Sunday, October 26, 2014

Kerinduan di lihat dari segi pasar Monopoli dan Oligopoli.

*** 
Ya..memang semester satu telah usai, tetapi masih ada beberapa semester kedepan yang harus di selesaikan.  Ada baiknya kita fokus ke semester-semester berikutnya, jangan lagi ada slogan “posisi menetukan prestasi” itu membuat otak kita kerdil. Duh...mendengar orasi seperti itu, seketika penumpang kapal nelayan yang di sulap jadi kapal rekreasi mengeluarkan seluruh isi perutnya, sarapan tadi subuh jadi sia-sia.

Obrolan para mahasiswa kelas karyawan yang bercita-cita lulus dengan predikat cum laude, mereka dan tentu saja ratusan orang yang ada di dalam kapal gladak punya tujuan satu, yaitu melepas kegelisahan isi otak karena peradaban kota Jakarta, kota brengsek yang mengebiri harapan. Saya tidak akan ceritakan bagaimana proses dari pelabuhan Muara Angke menuju pualau Harapan, dan jangan bilang kalau bahagia itu sederhana, bahagia itu butuh proses rumit. HIH

Para calon cum laude itu sudah tiba di Pulau Harapan dengan selamat, tanpa ada luka sedikitpun… hanya isi perut yang tertinggal di plastik hitam,  di dalam tempat sampah. Niatnya kepingin banget piknik keluar Jakarta, eh ternyata Pulau harapan masih berada di wilayah Jakarta, Ya sudahlah… Nasi sudah menjadi ikan bakar dan cabai kecap, kalau keinginan yang muluk-muluk tetapi tidak selalu singkron dengan isi dompet ya gak bakal piknik.

Senang? Sudah barang tentu senang, wong mereka jarang melihat laut, melihat ikan warna-warni berenang di antara batu karang. Coba tanya kepada penduduk lokal pulau Harapan, apakah mereka gak bosan melihat pemandangan laut setiap membuka mata?, barangkali mereka lebih suka melihat keadaan kota Jakarta, melihat gedung-gedung pencakar langit,melihat perumahan kumuh dan padat manusia, melihat kelas-kelas sosial yang saling menjagal, melihat makhluk-makhluk urban yang lucu-lucu dengan penghidupannya, melihat kendaraan berderet parkir rapi di setiap ruas jalanan Ibu Kota, baik pagi hari maupun malam hari, melihat motor sering jalan kaki di trotoar, melihat manusia-manusia tolol yang pemarah. Sudah barang tentu mereka tertawa seraya berkata, kalian itu manusia apa koloni nying-nying (tikus)?

***

Wah tukang siomay tuh…teriak juara kelas, penjual siomay ini kalau menurut dosen Ekonomi Mikro termasuk Pasar Monopoli, karena ia tidak ada saingan. Memang benar, kalau juara kelas omongannya selalu berbobot, tukang siomay saja bisa langsung nyangkut ke pelajaran.

Tapi soal kerinduan, juara kelas tidak serta merta menyenangkan, nasib kadang begitu keji mempertemukan kerinduan dalam pasar monopoli, sebut saja sang juara kelas ini namanya supri, Ia mendambakan teman sekelasnya bernama evi. Dan sekali lagi, kenyataan tak henti-hentinya menertawakan kehidupan ini, kenyataan menurut pasar monopoli ini sangat merugikan supri. Bagaimana tidak merugi, supri hanya bisa menunggu, tidak ada pilihan lain…ia menunggu evi putus dengan pacarnya. HIH. Nasib supri juga di ekploitasi oleh kenyataan, nasib supri tak kalah suramnya dengan teluk Jakarta yang kian hari kian keruh.

Kerinduan tak kalah laknatnya, saat saya ingat dosen mengajarkan pengertian pasar Oligopoli, dimana pasar hanya terdapat beberapa penjual yang saling bersaing dengan jumlah pembeli yang banyak. Maka contoh nyatapun terjadi, Tama nama teman saya. Ia tak kalah suramnya, jika supri dan evi terjebak dalam pasar monopoli, yang mana nasib supri di tentukan oleh evi. Si Tama lain…, nasib dia dalam pasar Oligopoli sangat rumit, di mana ia menunggu jawaban dari Ita, perempuan berhidung pinokio berdarah jawa tapi tak pandai bahasa jawa. Selain jawaban tak kunjung tiba, Tama harus bertarung melawan tokoh-tokoh imajiner Ita di luaran sana, kenapa Ita tak kunjung menjawab kerinduanya, apakah sudah ada lelaki lain di hatinya, terus berkecamuk dalam otak Tama.

Banyak cerita terjadi di pulau Harapan, meskipun harapan supri dan tama sangat melangit tetap saja kenyataan yang menjadi dalangnya. Kerinduan selalu membuat akal sehat seperti tak berarti apa-apa, tetapi kerinduan membuat bunyi-bunyi tersendiri, meskipun tidak beraturan tapi masih bisa di nikmati, mungkin sebagai pelipur sunyi.

Saya tahu pasti apa yang ada di dalam otak supri dan tama, saat bagian otak bernama Amygdala merespon kemarahan, kegelisahaan dan perasaan takut bercampur aduk perasaan terancam. Saat itu pula darah langsung mengalir begitu deras menuju frontal cortex, sejak saat itu kemampuan berpikir secara rasional akan menurun drastis. Jelas efeknya akan berak-berak, bahasa umumnya mencret.

***
Sebentar bung, tulisanmu kok gak nyambung, Dari pasar kok ke mencret mencret?

Hlah terserah saya, wong saya yang bercerita, kok situ sewot…situ ef pe ih ?

               Terus kalau kerinduanmu ibarat pasar apa? Pasar obat terlarang ya? Nanti kamu di tembak mafia lho…lalu mati.

Lambemu…!!


1 comment:

  1. Dafuqqqqqq !!!

    kek kenal sapa itu Supri dan Tama.
    Ciyan.

    Apes banget, apes, apek, suram

    HIH !

    Dafuq kon djoooooon.
    anak setan :)))))))

    ReplyDelete