Bagian Satu.
Apa yang kamu hendak pesan
ketika berada di warung kopi? Kopi hitam mungkin? Atau dengan campuran seperti
Cappuccino, Latte atau Moka? Sudah barang tentu itu kesemua hanya perihal
selera. Tinggal pilih merk kopi yang ada di rendengan layaknya jemuran pakaian
dalam.
Tunggu jangan salah
sangka, ini warung kopi pinggir jalan, bukan kafe yang lengkap dengan
barista dan mesin peracik kopi, yang belakangan ini menjadi tempat favorit
berkumpulnya masyarakat khususnya kawula muda di kota-kota besar negeri ini.
Sudah semestinya semua hal
akan di bicarakan di warung kopi. Barangkali tentang pekerjaan, tentang
perjalanan, tentang kesukaran, tentang sepak bola, tetang buku-buku, tentang
trend hidup yang sedang ramai dan semua tetang keinginan-keinginan yang absurd.
Mang, kopina’ hiji… kopi
nu biasa nya’.
Warung kopi pinggir
trotoar menyajikan kopi susu, kopi hitam sachet di campur dengan susu kental
manis. Aku selalu menambahkan sedikit gula pasir, karena aku sungguh paham
tentang persaan gula, ia akan cemburu jika ia tidak di ikut sertakan dalam
racikan cangkir kopiku.
Setelah memesan, aku
menyeret bangku plastik, sedikit bergeser dari trotoar. Karena sore hari,
selain matahari yang mulai berpulang, pengendara motor Ibu Kota ini juga ikut
berhamburan pulang. Jam lima lebih dua puluh lima menit, jam yang pas untuk
menyaksikan fenomena mobil yang bergerak malas di jalan, dan pemotor yang
keranjingan di trotoar.
Aku punya kebiasaan aneh,
jika sudah duduk di bangku plastik dan menikmati kopi. Mungkin jika aku hidup
di jaman nabi, barangkali aku di anggkat jadi salah satu nabi atau paling tidak
manusia sucilah dan selalu di eluh-eluhkan. Kebiasaanku membayangkan mimpi
orang-orang yang lalu-lalang ini, aku punya kemampuan untuk merangsak masuk ke
alam mimpi mereka, yaa benar... masuk ke alam mimpi manusia lain, tidak
percaya..? ya silahkan saja.
Sore itu di mulai dengan, mimpi seorang wanita paruh baya membuatku tersenyum geli. Ia bermimpi menjadi
tuan putri, lengkap dengan istana indahnya, tentu dengan dayang-dayang, juga
kereta kuda dan sang pangeran yang gagah perkasa, yang ternyata bukanlah
suaminya sekarang, mungkin pria idamannya sewaktu remaja dulu. hih...mimpi yang
aneh.
Adalagi perempuan muda
dan tukang ojek dengan jaket kucelnya, mereka terlihat akrab di atas sepeda
motor. Mereka lewat tepat di hadapanku, aku membayangkan mimpi dari kedua orang
ini sekaligus.
Sang perempuan bermimpi
tetang kredit mobil dari kantornya, supaya tidak usah repot-repot naik ojek
lagi, syukur-syukur segera naik gaji supaya bisa membayar supir, juga ia
bermimpi segera menemukan jodoh pria mapan. Seorang pria dengan pekerjaan yang
sudah setle, punya rumah di pinggiran Ibu Kota dan juga mempunyai sebuah
apartemen yang mungil dan lucu di tengah kota, yaah pokoknya impian setiap masyarakat
urbanlah.
Sedangkan tukang ojek
bermimpi…”kapan punya istri secantik ini, si eneng dirumah udah tidak bisa
merawat diri, kan kalau punya dua istri enak. Istriku satu bekerja, satu lagi
mengurus rumah dan anak-anak, jadi kalau saya ngojek tak perlu lama-lama, kan
salah satu istri punya penghasilan sendiri." Hahahaha mimpimu jek
ojek.
Kebanyakan mimpi-mimpi
mereka cuma sebatas, ingin bergelimang harta, berkuasa, ingin ini ingin itu,
mimpi yang sebatas kompetisi kelas sosial, mimpi-mimpi yang tak akan habis
sampai mati.
Namun ada kalanya aku
kesulitan dalam merangsak masuk ke mimpi orang-orang yang sudah manula, entah
kenapa sulit sekali menemukan mimpi-mimpi mereka. Dan sampai sekarang aku
belum menemukan jawaban pasti, hanya menerka-nerka, barangkali sudah bosan
dengan pengharapannya.
*nyeruput kopi
No comments:
Post a Comment