Saturday, November 15, 2014

Semangkok Mi Instan


The greatest tragedy in mankind’s entire history may be the hijacking morality by religion.  ~ Arthur C. Clrake.

Dalam benak saya, siang itu seharusnya saya belajar ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Seharusnya belajar mengenai hubungan manusia dengan manusia dan pelbagai permasalahannya. Nyatanya tidak seperti itu, saya di hadapkan dengan sebuah “orasi”, yang mana hal tersebut membawa kembali ingatan saya pada jaman di mana saya gemar sekali beradu argumen tentang Transenden dan Imanen.  Meskipun mengganggu telingga saya, namun akan lebih bijak buat saya sendiri untuk diam dan mendengarkan saja.

Kata (Dia yang namanya tak boleh disebut disini), “gw orangnya oportunis kan ya…jadi...”. okay, cukup segitu saja kata yang diambil. Ya memang ada benarnya, saya harus pandai meletakkan posisi saya sebagai apa dan siapa. Dalam hal di atas, saya menjadi kerbau saja, iya dan manggut-manggut, dari pada nilai saya jelek atau malah tiduk lulus...HIH. Meskipun seharusnya tidak ada apapun atau siapapun di dunia ini kebal kritik…tapi sudahlah, kali ini saya setuju dengan Dia yang namanya tak boleh disebut disini.


Saya pernah membaca sebuah artikel di the citizen daily, di tuliskan bahwa moralitas manusia tidak hanya sebatas karena takut akan hukuman setelah mati atau seberapa banyak berkah yang akan diterima setelah mati. Dalam otak manusia terdapat Sirkuit altruisme dan neuron cermin, yang mana membantu manusia untuk mempunyai moralitas. Manusia berbuat baik bahkan rela mengorbankan dirinya untuk membantu orang di sebabkan oleh Sirkuit altruism dan manusia mampu merasakan kesedihan yang di derita orang lain sehingga munculah rasa empati yang di timbulkan oleh Neuron cermin.

Jadi moralitas tidak ada sangkut pautnya dengan sosok yang sangat di sakralkan, jika untuk berbuat baik masih butuh sosok tersebut, ya silahkan…, Namun alangkah baiknya untuk tidak "semena-mena" dalam menilai moralitas seseorang, yang memang orang tersebut tidak percaya pada sosok yang di sakralkan.
Bukankah berbuat baik tanpa embel-embel pamrih kehidupan setelah mati itu lebih baik? atau jika tidak ingin di perlakukan tidak baik maka janganlah menjahati orang lain, begitu sederhana bukan.
Semacam anekdot menggelitik jika membicarakan moralitas, sebaiknya di telusuri dahulu sejarah moralitas dari jaman purba sampai dengan jaman yang gila ini. Moralitas terus berkembang dan bisa jadi berbeda-beda di suatu wilayah dengan wilayah lainya.

Lots of things happen after you die, They just don’t involve you. ~ Louis C.K.


***********

Akhir-akhir ini budaya pop menghasilkan kata-kata bijak, dengan mengibaratkan hidup ini dengan apapun, “hidup ini bagaikan bla…bla…bla”,
ada juga yang bilang, “hidup ini seperti bla…bla..bla”,
lalu ada yang berkata, “hidup ini seperti bla…bla..bla” dan lain sebagainya.

 Versi saya yaa…hidup itu seperti kicauan burung perkutut “pLer ketekuk…p’Leeer ketekuk kuk”.

Dan sebenarnya saya di minta untuk melanjutkan cerita-ceritaan, kisah asmara melankoli masokis antara supri dan evi (catatan: melankoli masokis buat supri).
Namun saya tidak melihat perkembangan kisah mereka, malah kisah mereka makin menghilang dan kalah pamor dengan kisah kebahagian Tama dengan si hidung pinokio. Hih

Saya di sarankan juga untuk melanjutkan dengan kisah fiksi, namun saya masih harus memikir-mikir hal itu, apakah harus seperti film Interstellar yang mendadak menjadi buah bibir itu? Film yang bias antara Sains atau Pseudosains. Setelah menonton film yang di sutradarai oleh Christopher Nolan, banyak yang komentar , “Kok lubang cacing bisa gitu? Terus kok lubang hitam seperti itu dan lain sebagainya”

Atau malah bikin cerita seperti mini seri di sebuah iklan aplikasi chating, sang sutradara platonic yang melupakan Mamet. Saat Cinta mengejar Rangga di bandara menggunakan mobil Mamet.
Boleh jadi Mamet seperti cabai dalam mie instant, setelah mie, telor dan daun sawi habis di halap, cabai di lupakan dan kemudian di tinggalkan di pinggir mangkok dan tersisih.
Apakah kisah supri akan di biarkan seperti ini, istilah kerennya tidak bisa move on.
Namun tidak bisa move on juga tak buruk-buruk amat, tidak ada bedanya dengan kita…. Bangun pagi buta seperti zombie, bekerja di depan monitor delapan jam/malah lebih, 5 hari dalam satu minggu, demi upah yang akan habis dengan segera, lalu mengulang-ulang sampai tua renta…..OH DEAR!!!

Ah biarkan…kita lihat saja nanti.



*Bung, kisahmu dengan %$%^@#& *bekep lambene*

*Tolong, jangan sebut namanya disini. Sekali kamu sebut, maka dunia kegelapan akan menyeret jiwamu dan melahapmu seperti black hole dengan kekuatan gravitasi mahadahsyat yang tak terhingga...tanpa ampun.

*Hlah memangnya dia itu Voldemort atau sejenis apa?

*Bukan sih…ah entahlah…

*Ingat Bung, jangankan cuma dunia kegelapan, tembok dengan cat putih dan mahal sekalipun, punya bayangan yang paling gelap.

*Coba matiin lampunya, pasti semua gelap.

*Masih ada lentera bung….

*dialog imajiner* :p

No comments:

Post a Comment