Sunday, November 16, 2014

Warung Kopi Pinggir Trotoar #1

Bagian Satu.


Apa yang kamu hendak pesan ketika berada di warung kopi? Kopi hitam mungkin? Atau dengan campuran seperti Cappuccino, Latte atau Moka? Sudah barang tentu itu kesemua hanya perihal selera. Tinggal pilih merk kopi yang ada di rendengan layaknya jemuran pakaian dalam. 
Tunggu jangan salah sangka, ini warung kopi pinggir jalan, bukan kafe yang lengkap dengan barista dan mesin peracik kopi, yang belakangan ini menjadi tempat favorit berkumpulnya masyarakat khususnya kawula muda di kota-kota besar negeri ini.

Sudah semestinya semua hal akan di bicarakan di warung kopi. Barangkali tentang pekerjaan, tentang perjalanan, tentang kesukaran, tentang sepak bola, tetang buku-buku, tentang trend hidup yang sedang ramai dan semua tetang keinginan-keinginan yang absurd.

Mang, kopina’ hiji… kopi nu biasa nya’.

Warung kopi pinggir trotoar menyajikan kopi susu, kopi hitam sachet di campur dengan susu kental manis. Aku selalu menambahkan sedikit gula pasir, karena aku sungguh paham tentang persaan gula, ia akan cemburu jika ia tidak di ikut sertakan dalam racikan cangkir kopiku.

Setelah memesan, aku menyeret bangku plastik, sedikit bergeser dari trotoar. Karena sore hari, selain matahari yang mulai berpulang, pengendara motor Ibu Kota ini juga ikut berhamburan pulang. Jam lima lebih dua puluh lima menit, jam yang pas untuk menyaksikan fenomena mobil yang bergerak malas di jalan, dan pemotor yang keranjingan di trotoar.

Aku punya kebiasaan aneh, jika sudah duduk di bangku plastik dan menikmati kopi. Mungkin jika aku hidup di jaman nabi, barangkali aku di anggkat jadi salah satu nabi atau paling tidak manusia sucilah dan selalu di eluh-eluhkan. Kebiasaanku membayangkan mimpi orang-orang yang lalu-lalang ini, aku punya kemampuan untuk merangsak masuk ke alam mimpi mereka, yaa benar... masuk ke alam mimpi manusia lain, tidak percaya..? ya silahkan saja.

Sore itu di mulai dengan, mimpi seorang wanita paruh baya membuatku tersenyum geli. Ia bermimpi menjadi tuan putri, lengkap dengan istana indahnya, tentu dengan dayang-dayang, juga kereta kuda dan sang pangeran yang gagah perkasa, yang ternyata bukanlah suaminya sekarang, mungkin pria idamannya sewaktu remaja dulu. hih...mimpi yang aneh.

Adalagi perempuan muda dan tukang ojek dengan jaket kucelnya, mereka terlihat akrab di atas sepeda motor. Mereka lewat tepat di hadapanku, aku membayangkan mimpi dari kedua orang ini sekaligus. 
Sang perempuan bermimpi tetang kredit mobil dari kantornya, supaya tidak usah repot-repot naik ojek lagi, syukur-syukur segera naik gaji supaya bisa membayar supir, juga ia bermimpi segera menemukan jodoh pria mapan. Seorang pria dengan pekerjaan yang sudah setle, punya rumah di pinggiran Ibu Kota dan juga mempunyai sebuah apartemen yang mungil dan lucu di tengah kota, yaah pokoknya impian setiap masyarakat urbanlah. 
Sedangkan tukang ojek bermimpi…”kapan punya istri secantik ini, si eneng dirumah udah tidak bisa merawat diri, kan kalau punya dua istri enak. Istriku satu bekerja, satu lagi mengurus rumah dan anak-anak, jadi kalau saya ngojek tak perlu lama-lama, kan salah satu istri punya penghasilan sendiri."  Hahahaha mimpimu jek ojek.

Kebanyakan mimpi-mimpi mereka cuma sebatas, ingin bergelimang harta, berkuasa, ingin ini ingin itu, mimpi yang sebatas kompetisi kelas sosial, mimpi-mimpi yang tak akan habis sampai mati.

Namun ada kalanya aku kesulitan dalam merangsak masuk ke mimpi orang-orang yang sudah manula, entah kenapa sulit sekali menemukan mimpi-mimpi mereka. Dan sampai sekarang aku belum menemukan jawaban pasti, hanya menerka-nerka, barangkali sudah bosan dengan pengharapannya.


*nyeruput kopi





No comments:

Post a Comment