The greatest tragedy in mankind’s entire history may be the hijacking morality by religion. ~ Arthur C. Clrake.
Dalam benak saya, siang itu seharusnya saya belajar ilmu
yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Seharusnya
belajar mengenai hubungan manusia dengan manusia dan pelbagai permasalahannya. Nyatanya
tidak seperti itu, saya di hadapkan dengan sebuah “orasi”, yang mana hal
tersebut membawa kembali ingatan saya pada jaman di mana saya gemar sekali
beradu argumen tentang Transenden dan Imanen. Meskipun mengganggu telingga saya, namun akan
lebih bijak buat saya sendiri untuk diam dan mendengarkan saja.
Kata (Dia yang namanya tak boleh disebut disini), “gw orangnya oportunis kan ya…jadi...”. okay,
cukup segitu saja kata yang diambil. Ya memang ada benarnya, saya harus pandai
meletakkan posisi saya sebagai apa dan siapa. Dalam hal di atas, saya
menjadi kerbau saja, iya dan manggut-manggut, dari pada nilai saya jelek
atau malah tiduk lulus...HIH. Meskipun seharusnya tidak ada apapun atau siapapun di
dunia ini kebal kritik…tapi sudahlah, kali ini saya setuju dengan Dia yang namanya
tak boleh disebut disini.
Saya pernah membaca sebuah artikel di the citizen daily, di tuliskan
bahwa moralitas manusia tidak hanya sebatas karena takut akan hukuman setelah
mati atau seberapa banyak berkah yang akan diterima setelah mati. Dalam otak
manusia terdapat Sirkuit altruisme dan neuron cermin, yang mana membantu
manusia untuk mempunyai moralitas. Manusia berbuat baik bahkan rela mengorbankan
dirinya untuk membantu orang di sebabkan oleh Sirkuit altruism dan manusia mampu
merasakan kesedihan yang di derita orang lain sehingga munculah rasa empati
yang di timbulkan oleh Neuron cermin.
Jadi moralitas tidak
ada sangkut pautnya dengan sosok yang sangat di sakralkan, jika untuk berbuat
baik masih butuh sosok tersebut, ya silahkan…, Namun alangkah baiknya untuk
tidak "semena-mena" dalam menilai moralitas seseorang, yang memang orang tersebut tidak percaya pada sosok yang di sakralkan.
Bukankah berbuat baik tanpa embel-embel pamrih kehidupan setelah mati itu lebih baik? atau jika tidak ingin di perlakukan tidak baik maka janganlah menjahati orang lain, begitu sederhana bukan.
Bukankah berbuat baik tanpa embel-embel pamrih kehidupan setelah mati itu lebih baik? atau jika tidak ingin di perlakukan tidak baik maka janganlah menjahati orang lain, begitu sederhana bukan.
Semacam anekdot menggelitik jika membicarakan moralitas, sebaiknya di
telusuri dahulu sejarah moralitas dari jaman purba sampai dengan jaman yang
gila ini. Moralitas terus berkembang dan bisa jadi berbeda-beda di suatu
wilayah dengan wilayah lainya.
Lots of things happen after you die, They just don’t involve you. ~ Louis C.K.
***********
Akhir-akhir ini budaya pop menghasilkan kata-kata bijak,
dengan mengibaratkan hidup ini dengan apapun, “hidup ini bagaikan bla…bla…bla”,
ada juga yang bilang, “hidup ini seperti bla…bla..bla”,
lalu ada yang
berkata, “hidup ini seperti bla…bla..bla” dan lain sebagainya.
Versi saya yaa…hidup
itu seperti kicauan burung perkutut “pLer ketekuk…p’Leeer ketekuk kuk”.
Dan sebenarnya saya di minta untuk melanjutkan
cerita-ceritaan, kisah asmara melankoli masokis antara supri dan evi (catatan: melankoli
masokis buat supri).
Namun saya tidak melihat perkembangan kisah mereka, malah kisah mereka makin menghilang dan kalah pamor dengan kisah kebahagian Tama dengan si hidung pinokio. Hih
Namun saya tidak melihat perkembangan kisah mereka, malah kisah mereka makin menghilang dan kalah pamor dengan kisah kebahagian Tama dengan si hidung pinokio. Hih
Saya di sarankan juga untuk melanjutkan dengan kisah fiksi,
namun saya masih harus memikir-mikir hal itu, apakah harus seperti film Interstellar
yang mendadak menjadi buah bibir itu? Film yang bias antara Sains atau Pseudosains. Setelah menonton film
yang di sutradarai oleh Christopher Nolan, banyak yang komentar , “Kok lubang
cacing bisa gitu? Terus kok lubang hitam seperti itu dan lain sebagainya”
Atau malah bikin cerita seperti mini seri di sebuah iklan aplikasi chating, sang sutradara platonic yang melupakan
Mamet. Saat Cinta mengejar Rangga di bandara menggunakan mobil Mamet.
Boleh jadi Mamet seperti cabai dalam mie instant, setelah mie, telor dan daun sawi habis di halap, cabai di lupakan dan kemudian di tinggalkan di pinggir mangkok dan tersisih.
Apakah kisah supri akan di biarkan seperti ini, istilah kerennya tidak bisa move on.
Boleh jadi Mamet seperti cabai dalam mie instant, setelah mie, telor dan daun sawi habis di halap, cabai di lupakan dan kemudian di tinggalkan di pinggir mangkok dan tersisih.
Apakah kisah supri akan di biarkan seperti ini, istilah kerennya tidak bisa move on.
Namun tidak bisa move
on juga tak buruk-buruk amat, tidak ada bedanya dengan kita…. Bangun pagi buta
seperti zombie, bekerja di depan monitor delapan jam/malah lebih, 5 hari dalam
satu minggu, demi upah yang akan habis dengan segera, lalu mengulang-ulang
sampai tua renta…..OH DEAR!!!
Ah biarkan…kita
lihat saja nanti.
*Bung, kisahmu dengan %$%^@#& *bekep lambene*
*Tolong, jangan sebut namanya disini. Sekali
kamu sebut, maka dunia kegelapan akan menyeret jiwamu dan melahapmu seperti black hole dengan kekuatan gravitasi mahadahsyat yang tak terhingga...tanpa ampun.
*Hlah memangnya dia itu Voldemort atau sejenis apa?
*Bukan sih…ah entahlah…
*Ingat Bung, jangankan cuma dunia kegelapan,
tembok dengan cat putih dan mahal sekalipun, punya bayangan yang paling gelap.
*Coba matiin lampunya, pasti semua gelap.
*Masih ada lentera bung….
*dialog imajiner* :p
No comments:
Post a Comment