nasi sudah menjadi ikan bakar dan cabai kecap, kalau keinginan
yang muluk-muluk tetapi tidak selalu singkron dengan isi dompet ya gak bakal
piknik.
Senang? Sudah barang tentu senang, wong mereka jarang
melihat laut, melihat ikan warna-warni berenang di antara batu karang. Coba tanya
kepada penduduk lokal pulau Harapan, apakah mereka gak bosan melihat
pemandangan laut setiap membuka mata?, barangkali mereka lebih suka melihat
keadaan kota Jakarta, melihat gedung-gedung pencakar langit,melihat perumahan
kumuh dan padat manusia, melihat kelas-kelas sosial yang saling menjagal, melihat
makhluk-makhluk urban yang lucu-lucu dengan penghidupannya, melihat kendaraan
berderet parkir rapi di setiap ruas jalanan Ibu Kota, baik pagi hari maupun
malam hari, melihat motor sering jalan kaki di trotoar, melihat manusia-manusia tolol yang pemarah. Sudah barang tentu mereka tertawa seraya berkata, kalian itu
manusia apa koloni nying-nying (tikus)?
***
Wah tukang siomay tuh…teriak juara kelas, penjual siomay ini
kalau menurut dosen Ekonomi Mikro termasuk Pasar Monopoli, karena ia tidak ada
saingan. Memang benar, kalau juara kelas omongannya selalu berbobot, tukang
siomay saja bisa langsung nyangkut ke pelajaran.
Tapi soal kerinduan, juara kelas tidak serta merta
menyenangkan, nasib kadang begitu keji mempertemukan kerinduan dalam pasar
monopoli, sebut saja sang juara kelas ini namanya supri, Ia mendambakan teman
sekelasnya bernama evi. Dan sekali lagi, kenyataan tak henti-hentinya
menertawakan kehidupan ini, kenyataan menurut pasar monopoli ini sangat
merugikan supri. Bagaimana tidak merugi, supri hanya bisa menunggu, tidak ada
pilihan lain…ia menunggu evi putus dengan pacarnya. HIH. Nasib supri juga di
ekploitasi oleh kenyataan, nasib supri tak kalah suramnya dengan teluk Jakarta
yang kian hari kian keruh.
Kerinduan tak kalah laknatnya, saat saya ingat dosen mengajarkan
pengertian pasar Oligopoli, dimana pasar hanya terdapat beberapa penjual yang
saling bersaing dengan jumlah pembeli yang banyak. Maka contoh nyatapun
terjadi, Tama nama teman saya. Ia tak kalah suramnya, jika supri dan evi
terjebak dalam pasar monopoli, yang mana nasib supri di tentukan oleh evi. Si Tama
lain…, nasib dia dalam pasar Oligopoli sangat rumit, di mana ia menunggu
jawaban dari Ita, perempuan berhidung pinokio berdarah jawa tapi tak pandai bahasa
jawa. Selain jawaban tak kunjung tiba, Tama harus bertarung melawan tokoh-tokoh
imajiner Ita di luaran sana, kenapa Ita tak kunjung menjawab kerinduanya,
apakah sudah ada lelaki lain di hatinya, terus berkecamuk dalam otak Tama.
Banyak cerita terjadi di pulau Harapan, meskipun harapan
supri dan tama sangat melangit tetap saja kenyataan yang menjadi dalangnya. Kerinduan
selalu membuat akal sehat seperti tak berarti apa-apa, tetapi kerinduan membuat
bunyi-bunyi tersendiri, meskipun tidak beraturan tapi masih bisa di nikmati,
mungkin sebagai pelipur sunyi.
Saya tahu pasti apa yang ada di dalam otak supri dan tama,
saat bagian otak bernama Amygdala merespon kemarahan, kegelisahaan dan perasaan
takut bercampur aduk perasaan terancam. Saat itu pula darah langsung mengalir
begitu deras menuju frontal cortex, sejak saat itu kemampuan berpikir secara
rasional akan menurun drastis. Jelas efeknya akan berak-berak, bahasa umumnya
mencret.
Sebentar bung, tulisanmu
kok gak nyambung, Dari pasar kok ke mencret mencret?
Hlah terserah saya, wong saya yang bercerita, kok situ sewot…situ
ef pe ih ?
Terus kalau kerinduanmu
ibarat pasar apa? Pasar obat terlarang ya? Nanti kamu di tembak mafia lho…lalu
mati.
Lambemu…!!
Dafuqqqqqq !!!
ReplyDeletekek kenal sapa itu Supri dan Tama.
Ciyan.
Apes banget, apes, apek, suram
HIH !
Dafuq kon djoooooon.
anak setan :)))))))